Kebahagiaan Menyambut Ramadhan di Tengah Pandemi COVID-19

Guru SMK Bakti Nusantara 666, Dosen Masoem University, Guru SMP Pasundan Rancaekek
Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Surat Al Baqarah ayat 183 tentang Puasa Ramadhan
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
DUA hari menjelang bulan ramadhan, di tengah-tengah situasi pandemi COVID-19 dengan penuh kerinduan dan kebahagiaan kita sambut kehadiran bulan yang di dalamnya memiliki banyak kemuliaan, keutamaan, dan berkah pada bulan ramadhan.
Ramadhan tahun ini pun kembali terasa berbeda, seperti mengulang kembali tahun 2020 sebelumnya. Pandemi COVID-19 yang tak mau kunjung sirna dari muak bumi ini menjadikan pembeda kembali, nuansa ngabuburit ala anak muda tidak lagi terlihat di sudut-sudut kota.
Kegiatan atau acara “bukber” yang biasanya dimeriahkan oleh para remaja tidak lagi dijumpai, prokes pun menyebabkan shaf-shaf yang berdiri tegak, rapat dan lurus di masjid-masjid dan musala tidak lagi terlihat seperti sedia kala. Bahkan tradisi “sahur keliling” yang biasanya terdengar hiruk pikuk dengan tabuhan kentongannya tidak lagi terdengar.
Begitu pun pemerintah sudah mengeluarkan larangan mudik bagi masyarakat Indonesia, semua kebijakan tersebut semata-mata adalah untuk mencegah dan mengendalikan penularan virus COVID-19 agar cepat bisa dihilangkan dari muka bumi ini.
Walau dilanda pandemi, namun tetap menjadi salah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira dengan akan datangnya bulan ramadhan. Bagaimana kita tidak bahagia, bukankah ramadhan dibangun atas tiga hal, yaitu:
Pertama, puasa ramadhan adalah perintah Allah sebagai wujud kasih sayang-Nya. Dalam Q.S. Al-Baqarah: 183 disebutkan bahwa orang-orang yang beriman diperintah dengan kalimat “kutiba” (diwajibkan) “kutiba ‘alaikumush shiyam”. Sementara dalam Q.S. Al-An’am: 54, Allah menyatakan diri dengan kalimat “kataba” (telah mewajibkan) “kataba robbukum ‘ala nafsihi ar rohmah”, yaitu telah mewajibkan Allah atas dirinya bersifat rahmat (kasih sayang). Artinya, puasa ini tidak lain adalah kasih sayang Allah SWT pada umatnya.
Kedua, puasa ramadhan sebagai pembersih jiwa. Allah SWT akan mengampuni segala dosa orang-orang Islam yang berpuasa karena penuh keimanan dan mengharapkan keridaan-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist “man shoma romadhona imanan wahtisaban ghufiro lahu maa taqaddama min dzanbih” (HR. Bukhori-Muslim).
Ketiga, Allah SWT menjanjikan rezeki. Sesuatu yang ditakuti apalagi di era pandemi ini adalah sulitnya penghidupan. Namun pada bulan ini, rezeki orang-orang beriman akan bertambah karena segala kemudahan dibuka oleh Allah dengan seluas-luasnya.
Menyambut bulan ramadhan dengan bahagia adalah sebagai ciri-ciri orang yang diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT. Ramadhan adalah cara Allah SWT untuk kembali mengangkat derajat kita, sehingga kita semua yang memiliki banyak dosa dan kesalahan di bulan ramadhan ini menjadi waktunya untuk memperbaiki diri kembali menjadi hamba-Nya.
Senyatanya, kegiatan ramadhan dalam keadaan wabah virus corona, paling utama adalah jika di bulan penuh ampunan ini kita semua melakukan tobatan atas semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. Jadikanlah kesempatan ramadhan tahun ini sebagai sarana untuk meraih maghfirah Allah SWT. Sehingga kita berharap menjadi hamba yang suci dari dosa. Sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya : “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.(HR.Bukhari dan Muslim).
Mari sambut dengan suka cita bulan ramadhan ini yang juga disebut dengan bulan syahrun mubarak, hal ini adalah berdasarkan pada dalil hadis Nabi Rasulullah SAW yang artinya: "Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian..” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi). Paling istimewa adalah ketika setiap ibadah yang dilakukan di bulan ramadhan, maka Allah akan melipat gandakan pahalanya.
“Marhaban ya Ramadhan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita semua untuk beribadah dalam bulan suci nanti”. Semoga ramadhan tahun ini akan lebih baik dalam hal amalan ibadah daripada tahun-tahun sebelumnya.
Aamiin… Amiin.
**Asep Totoh - Dosen Ma'soem University, Kepala HRD Yayasan Pendidikan Bakti Nusantara 666 Cileunyi KAb. Bandung.
