News
·
14 Juni 2021 5:31
·
waktu baca 5 menit

Opsi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Konten ini diproduksi oleh Asep Totoh
Sebelumnya, Kementerian Pendidikan, Kebudayan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUDdikdasmen) di Masa Pandemi COVID-19.
ADVERTISEMENT
Panduan ini dihadirkan sebagai tindaklanjut dari Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri, yaknis Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Menteri Kesehatan (Menkes), Menteri Agama (Menag), dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri).
Pihak Kemendikbudristek tetap berpegang teguh pada rencana pembukaan sekolah secara tatap muka Juli 2021 setelah vaksinasi guru dan tenaga kependidikan di tuntaskan. Namun, sebagian masyarakat menilai jika Pembelajaran secara Tatap Muka (PTM) sebenarnya masih belum ideal untuk saat ini. Kebijakan seharusnya dikembalikan pada pemerintah daerah, khususnya yang telah siap terpenuhinya syarat inidkator ideal pembelajaran luar jaringan.
Tidak heran kalau banyak msayarakat khawatir jika kembali di gelar PTM, menjadi pertimbangan jika tinggiya lonjakan kasus terutama kesiapan sistem kesehatan di setiap daerah. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan beberapa pertimbangan jika akan memutuskan PTM seperti temuan adanya varian baru Covid-19, Ketercapaian target imunisasi dewasa, dan positive rate di Indonesia yang masih diatas 5 persen.
ADVERTISEMENT
Bak buah simalakama, di tengah-tengah dilematis keinginan dilaksanakannya PTM di sekolah. Kekhawatiran pun kembali bertambah jika memperhatikan perkembangan kasus Covid-19 usai ramadhan dan libur Idul Fitri.
Data update informasi Covid-19 positif 1,911,358, sembuh 1,745,091 dan meninggal 52,879. Walaupun hampir 91,3% jumlah orang yang sembuh, pasca libur Idul Fitri diberitakan terjadi peningkatan kasus Covid 19 harian terkonfirmasi, keterpakaian tempat tidur isolasi dan ICU di rumahsakit.
Empat provinsi di Pulau Jawa mengalami peningkatan kasus Covid-19, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Temuan kenaikan kasus yang terjadi misalnya sejumlah daerah di Jawa Barat mengalami peningkatan kasus harian bahkan status beberapa wilayah ada yang masuk zona hitam.
Upadate informasi Covid-19 di Jawa Barat mengalami kenaikan 49% kasus dalam 10 hari pertama Juni 2021, per 1 Juni 2021 tercatat sebanyak 892 kasus, sedangkan per 10 Juni 2021 tercatat menjadi 1.334 kasus. Penambahan kasus harian pada 12 Juni 2021 sebesar 876 kasus harian.
ADVERTISEMENT
Keputusan PTM ini memang sudah ditunggu-tunggu oleh semua orang tua murid yang sudah menginginkan anak mereka belajar di sekolah. Hampir setahun setengah memaksa pembelajaran harus secara daring, ada banyak dijumpai kendala di lapangan misalnya kurangnya anak memahami pelajaran dengan baik dan menjadi cenderung tergantung dengan orang tua. Sementara itu, tantangan selanjutnya yang cukup besar ialah bagaimana ketika orangtua kembali bekerja dan anak-anak masih belajar di rumah.
Evaluasi dan penangganan segera dari dampak Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini tidak bisa dibantahkan, tingginya angka putus sekolah dan potensi penurunan kualitas pendidikan anak usia sekolah karena tidak tercapainya target kurikulum. Kemendikbud Ristek pun telah menguji efektivitas PJJ, kualitas tenaga pendidik, peserta didik dan proses pembelajarannya.
ADVERTISEMENT
Senyatanya harus diakui jika metode daring yang selama ini diterapkan belum mampu menjawab semua kebutuhan belajar siswa, ditambah dengan keterbatasan tenaga didik dalam melakukan pengayaan materi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi digital.
Risiko lainnya sekolah dengan daring yang mengharuskan anak untuk lebih sering menggunakan gadget dapat menjadi ketergantungan dan berakibat negatif pada kesehatan mata dan psikis mereka. Pun hal lainnya yang tidak kalah serius dari semakin berlarutnya PJJ adalah mempengaruhi pola sosialisasi anak, yang cenderung menjadi lebih pendiam, tertutup dan susah bersosialisasi dengan orang baru.
Sampai dengan saat ini pihak kemendikbudristek atau pihak pemerintah pun tidak mengetahui kapan pandemi ini akan berakhir. Pemberlakuan beberapa ketentuan dalam pemberian kebijakan tatap muka pun apakah bisa menjawab apa yang dibutuhkan oleh peserta didik dan tenaga didik dalam mendapatkan pendidikan yang berkualitas di tengah pandemi sebenarnya.
ADVERTISEMENT
Pihak kemendikbudristek pun menyatakan jika orang tua memiliki hak mutlak menentukan apakah anaknya sudah boleh ikut sekolah tatap muka. Pilihan tersebut menjadi hak prerogatif orang tua untuk memilih anaknya mau PTM atau PJJ.
Harus dipahami pula jika pembelajaran dengan metode daring itu tidak  sepenuhnya buruk, namun mengenai kualitas sebuah pembelajaran itulah yang sejatinya perlu menjadi perhatian dari pemerintah. Artinya metode boleh saja berubah, akan tetapi substansinya harus tetap sama.
Adalah inovasi sebagai kunci utama yang dibutuhkan saat ini dalam menuntaskan sebuah persoalan dunia pendidikan di masa krisis pandemi, tantangan nyata pihak Kemendikbudristek harus melakukan sejumlah inovasi baru untuk menuntaskan sebuah persoalan pendidikan di tengah pandemi.
Paling segera dilakukan adalah mendorong peningkatan kualitas tenaga didik melalui sejumlah pelatihan, perombakan kurikulum serta pemilahan beberapa mata pelajaran yang baik dengan menggunakan metode daring atau pun yang akan hanya maksimal ketika disampaikan dengan tatap muka.
ADVERTISEMENT
Tuntutannya bagaimana para guru bisa memilah yang pelajaran ini lebih mudah untuk dipahami, pelajaran ini lebih susah. Maka bisa dipisahkan yang lebih mudah dipahami itu dilaksanakan secara online dan yang lebih susah secara tatap muka.
Apresiasi pada guru-guru yang kini sudah mulai kreatif dalam menyuguhkan konten pembelajaran. Kreativitas tersebut diharapkan bisa menghasilkan konten belajar yang bermutu bagi para peserta didik. Namun demikian, ada pendidikan karakter, pembiasaan baik, praktek, keterampilan, yang mungkin tidak akan ditemukan saat PJJ.
Artinya, kondisi ini memberikan pembelajaran bahwa peran guru tak tergantikan dalam pendidikan tatap muka. Senyatanya kehadiran guru secara fisik dan kontak dengan siswa, harus tetap ada untuk pembinaan karakter dan kedisiplinan. Harus diakui, ada kebiasaan-kebiasaan baik yang tidak bisa dipisahkan dari kehadiran guru.
Opsi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (91134)
searchPerbesar
Sejumlah siswa mengenakan masker dan menerapkan jaga jarak soial (social distancing) mengikuti kegiatan belajar tatap muka di Bekasi, Rabu (24/3). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Keniscayaannya jika setahun lebih PJJ saat pandemi, kita harus sudah punya formulasi yang tepat untuk menjalankan sistem pembelajaran online yang baik. Sebuah persoalan mendasar yang dengannya sebuah pendidikan dapat berjalan sebagaimana mestinya serta hasil yang sesuai dengan harapan sekalipun di tengah situasi krisis.
ADVERTISEMENT
Sisi lainnya, pembelajaran yang disampaikan secara penuh di kelas konvensional sebenarnya tidak lagi relevan untuk kebutuhan masa depan dalam menyiapkan lulusan untuk menghadapi jenis pekerjaan baru dan ilmu pengetahuan tidak cukup hanya ditransformasikan di dalam kelas-kelas pertemuan.
Alhasil, dengan sebuah optimisme jika harus PTM terbatas maka sekolah pun harus aman bagi guru, siswa dan semua warga sekolah. Jelaslah aspek kesehatan dan keselamatan siswa dan para guru lebih utama dari hanya sekedar untuk masuk sekolah, semoga PTM bisa dilaksanakan dengan aman, nyaman, tenang, dan tanpa rasa waswas..Aamiin.
** Asep Totoh - Dosen Ma’soem University, Kepala HRD Yayasan Bakti Nusantara 666 Cileunyi.