Konten Media Partner

Saat Luka-luka Bocah Sukoharjo yang Diduga Dianiaya Kakak Sepupu Dicurigai Guru

Bengawan Newsverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah guru TK Aisyiyah, Kartasura menangis saat berada di rumah korban UF di Ngabeyan, Sukoharjo. FOTO: Agung Santoso
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah guru TK Aisyiyah, Kartasura menangis saat berada di rumah korban UF di Ngabeyan, Sukoharjo. FOTO: Agung Santoso

SUKOHARJO - Bocah perempuan asal Desa Ngabeyan, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, UF (7), meninggal usai diduga dianiaya kakak sepupunya J (18).

Korban meninggal dengan sejumlah luka lebam di tubuhnya, Selasa (12/4/2022).

Kematian UF pun menyisakan duka mendalam bagi para guru TK Aisyiyah, Kartasura. Sebab selama menjadi murid TK tersebut, UF dikenal ceria.

“Salah satu guru kelas A bahkan sampai menangis menjerit-jerit, saat mendengar kabar Dila (panggilan akrab korban) meninggal dunia,” tutur Kepala Sekolah TK Aisyiah, Rusmiyati Hidayah.

embed from external kumparan

Rusmiyati dan sejumlah guru lain akhirnya mendatangi rumah UF di Dukuh Blateran, RT 01 RW 02, kemarin.

Saat tiba di rumah korban, mereka pun melihat banyak polisi dan tetangga di lokasi tersebut.

Rusmiyati lantas ini teringat pertemuannya dengan UF di sekolah, beberapa saat menjelang kematian korban.

“Setelah seminggu tidak masuk, saat pembelajaran saya lihat ada lebam di tangan dan pipinya,” ungkap dia.

Ia pun menanyakan penyebab luka tersebut kepada korban, usai pembelajaran. Menurut Rusmiyati, UF menjawab jika luka itu diakibatkan pukulan kayu oleh kakaknya, J (18).

Korban mengatakan, ia dipukul kakak sepupu sekaligus kakak angkatnya itu lantaran dianggap nakal dan susah diatur.

Curiga melihat luka di tangan dan pipi UF, Rusmiyati lantas meminta korban melepas bajunya. Ia pun terkejut usai mendapati luka lain di beberapa bagian tubuh UF.

“Bahkan kaki kanannya sampai bengkak dan jalannya diseret. Tidak bisa digunakan memakai sepatu maupun sandal.”

embed from external kumparan

Was-was dengan kondisi anak didiknya, Rusmiyati lantas menanyakan aktivitas keseharian UF. Sebab setahunya, korban selalu berjalan kaki pulang sekolah bersama temannya, lantaran rumahnya dekat.

“Saat itu ia mengatakan kalau dijemput kakaknya (J) naik motor. Saya langsung panggil kakaknya saat menjemput, untuk menanyakan yang terjadi pada adiknya ini,” jelasnya.

Rusmiyati lalu melarang J mengulangi perbuatannya. Ia juga menekankan kepada J, jika aksi tersebut bisa membuatnya dipidana.

“Rencana kami mau bertemu kakak perempuannya, untuk membahas kondisi ini. Tapi yang terjadi, (UF) meninggal dunia malamnya,” ungkapnya.

Meninggalnya UF akibat dugaan penganiayaan oleh kakak angkatnya ini, tidak disangka guru-guru korban.

“Kami sempat mengira terjatuh, tak tahunya mendapat pemukulan,” kata Risti dan Agustin, guru TK Aisyiyah, Kartasura.

(Agung Santoso)