Mengupas Pembenaran pada Konflik Dunia (AS dan Israel vs Iran)

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap konflik yang kita saksikan hingga saat ini berdiri dengan segala pembenaran. Tidak ada satupun negara yang berkonflik dengan alasan ego dan keserakahan. Tidak ada negara yang secara terbuka berkata, "Kami berperang karena ego." Semua negara yang bergelut dengan suatu konflik justru berkata sebaliknya. Semua berbicara atas nama keamanan nasional, stabilitas global, ataupun pertahanan diri.
Jika ditarik lebih mendasar, semua pembenaran semata-mata hanya ungkapan diplomatik. Apabila ungkapan diplomatik disingkirkan terlebih dahulu, maka kita akan melihat ada sebuah perasaan terancam, takut kehilangan, ingin diakui, sampai enggan dipermalukan. Sifat tersebut sangat familiar pada tataran ego individu, namun permasalahannya konflik ini tidak berasal dari individu.
Ego individu hanya membahas soal keakuan baik diriku, tubuhku, keluargaku, dan kehormatanku. Dalam konteks negara, kita bisa golongkan sebuah ego kolektif karena berdasarkan pada wilayahku, kepentinganku, dan martabat bangsaku. Ego yang meleburkan "aku" menjadi "kami".
Tanpa keberpihakan, perlahan kita kupas pembenaran dari konflik yang muncul antara AS dan Israel vs Iran. Salah satu negara telah melakukan penyerangan dengan justifikasi "mencegah ancaman". Negara lain melakukan pembalasan dengan alasan "mempertahankan diri". Negara yang mengecam berdiri atas argumen "stabilitas global".
Semua negara merasa benar, merasa terancam, dan merasa defensif. Secara objektif, tidak mungkin semua argumentasi itu benar sekaligus. Jika satu merasa terancam, maka salah satu ada yang berperan sebagai pengancam. Jika tidak ada ancaman, maka tidak ada yang mengancam. permasalahannya jika semua merasa terancam, siapa yang mengancam?
Pada konteks ini, landasan tidak lagi berkerja secara faktual dan objektif. Setiap pembenaran bekerja pada ranah persepsi. Persepsi yang dibentuk oleh rasa kepemilikan alias keakuan atau dapat disimplikasi sebagai ego (sebagaimana di atas). Ego yang berakar secara kolektif sehingga kepemilikan yang dimaksud terhadap identitas, kekuasaan, dan wilayah otoriter.
Selama negara-negara memelihara keakuan kolektif dengan berdiri pada perasaan harus menang, harus lebih unggul, dan tidak boleh kehilangan pengaruh, maka konflik akan terus terbakar dengan alasan yang variatif. Ancaman seringkali sebatas interpretasi semu, bukan faktual. Ketakutan terhadap ancaman seringkali tidak disadari justru membenarkan segala bentuk konflik dan permusuhan.
