Konten dari Pengguna

Belajar Meluruhkan Ego dari Ki Ageng Suryomentaram Di Tengah Kegaduhan Global

Bagus Nur Alim

Bagus Nur Alim

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ego yang semakin memanas dan perlu diluruhkan. Photo by Moose Photos.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ego yang semakin memanas dan perlu diluruhkan. Photo by Moose Photos.

Belajar meluruhkan ego menjadi begitu krusial pada situasi global yang makin memanas, makin gaduh. Dunia tengah menyaksikan eskalasi konflik di Timur Tengah. Dengan segala argumentasi pembenaran, semua pihak merasa berhak untuk ikut andil dalam kegaduhan yang terjadi. Semua merasa terancam, merasa bertahan, tapi saling bersikap agresif.

Eskalasi konflik tidak hanya menyasar pada Timur Tengah secara nyata, melainkan juga menyasar pada ruang digital. Situasi ini tidak begitu kondusif dan justru menciptakan kegaduhan. Untuk melihat lebih jauh, maka perlu mengupas lebih dalam akar kegaduhan tersebut. Bagaimana cara manusia menanggapi kegaduhan yang muncul? Apakah kita harus ikut andil atau justru menutup mata?

Saya akan berikan gambaran dari dua tokoh yang memiliki kisah relevan yaitu Ki Ageng Suryomentaram dan Al-Ghazali. Keduanya adalah orang yang berpengaruh dan menghadapi persoalan yang sama, yaitu sumber penderitaan, sumber kegaduhan, yang berasal dari dalam hati. Maka dari itu, ada upaya spiritual untuk menaggapi hal tersebut. Langkah dari kedua tokoh ini dapat menjadi alternatif untuk meminimalisir kegaduhan yang terjadi secara global, khususnya di Timur Tengah.

KI AGENG SURYOMENTARAM

Ki Ageng Suryomentaram atau dapat disebut KAS adalah tokoh Nusantara akhir abad ke-19. Beliau adalah seorang bangsawan Keraton Yogyakarta, salah seorang anak dari Sultan Hamengkubuwono VII. Di tengah kemewahan yang dimilikinya, justru berusaha ditinggalkan melalui jalan kontemplatif.

KAS melakukan perjalanan kontemplatif ketika suatu saat melihat para warga tetap bahagia walau hidupnya begitu sederhana. Pada akhirnya beliau meninggalkan istana dan menjadi orang biasa, mulai dari menjadi tukang jahit, gali sumur, dan semacamnya. Dalam perjalanannya ia menemukan konsep kebahagiaan yang ditulis dalam Kawruh Begja. Salah satu konsep yang ditemukan lainnya adalah Kramadangsa.

Pada perjalanannya, KAS menyadari bahwa segala bentuk penderitaan bermula dari dirinya sendiri. Beliau merasa bahwa banyak atribut yang dilekatkan pada "aku", itu yang disebut sebagai Kramadangsa. Salah satu keputusannya untuk meninggalkan Keraton adalah untuk membebaskan diri dari unsur Kramadangsa tersebut.

Al-Ghazali

Al-Ghazali adalah tokoh fenomenal abad ke-11 diantara dengan hadirnya kitab Ihya Ulumuddin. Beliau hidup di Baghdad memiliki karir intelektual yang membanggakan. Beliau dipercaya menjadi Guru Besar di Madrasah Nizhamiyyah. Selain itu juga, beliau mendapatkan julukan sebagai Hujjatul Islam.

Secara kedudukan, Al-Ghazali telah mendapatkan puncak karir dan kehidupan ideal bagi banyak orang. Namun justru pada posisi tersebut beliau merasakan krisis spiritual. Hal tersebut yang membuatnya meninggalkan jabatan kehormatannya.

Pada masa krisis spiritual, Al-Ghazali justru meninggalkan semua harta dan jabatan yang dimiliki di Baghdad. Beliau memilih mengasingkan diri dan berkelana menjadi seorang sufi. Perjalanan suci tersebut difokuskan untuk membersihkan hati dan kontemplasi.

Pada perjalanannya beliau menekankan bahwa hubb al-jah wa nafs atau cinta pada jabatan dan hawa nafsu begitu berbahaya. Keduanya saling terkait dan menghasilkan dampak yang negatif sehingga perlu dihindarkan. Dengan cinta pada jabatan, kita akan berambisi untuk mendapatkan hal tersebut bagaimanapun caranya. Sedangkan hawa nafsu adalah ambisi untuk melakukan apapun yang diinginkan tanpa mempertimbangan konsekuensi lain.

RELEVANSI

Sejauh ini kita dapat melihat bersama bahwa kehidupan dua tokoh di zaman yang berbeda memiliki tindakan solutif yang tidak jauh berbeda. secara latar belakang, Ki Ageng Suryomentaram dan Al-Ghazali memiliki kedudukan yang cukup penting yang justru mereka tinggalkan. Hal ini dipicu karena keduanya sama-sama melihat bahwa ada bahaya yang mengancam yaitu dari sebuah ego (dalam istilah KAS: Kramadangsa dan Al-Ghazali: hubb al-jah wa nafs).

Kedua tokoh tersebut telah memperingatkan bahwa begitu bahaya sebuah ego individu. Kita bayangkan jika ego individu ini berkumpul dengan ego individu lainnya dan menjadi ego kolektif. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa mungkin saja lahir sebuah kegaduhan global. Kegaduhan yang dipicu dari rasa takut kehilangan terhadap dominasi, kepentingan, dan semacamnya.

Ilustrasi berdamai dengan ego dan menciptakan kedamaian dalam kesunyian. Photo by Hassan OUAJBIR.

Maka dari itu, sebelum menjadi pemimpin bagi banyak individu, kita perlu menumbuhkan kejernihan terlebih dahulu (bukan sekadar kekuatan). Pada dasarnya sumber kedamaian adalah peluruhan ego sedangkan bahan bakar kegaduhan adalah ego.