Konten dari Pengguna

Siapa Saja yang Berisiko Menderita Jantung Koroner? Ini 10 Daftarnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi jantung. Foto: Unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi jantung. Foto: Unsplash.com

Jantung koroner merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini terjadi ketika pembuluh darah arteri koroner yang menyuplai darah ke otot jantung mengalami penyumbatan akibat penumpukan plak (aterosklerosis).

Penyakit jantung ini bisa berkembang secara perlahan dan sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, tetapi bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan tepat. Lalu, siapa saja yang berisiko menderita jantung koroner? Simak informasi selengkapnya di bawah ini.

Siapa Saja yang Berisiko Menderita Jantung Koroner?

Ilustrasi jantung. Foto: Unsplash.com

American Heart Association menjabarkan bahwa seseorang dapat menderita jantung konorer akibat dari gaya hidup tidak sehat, kondisi medis tertentu, atau bahkan riwayat keluarga.

Secara lebih rinci, berikut daftar orang yang berisiko menderita jantung koroner menurut Mayo Clinic:

1. Orang dengan Riwayat Keluarga Penderita Jantung

Faktor genetik berperan penting dalam risiko jantung koroner. Jika orang tua atau saudara kandung Anda memiliki riwayat penyakit jantung, terutama pada usia muda, risiko Anda akan lebih tinggi. Riwayat keluarga menjadi sinyal penting bahwa Anda perlu lebih waspada dan rutin memeriksakan jantung.

2. Perokok Aktif dan Pasif

Merokok adalah salah satu faktor risiko utama penyakit jantung koroner. Zat-zat kimia dalam rokok merusak dinding pembuluh darah, mempercepat penumpukan plak, dan mengurangi kadar oksigen dalam darah. Bahkan, perokok pasif atau orang yang sering terpapar asap rokok pun memiliki risiko serupa.

3. Penderita Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

Tekanan darah tinggi atau hipertensi dapat menyebabkan dinding arteri menjadi rusak dan mempercepat proses aterosklerosis. Jika tak dikontrol, hipertensi bisa menyebabkan jantung bekerja lebih keras dan meningkatkan risiko serangan jantung.

4. Penderita Diabetes Mellitus

Orang dengan diabetes, terutama yang tak terkontrol, berisiko dua hingga empat kali lebih tinggi terkena jantung koroner. Gula darah tinggi yang berlangsung lama dapat merusak pembuluh darah dan saraf yang mengontrol jantung.

5. Orang dengan Kolesterol Tinggi

Kolesterol jahat (LDL) yang tinggi dapat menumpuk di dinding pembuluh darah dan membentuk plak yang menghambat aliran darah. Sebaliknya, kolesterol baik (HDL) yang rendah juga meningkatkan risiko jantung koroner karena tak cukup membantu menghilangkan kelebihan lemak dari darah.

Baca Juga: 6 Olahraga untuk Mencegah Penyakit Jantung yang Aman

6. Orang yang Kurang Aktivitas Fisik

Gaya hidup sendentari atau minim aktivitas fisik berkontribusi pada penambahan berat badan, peningkatan tekanan darah, dan kadar kolesterol tinggi. Orang yang jarang berolahraga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit jantung koroner.

7. Orang dengan Obesitas atau Kelebihan Berat Badan

Obesitas dapat menyebabkan berbagai gangguan metabolisme seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Lemak yang menumpuk di perut juga berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit jantung.

8. Individu dengan Pola Makan Tidak Sehat

Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, garam, dan gula dalam jangka panjang dapat memicu gangguan metabolik. Diet yang tak seimbang mempercepat penumpukan plak di arteri koroner.

9. Orang yang Sering Mengalami Stres Berlebihan

Stres kronis bisa memicu tekanan darah tinggi dan meningkatkan denyut jantung. Selain itu, stres juga sering dikaitkan dengan kebiasaan buruk seperti merokok, makan berlebihan, atau kurang tidur yang semuanya berkontribusi pada penyakit jantung.

10. Usia Lanjut

Risiko jantung koroner meningkat seiring bertambahnya usia. Pria di atas 45 tahun dan wanita di atas 55 tahun memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami penyempitan pembuluh darah jantung.

(NDA)