3 Hal yang Bikin Gibran Rakabuming Kesal dan Tinggalkan Mobil Dinas
ยทwaktu baca 3 menit

SOLO-Anak sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming menjabat sebagai Wali Kota Solo sejak Februari lalu. Dia dilantik usai memenangkan pemilihan kepala daerah yang digelar pada Desember tahun lalu.
Selama beberapa bulan menjabat, Gibran memperlihatkan kerja kerasnya, terutama dalam penanganan pandemi COVID-19. Salah satunya dengan capaian vaksinasi di Kota Solo yang termasuk tertinggi di Jawa Tengah.
Gibran juga beberapa kali memperlihatkan kekesalannya saat terjadi peristiwa yang menurutnya tidak beres. Kekesalan itu diekspresikan dengan cara yang unik dan tidak lazim.
Dalam beberapa peristiwa, dia memperlihatkan rasa kesalnya dengan meninggalkan mobil dinasnya di tempat-tempat yang dianggapnya bermasalah. Tercatat, Gibran telah 4 kali melakukan hal tersebut.
Awalnya, Gibran enggan mengungkap alasannya melakukan kebiasaan itu. Namun, belakangan dia membeberkannya juga.
"Sebagai sebuah teguran," kata Gibran Rakabuming saat ditemui di salah satu Sekolah Dasar di Nusukan yang dianggapnya tidak beres, Selasa (09/11/2021). Di tempat tersebut Gibran juga melakukan hal serupa, meninggalkan mobil dinas di halaman SD tersebut.
Lantas, apa saja peristiwa yang pernah membuat Gibran marah dan meninggalkan mobil dinasnya?
Pungli
Kasus pungutan liar alias pungli mencoreng wajah Pemkot Solo, tiga bulan setelah Gibran Rakabuming dilantik sebagai Wali Kota Solo, tepatnya pada Mei menjelang lebaran lalu.
Saat itu sejumlah anggota Linmas Kelurahan Gajahan mengutip uang kepada para pengusaha dan pemilik toko di lingkungan kelurahan tersebut. Mereka menggunakan kedok zakat dan sedekah untuk kutipan itu.
Demi memperlancar aksinya, mereka membawa surat edaran yang ditandatangani lurah setempat.
Kasus yang mencuat di media sosial itu membuat Gibran meradang. Dia langsung mencopot Lurah Gajahan yang menandatangani surat tersebut. Dia juga mengembalikan uang yang dikutip oleh Linmas kepada para pengusaha dan pemilik toko.
Dalam kasus tersebut, mobil dinas Gibran Rakabuming yang berpelat nomor AD 1 A terlihat terparkir di kantor Kelurahan Gajahan hingga beberapa hari.
Intoleransi
Belasan nisan di TPU Cemara Kembar, Kelurahan Mojo, dirusak pada Juni lalu. Semua nisan yang rusak memiliki ornamen berupa tanda salib.
Dalam pemeriksaan, pelakunya adalah siswa sebuah Kuttab, semacam lembaga belajar agama nonformal yang berada di sekitar makam tersebut.
Hal tersebut membuat isu intoleransi mencuat selama beberapa hari.
Gibran Rakabuming langsung meminta agar Kuttab yang belum berizin itu ditutup. Kasus tersebut juga ditangani oleh kepolisian.
Hanya saja, lantaran pelakunya merupakan anak-anak seusia SD, kasus itu ditangani dengan restorative justice.
Dalam kasus itu Gibran juga meninggalkan mobil dinasnya di lapangan yang berada di dekat makam hingga beberapa hari.
Pelanggaran Protokol Kesehatan
Gibran Rakabuming tercatat telah 2 kali kesal hingga meninggalkan mobil dinasnya lantaran pelanggaran protokol kesehatan. Dua kasus tersebut semuanya terjadi di sekolah.
Pada Agustus lalu, SMK Batik 2 Solo membuat edaran kepada wali murid bahwa mereka akan memulai pembelajaran tatap muka (PTM). Padahal, saat itu Kota Solo masih berstatus PPKM Level 4.
Surat edaran itu ternyata sampai ke tangan Gibran Rakabuming. Dia lalu memarkir mobilnya di jalan depan sekolah dan meninggalkannya begitu saja hingga beberapa hari.
Sekolah tersebut lantas membatalkan rencananya untuk menggelar PTM.
Terakhir, Gibran melakukan hal yang sama pada Selasa (09/11/2021). Dia menggelar inspeksi di sebuah SD di kawasan Nusukan.
Di sekolah itu dia melihat di sebuah kelas terdapat guru dan siswa yang tidak mengenakan masker. Kondisi itu membuatnya kesal hingga meninggalkan mobil dinasnya di sekolah itu.
Wajar jika pelanggaran protokol kesehatan di sekolah membuatnya meradang. Pada Oktober lalu, terdapat 9 sekolah di Kota Solo yang terpaksa menghentikan PTM lantaran para siswa dan gurunya terpapar COVID-19.
(Tara Wahyu)
