Konten dari Pengguna

Krisis Energi Berpotensi Sebabkan Perang Dunia III

Azis Saputra

Azis Saputra

Renewable Energy Engineer

·waktu baca 5 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azis Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Personel militer Ukraina ambil bagian dalam latihan perang di wilayah Zhytomyr pada 21 November 2018. (AFP/SERGEI SUPINSKY)
zoom-in-whitePerbesar
Personel militer Ukraina ambil bagian dalam latihan perang di wilayah Zhytomyr pada 21 November 2018. (AFP/SERGEI SUPINSKY)

Akhir-akhir ini sosial media dipenuhi dengan berita mengenai konflik Rusia dan Ukraina. Berita ketegangan kedua negara ini tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali Indonesia. Dampak yang ditimbulkan pun tidak main-main. Mulai dari turunnya index harga saham dunia. Hingga adanya potensi terjadinya Perang Dunia III jika keadaan semakin memburuk.

Tapi sebelum kita lebih jauh membahas permasalah ini, sebenarnya apa yang menjadi penyebab konflik antar kedua negara tersebut? Benarkah krisis energi menjadi salah satu faktor penyebab? Mari kita bahas sama-sama.

Kita mulai dari Rusia. Rusia merupakan negara dengan wilayah terbesar di dunia. Rusia memiliki luas 17.125.200 kilometer persegi. Tak heran jika kita melihat peta dunia ataupun globe, peta Rusia sangatlah luas dibandingkan dengan negara lain. Rusia juga merupakan negara pecahan dari Uni Soviet. Bayang-bayang kekuasaan Uni Soviet yang memicu Perang Dunia II pun melekat pada Rusia. Dibandingkan 14 negara pecahan Uni Soviet lainnya. Rusia adalah negara yang memiliki kekuasaan dan pengaruh yang besar di mata dunia. Hingga sering disebut sebagai negara Adikuasa.

Negara Adikuasa adalah negara yang memiliki kekuatan militer dan ekonomi yang besar. Dalam waktu yang bersamaan, negara Adikuasa juga harus unggul dalam bidang IPTEK juga budaya. Sejatinya Rusia telah memiliki kekuatan militer yang besar. Memiliki anggaran militer sebesar US$ 47 miliar, persenjataan nuklir skala penuh, dan angkatan bersenjata terkuat di dunia. Terletak di timur Eropa dan utara Asia, Rusia juga memiliki kebudayaan yang kaya. Namun memang Rusia yang berada di posisi 11 PDB (Produk Domestik Bruto) belum memiliki pengaruh di bidang ekonomi yang besar seperti Amerika.

Pindah ke Ukraina, negara ini juga merupakan salah satu negara pecahan dari Uni Soviet. Berbatasan langsung dengan Rusia di bagian Timur dan Timur Laut. Bukanya melakukan kerja sama, Ukraina malah sekarang harus berkonflik dengan negara tetangganya tersebut. Warga negara ukraina dihadapi dengan dilema, antara bergabung dengan kekuatan Rusia atau ikut dalam kekuatan barat bersama Amerika dan Uni-Eropa.

Pada dasarnya, konflik kedua negara yang sudah berlangsung lama ini disebabkan oleh perebutan Semenanjung Krimea. Bergeser ke tahun 2013, Viktor Yanukovych, presiden Ukraina pada masa itu yang pro terhadap Rusia membuat menolak kerja sama dengan Uni-Eropa. Hal ini membuat perpecahan warga Ukraina yang pro Rusia dan pro Uni-Eropa. Ditambah wacana Ukraina yang ingin bergabung dengan kekuatan militer NATO semakin membuat posisi Rusia terancam hingga terjadilah konflik hari ini.

Namun benarkah ada faktor krisis energi yang mengambil andil dalam terjadinya konflik ini?

Jawabannya benar. Seperti negara-negara lainnya, sektor energi juga menjadi sektor yang sangat vital bagi Ukraina. Terlebih Ukraina merupakan negara dengan konsumsi gas terbesar ke-4 di Eropa. Kondisi ini diperburuk dengan ketergantungan Ukraina terhadap impor energi dari Rusia. Oleh karena itu, krisis energi menjadi salah satu pemicu terjadinya konflik yang berpotensi menyebabkan Perang Dunia III.

Data menunjukkan bahwa 100% impor gas alam Ukraina pada tahun 2008 hingga 2012 berasal dari Rusia. Hingga terjadinya konflik pada tahun 2013 membuat angka tersebut turun. 38% Konsumsi energi Ukraina digunakan untuk sektor industri, 31% rumahan, dan 16% untuk keperluan transportasi. Untuk mencukupi kebutuhan ini, pemerintah mulai menyusun strategi dalam sektor energi pasca krisis energi imbas konflik Rusia.

Beruntungnya, Ukraina masih memiliki potensi dalam renewable energy atau energi terbarukan untuk mencukupi kebutuhan listrik domestik. Mulai dari hydroelectric, wind turbine, hingga solar power. Potensi hydroelectric Ukraina mencapai 10 MW. Sementara dari wind turbine memiliki potensi sebesar 24 GW. Tak hanya itu, energi matahari juga menyimpan potensi yang besar, yaitu 1400 kWh.

Potensi energi matahari yang besar ini berada di wilayah Krimea dan Odessa. Kedua wilayah ini berbatasan langsung dengan laut mati. Oleh karena itulah, paparan cahaya matahari di wilayah tersebut menyimpan potensi yang sangat besar. Hal ini dapat menjawab kebutuhan energi listrik Ukraina dan menyelamatkan negara dari krisis energi.

Namun berita buruknya Krimea adalah wilayah yang sedang diperebutkan bersama Rusia. Tentu Rusia tidak mau begitu saja melepaskan wilayah potensial ini ke tangan Ukraina. Terlebih lagi mayoritas penduduk Krimea menyatakan ingin bergabung bersama Rusia. Jika wilayah ini tidak berhasil dipertahankan oleh Ukraina, maka Ukraina akan kehilangan potensi energi yang sangat besar.

Inilah yang pada akhirnya membuat negara-negara besar seperti Amerika dan China pada akhirnya ikut turun tangan dalam konflik ini. Tidak hanya Krimea, Laut Hitam yang sangat berharga pun juga dipertaruhkan dalam konflik ini. Laut Hitam adalah penghubung antara negara yang menghasilkan energi dengan negara yang membutuhkan energi (konsumsi). Oleh karena itu, negara-negara berkepentingan geopolitik sangat tertarik pada perebutan wilayah konflik ini. Siapa pun yang menguasai Laut Hitam, maka dia akan memiliki kendali energi. Tidak main-main, jika kondisi ini semakin memburuk, bukan tidak mungkin sektor energi akan memicu terjadinya Perang Dunia III. Melihat Amerika (mendukung Ukraina) dan China (mendukung Rusia) sudah secara terang-terangan menyatakan dukungannya.

Kita sebagai warga Dunia dan Indonesia hanya dapat berdoa agar hal tersebut tidak benar-benar terjadi. Berkaca dari masalah ini, mari kita lebih serius lagi dalam transisi energi. Sekali lagi kita diingatkan bahwa sektor energi adalah jantung dari sebuah negara. Maka dari itu, mari kita percepat pengembangan dan penggunaan EBT (Energi Baru Terbarukan) untuk Indonesia yang lebih baik lagi.