Konten dari Pengguna

Loan to Value: Pengertian, Faktor yang Memengaruhi, dan Manfaatnya

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi loan to value. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi loan to value. Foto: Pexels

Loan to value adalah istilah yang merujuk pada rasio antara jumlah pinjaman dari bank dengan nilai aset atau properti yang dijaminkan.

Bank Indonesia (BI) menetapkan kebijakan loan to value (LTV) untuk mengatur besaran pinjaman yang dapat diberikan, dengan tujuan menjaga stabilitas sistem keuangan.

Rasio loan to value ini biasanya berbeda-beda tergantung jenis properti dan kebijakan tiap bank. Untuk lebih memahami topik seputar loan to value, simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Pengaruh Loan to Value

Ilustrasi loan to value. Foto: Pexels

Mengutip buku Bank dan Lembaga Keuangan karya Anis Fuad Salam, dkk., loan to value memiliki dampak signifikan terhadap kemampuan debitur dalam mengajukan kredit.

Semakin rendah rasio loan to value, semakin besar uang muka yang harus disiapkan debitur. Sebaliknya, rasio loan to value yang tinggi memudahkan debitur mendapatkan pinjaman dengan uang muka lebih kecil, tetapi risiko cicilan yang lebih besar.

Misalnya, kebijakan loan to value 100% memungkinkan pembelian properti tanpa uang muka. Namun, ini juga meningkatkan risiko gagal bayar karena cicilan yang lebih besar.

Oleh karena itu, Bank Indonesia mengatur batasan loan to value untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan stabilitas ekonomi.

Baca Juga: Apa Itu Bank Garansi? Ini Pengertian dan Jenis-jenisnya

Faktor yang Memengaruhi Loan to Value

Ilustrasi loan to value. Foto: Pexels

Berdasarkan informasi yang dituliskan dalam buku Kredit Bank Umum karangan Dr. A. Wangsawidjaja Z., S.H., M.H., berikut faktor yang dapat memengaruhi rasio loan to value.

1. Jenis Aset

Properti komersial biasanya memiliki loan to value yang lebih rendah dibandingkan properti residensial karena risiko yang lebih tinggi.

2. Lokasi Aset

Lokasi properti memengaruhi nilai jaminan. Properti di daerah strategis cenderung memiliki loan to value yang lebih tinggi.

3. Kebijakan Bank Indonesia

Bank Indonesia secara berkala mengatur batasan loan to value untuk menyesuaikan kondisi ekonomi, misalnya, untuk mengendalikan inflasi atau mendorong pertumbuhan kredit.

4. Kondisi Keuangan Debitur

Profil keuangan debitur, seperti pendapatan dan riwayat kredit, juga memengaruhi loan to value yang disetujui oleh bank.

Manfaat Loan to Value

Ilustrasi loan to value. Foto: Pexels

Ada beragam manfaat yang bisa dirasakan pihak bank dari menerapkan loan to value. Beberapa manfaat loan to value, di antaranya sebagai berikut:

1. Mengatur Risiko Kredit

Loan to value membantu bank mengelola risiko kredit dengan memastikan pinjaman tidak melebihi nilai aset yang dijaminkan. Rasio ini menjadi ukuran keamanan bagi bank jika terjadi gagal bayar.

2. Membantu Debitur Mengelola Keuangan

Dengan adanya batasan loan to value, debitur lebih terdorong untuk menyediakan uang muka yang lebih besar, sehingga mengurangi beban cicilan bulanan.

3. Meningkatkan Stabilitas Ekonomi

Kebijakan Loan to value yang ketat membantu mencegah lonjakan kredit macet (non-performing loans) dan menjaga stabilitas ekonomi, terutama di sektor properti.

(NDA)