Konten Media Partner

Persib Dihukum, Pemkot Bandung Kehilangan Ratusan Juta

BandungKiwari

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Persib Dihukum, Pemkot Bandung Kehilangan Ratusan Juta
zoom-in-whitePerbesar

Kepala Dispora Kota Bandung, Dodi Ridwansyah. (Utara Jaya)

BANDUNG, bandungkiwari - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung ikut kebagian imbas dari sanksi yang diberikan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) kepada tim Persib. Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bandung kehilangan pendapatan mencapai ratusan juta rupiah.

Kepala Dispora Kota Bandung, Dodi Ridwansyah mengungkapkan hilangnya potensi pendapatan tersebut lantaran tim Persib tak lagi menggunakan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) semenjak dijatuhi sanksi awal Oktober lalu. Sebab, Supardi dan kolega harus menjalani hukuman menggelar laga kandang di luar Pulau Jawa.

"Kan mulai tidak dipakai pada saat persib melawan Madura. Sekarang sudah lawan Persebaya, udah sekitar empat kali main kalau enggak salah. Itu saja kita sudah kehilangan 360 juta," kata Dodi.

Dodi mengutarakan bahwa selama ini pendapatan utama untuk membiayai pemeliharaan Stadion GBLA bersumber dari tim Persib. Dalam satu bulan, sambung dia, apabila sedang bergulir Liga Indonesia maka pihaknya bakal mendapatkan pemasukan tak kurang dari Rp200 juta rupiah.

Biaya tersebut menurutnya untuk pemakaian sebagai kandang Persib dan menggelar beberapa kali latihan. Maka dalam satu musim kompetisi Dispora Kota Bandung bisa mendapat pemasukan sekitar Rp2,4 miliar rupiah.

"Pendapatan itu Persib sebulan dua kali mereka bayar Rp90 juta jadi Rp180 juta, tinggal kali setahun berapa. Itu pertandingan, kalau latihan itu beda. Katakanlah dalam sebulan terima oleh kami dari persib Rp200 juta latihan dan pertandingan," bebernya.

Diungkapkan Dodi, biaya operasional dan pemeliharaan Stadion GBLA per tahun bisa menghabiskan anggaran mencapai Rp5 miliar. Biaya tersebut meliputi pemeliharaan sarana dan prasarana, kualitas rumput, serta biaya gaji petugas yang semuanya dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

"Listrik Rp100 juta, rumput Rp30 juta perbulan Rp360. Lain-lain tidak besar setahun hanya kita anggarkan Rp100 juta. Kalau kalkulasi 1,5-an (miliar) per tahun untuk GBLA. Kebersihan dan keamanan itu outsourching kurang lebih 1 orang Rp2-3jt, 50 orang Rp150 juta per bulan untuk upah kali 12 bulan Rp1,8 miliar. 1,8+1,2 jadi Rp4 kisarannya sampai Rp5 miliah keamanan kebersihan listrik dan rumput," bebernya.

Sekalipun memerlukan anggaran besar untuk pemeliharaan, namun Dodi menegaskan bahwa Stadion GBLA tidak disewakan untuk kepentingan umum di luar sepak bola atau olahraga. Salah satu pertimbangan utamanya yakni demi mempertahankan kualitas rumput lapangan.

"Kan tidak seimbang antara retribusi yang dikeluarkan dengan perawatan. Kedua itu kan rumput asli ada daya tahan, sehari paling sekali dipakai, selang dua hari. Kalau rumput sintetis 24 jam tidak apa-apa. Tapi kalau rumput asli digunakan bukan untuk profesional ini kan resiko, maka kita punya sikap seeprti itu. Kalau rumput rusak biaya perawatan lumayandan kasihan ke Persib kalau mau bertanding atau latihan," katanya. (Utara Jaya)