Konten Media Partner

Ngamuk saat Hajatan Dibubarkan, Kades di Sragen Akhirnya Minta Maaf

Bengawan Newsverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala Desa Jenar, Samto (berkaos merah) membuat surat permintaan maaf di Polres Sragen
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Desa Jenar, Samto (berkaos merah) membuat surat permintaan maaf di Polres Sragen

SRAGEN-Kepala Desa Jenar, Samto akhirnya menyatakan permintaan maaf di Polres Sragen lantaran mengamuk saat petugas membubarkan acara hajatan. Sebelumnya, Samto juga meminta maaf lantaran memasang baliho yang menghujat pemerintah yang menerapkan PPKM Darurat.

Samto membuat surat permintaan maaf itu pada Minggu (18/07/2021). "Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pemerintah, khususnya pemerintah Kabupaten Sragen dan masyarakat Sragen," katanya.

embed from external kumparan

Menurut Samto, permintaan maaf itu dibuat lantaran selama ini dia tidak mendukung kebijakan pemerintah yang menerapkan PPKM Darurat. Hal itu disebabkan karena dia sempat tidak percaya dengan COVID-19.

Saat ini, dia telah percaya dengan adanya COID-19 dan siap mendukung pemerintah dalam menekan penularan wabah. "Saya siap untuk dituntut secara pidana jika mengulangi lagi di kemudian hari," katanya.

Sedangkan Kapolres Sragen, AKBP Yuswanto Ardi mengatakan masalah itu sudah selesai dengan permintaan maaf yang telah dibuat Samto.

"Saya sudah berbincang empat mata, ternyata selama ini dia kurang mendapatkan informasi yang akurat mengenai COVID-19," katanya.

embed from external kumparan

Selanjutnya, Samto sudah menyatakan kesiapannya untuk membantu pemerintah dan kepolisian untuk melakukan sosialisasi mengenai pentingnya menjalankan protokol kesehatan bagi warganya.

Pada Jum'at lalu, (16/07/2021), tim Satgas Penanganan COVID-19 Kecamatan Jenar membubarkan sebuah kegiatan hajatan pernikahan di rumah salah satu warga. Samto yang hadir dalam hajatan itu mengamuk lantaran tidak terima acara itu dibubarkan.

Kepala desa itu mengekspresikan kemarahannya dengan menggulingkan meja yang berisi makanan dan minuman ke hadapan petugas.

Sebelumnya, Samto juga membuat heboh dengan memasang baliho besar di desanya. Baliho itu berisi tulisan yang mengumpat pemerintah lantaran menerapkan PPKM Darurat yang dianggapnya menyengsarakan rakyat.

Dalam baliho itu dia menyebut kondisi masyarakat pada saat ini lebih sengsara dibanding pada zaman PKI. Sebelum mengamuk di hajatan, Samto juga sudah membuat surat permintaan maaf di Polres Sragen lantaran membuat baliho itu.

(Tara Wahyu)