Tiongkok Menua, Indonesia Jangan Sampai Jadi Remaja Jompo

Awang Riyadi adalah penulis independen yang menaruh perhatian pada isu geopolitik, energi, ekonomi, dan strategi pembangunan.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Awang Riyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalimat itu pernah dilontarkan Presiden Prabowo Subianto. Terdengar percaya diri, bahkan sedikit menantang, seolah Indonesia siap masuk ke panggung utama. Namun bangun tidur tidak pernah sesederhana itu. Tubuh belum sepenuhnya siap, ritme belum terbentuk, dan tenaga belum stabil. Masalahnya, banyak negara bangun—tapi tidak semua benar-benar siap berdiri. Dalam banyak hal, kondisi itulah yang justru menggambarkan posisi Indonesia hari ini.
Di saat yang sama, dunia tidak sedang menunggu. Tiongkok justru menghadapi sesuatu yang dulu dianggap sebagai kelemahan: penuaan penduduk. Sejak sekitar 2015, jumlah tenaga kerja Tiongkok mulai menurun, sementara proporsi penduduk usia 60 tahun ke atas terus meningkat dan diperkirakan melampaui 300 juta orang dalam dekade ini. Dalam teori klasik, kondisi seperti ini seharusnya menjadi titik awal pelemahan.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tiongkok tidak bertahan pada model lama, melainkan mengubah arah. Investasi besar-besaran dalam otomatisasi, manufaktur canggih, dan teknologi membuat produktivitas tetap terjaga meski tenaga kerja menyusut. Tiongkok mulai meninggalkan ketergantungan pada tenaga kerja murah dan beralih ke efisiensi. Dengan cara ini, ia tidak kehilangan kekuatan, melainkan mengubah bentuknya. Di titik ini muncul paradoks yang sulit diabaikan: negara yang menua justru semakin efisien, sementara negara yang masih muda belum tentu siap menjadi kuat.
Ruang yang Terbuka, tapi Tidak Pernah Kosong
Perubahan di Tiongkok memang membuka ruang dalam peta industri global. Strategi China Plus One mendorong perusahaan global untuk mendiversifikasi produksi, terutama setelah gangguan rantai pasok global pada periode 2020–2022. Indonesia menjadi salah satu tujuan yang dilirik, bersama Vietnam dan India.
Namun realitasnya tidak sesederhana itu. Yang berpindah bukan keseluruhan kekuatan industri, melainkan bagian paling bawah dari rantai produksi. Sementara itu, teknologi, desain, dan kendali tetap berada di pusat yang sama. Dunia tidak benar-benar meninggalkan Tiongkok, melainkan hanya memindahkan bagian yang paling mudah digantikan.
Artinya, ruang memang terbuka, tetapi tidak pernah benar-benar kosong. Ia tetap berada dalam struktur global yang sudah terbentuk, sehingga negara yang masuk tanpa strategi berisiko hanya menempati posisi yang sudah ditentukan.
Indonesia: Besar, tapi Belum Tentu Kuat
Dalam konteks ini, Indonesia masuk dengan optimisme tinggi. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan sekitar 70 persen berada di usia produktif, bonus demografi sering disebut sebagai kekuatan utama hingga setidaknya awal 2030-an. Secara teori, ini adalah modal besar untuk mendorong industrialisasi.
Namun jumlah tidak otomatis menjadi kekuatan. Kita sering bangga pada jumlah, padahal dunia tidak pernah memberi nilai pada sekadar banyak. Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan beberapa negara di kawasan, dan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB justru cenderung menurun dari kisaran 30 persen pada awal 2000-an menjadi sekitar 18–19 persen dalam beberapa tahun terakhir.
Di sinilah konsep “remaja jompo” menjadi relevan. Ekonomi terlihat besar, tetapi belum memiliki fondasi industri yang kuat. Bergerak cepat, tetapi mudah kehilangan tenaga. Tumbuh, tetapi tidak sepenuhnya menguat. Kita terlihat besar di angka, tapi sering terasa kecil di kemampuan. Yang lebih berbahaya, kondisi ini sering tidak terasa sebagai masalah karena terlihat seperti kemajuan.
Ambisi Hilirisasi dan Ujian di Karawang
Keinginan untuk tidak sekadar menjual "tanah dan air" sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari cita-cita pembangunan Indonesia. Sejak awal kemerdekaan, gagasan untuk mengolah sumber daya di dalam negeri sudah menjadi arah yang diinginkan. Dalam satu dekade terakhir, arah ini kembali menguat melalui kebijakan hilirisasi, terutama sejak larangan ekspor bijih nikel pada 2020.
Hilirisasi mendorong investasi besar ke sektor pengolahan. Dalam beberapa tahun terakhir, nilai investasi di sektor ini melonjak, dan Indonesia menjadi salah satu produsen nikel olahan terbesar di dunia. Namun hilirisasi bukan tujuan akhir, melainkan tahap awal dari proses industrialisasi yang lebih dalam.
Hal ini terlihat dalam pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik di Karawang yang diresmikan Presiden Prabowo akhir Juni tahun lalu. Proyek ini merupakan bagian dari investasi terintegrasi senilai sekitar US$5,9–6 miliar, dengan kapasitas awal produksi baterai sekitar 6,9 GWh per tahun yang ditargetkan meningkat hingga 15 GWh. Secara teori, kapasitas ini dapat mendukung produksi ratusan ribu kendaraan listrik setiap tahunnya.
Dari luar, ini terlihat seperti lompatan besar. Namun dari dalam, belum tentu semua yang menopangnya ikut naik. Dalam konteks global, proyek seperti ini juga merupakan bagian dari pergeseran produksi akibat strategi China Plus One. Aktivitas industri memang berpindah, tetapi kendali atas teknologi dan inovasi belum tentu ikut berpindah.
Karawang dengan demikian menjadi ujian nyata. Ia bisa menjadi fondasi bagi penguatan industri nasional, tetapi juga bisa berhenti sebagai fasilitas produksi dalam sistem global. Perbedaannya tidak terlihat dari besarnya investasi, tetapi dari siapa yang benar-benar menguasai nilai.
Masalah yang Tidak Terlihat sebagai Masalah
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan industrialisasi. Dalam beberapa tahun terakhir, investasi asing langsung terus meningkat dan sektor industri pengolahan menjadi salah satu penyumbang utama. Dari luar, semua tampak bergerak ke arah yang benar.
Namun di balik itu, ada persoalan yang lebih dalam. Industrialisasi berjalan cepat, tetapi tidak selalu diikuti oleh peningkatan kapasitas yang setara. Produksi meningkat, tetapi penguasaan teknologi belum tentu berkembang. Tenaga kerja terserap, tetapi tidak selalu naik kelas.
Kondisi ini menciptakan bentuk kemajuan yang rapuh. Ia tidak terlihat sebagai kegagalan, tetapi juga belum cukup kuat untuk menjadi fondasi jangka panjang. Justru karena terlihat berhasil, dorongan untuk memperbaiki sering melemah. Dan mungkin inilah yang paling berbahaya: kita tidak merasa tertinggal, justru karena kita merasa sudah cukup maju.
Di titik ini, risiko terbesar muncul. Keberhasilan yang terasa cukup dapat menjadi alasan untuk berhenti memperdalam perubahan, sehingga proses yang seharusnya memperkuat ekonomi justru berhenti di tengah jalan.
Kesempatan yang Bisa Menipu
Ketika Tiongkok menua, dunia tidak kehilangan kekuatan, melainkan mengalami perubahan bentuk. Pergeseran ini membuka peluang bagi negara lain, termasuk Indonesia. Namun peluang tidak pernah datang dalam bentuk yang sederhana, karena sering kali disertai dengan ilusi.
Indonesia memiliki banyak prasyarat untuk bangkit, mulai dari tenaga kerja, sumber daya, hingga momentum global. Namun semua itu tidak otomatis menjadi kekuatan. Tanpa arah yang jelas dan konsistensi dalam membangun kapasitas, potensi besar dapat berubah menjadi kemajuan yang semu.
Dalam ekonomi global saat ini, yang menentukan bukan sekadar siapa yang memiliki kesempatan, tetapi siapa yang mampu menguasainya. Karena pada akhirnya, peluang terbesar tidak hilang karena tidak ada, melainkan karena disalahartikan sebagai sesuatu yang sudah dimiliki.
Karena yang paling sering terjadi bukan kita kehilangan peluang, tetapi kita salah mengenali kapan peluang itu benar-benar datang.
