Cuti vs Sehat Bersama

Guru SMK Bakti Nusantara 666, Dosen Masoem University, Guru SMP Pasundan Rancaekek
Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pemerintah resmi memangkas libur dan cuti bersama akhir tahun 2020 sebanyak tiga hari. Keputusan ini diambil karena peningkatan kasus COVID-19 yang terjadi usai long weekend pada Oktober lalu. Dikutip dari kumparanNEWS, jumlah libur akhir tahun terbagi menjadi dua pekan.
Di antaranya adalah libur Natal termasuk Sabtu dan Minggu pada tanggal 24,25,26, dan 27. Kemudian, ada juga libur tahun baru pada 31 Desember sebagai pengganti libur Lebaran dan tanggal 1 Januari. Libur ini juga diikuti dengan libur Sabtu dan Minggu pada 2 dan 3 Januari.

Dipahami bersama jika maksud dari pengurangan cuti bersama ini adalah untuk mencegah adanya lonjakan positif COVID-19. Imbauannya adalah apabila tidak memiliki kepentingan mendesak, diharapkan para ASN, keluarga, dan masyarakat tidak berpergian agar tidak tertular COVID-19 dan menciptakan klaster baru.
Namun, jika memiliki kepentingan mendesak, agar tetap menerapkan protokol kesehatan dengan ketat, menjalankan 3M, termasuk menghindari kerumunan.
Pandemi COVID-19 memaksa Indonesia harus menghadapi, mencegah, dan melawan penyebaran COVID-19 tersebut, untuk itu Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dan kebijakan. Sampai dengan saat ini tanda-tanda berhentinya penyebaran virus covid19 ini belum menemukan solusi tepat, bahkan beberapa prediksi puncak pandemi pun gagal total dan lebih banyak beberapa daerah kembali mengalami kenaikan juga klaster baru.
Fenomena kenaikan terpapar COVID-19 yang terjadi di tengah masyarakat ini terjadi bukan karena ketidaktahuan. Hampir semua paham tentang protokol kesehatan yang telah ditetapkan, beragam Informasi tentang hal ini sudah sangat gencar disampaikan dengan berbagai cara.
Terlepas dari kondisi kebijakan yang sudah diterapkan saat ini, kesadaran menjadi faktor utama kita saat ini untuk bagaimana kita untuk selalu menjaga disiplin protokol kesehatan dan istiqomah untuk Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Pola hidup bersih dan sehat sebenarnya sudah diimbau sejak lama, namun kebiasaan ini baru benar-benar diterapkan sejak pandemi COVID-19 terjadi.
Hal lainnya adalah menunda wisata berlibur atau jika berlibur harus dengan protokol kesehatan ketat, dan Lonjakan kasus corona usai long weekend pada akhir Oktober lalu membuat pemerintah belajar dan masyarakat pun harus belajar. Harapannya kebijakan pengurangan cuti bersama ini bisa menekan pergerakan warga secara masif untuk liburan.
Apresiasi dan niat baik untuk mengurangi konsep cuti bersama yang patut dihargai, paling tidak pemerintah bersedia menekan kemungkinan penduduk secara masif bepergian. Kebijakan tersebut pun kemungkinan bisa tidak efektif dalam menekan penyebaran virus Covid19 dan bisa mencegah warga berlibur karena masih tersisa 8 hari libur yang terbagi di 2 pekan.
Keniscayaannya menjadi kunci utama adalah disiplin mengikuti protokol kesehatan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengajak semua lapisan masyarakat untuk bersama-sama disiplin melaksanakannya.
Maka, sebetulnya sebagian besar masyarakat tahu bahwa yang dilakukan menimbulkan potensi kemudaratan baik terhadap dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Namun, mengapa justru kemudian banyak yang melanggarnya.
Kebiasaan 4 M; Mencuci Tangan, Mengenakan masker, Menjaga Jarak fisik (physical distancing) dan Menghindari Kerumunan/ jaga jarak sosial (social distancing), pada awalnya ditaati. Tapi ketika sebagian besar orang kemudian mengabaikannya, maka yang bertahan menjalankannya menjadi nampak asing. Di sinilah kedisiplinan dan konsistensi masyarakat sedang diuji.
Nyatanya situasi pandemi yang terjadi saat ini mengajarkan tiga hal penting, yaitu disiplin, konsistensi, dan kepedulian. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata konsisten dan disiplin memiliki arti yang sama, berarti taat asas, taat peraturan. Pada praktiknya kata disiplin lebih mengarah pada perilaku, sementara konsisten lebih kepada sikap mental. Kedua hal baik ini yang jika dibiasakan, akan menjadi budaya dan karakter mulia.
Setiap keluarga, semua lembaga bahkan negara pun mengharap dan memperjuangkan bagian dari pendidikan karakter ini. Namun sayangnya, kini sebagian masyarakat telah kehilangan sikap disiplin dan konsisten tersebut. Inkonsistensi dan indisipliner tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Selain karakter disiplin dan karakter, adalah jiwa peduli terhadap sekitar serta sadar akan kepentingan bersama juga dibutuhkan dalam situasi pandemi yang menimbulkan dampak kesehatan serta ekonomi yang juga dialami sebagian besar negara di dunia.
Alhasil, apabila kedisiplinan, Karakter dan Kepedulian tersebut dapat terus dijalankan, upaya pengendalian penyebaran COVID-19 akan jauh lebih mudah dilaksanakan sekaligus mengurangi dampak-dampak lain yang ditimbulkannya.
Keniscayaannya disiplin, konsistensi dan kepedulian menerapkan protokol kesehatan, pola hidup bersih dan sehat (PHBS), dan Menunda Wisata Liburan adalah Solusi Paling Teramat Sangat Baik Sekali.
Mengutip kembali kalimat yang sempat populer, "Mau PSBB seribu tahun pun tak akan bisa menghentikan penularan Covid-19 jika tak konsisten menerapkan protokol kesehatan".
Jadi jangan bosan-bosan menjaga kesehatan diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai.
Oleh :
Asep Totoh - Dosen Ma'soem University, Kepala HRD Yayasan Pendidikan Bakti Nusantara 666
