Konten dari Pengguna

Stasiun Karet Ditutup sampai Kapan? Ini Penjelasannya

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi membahas Stasiun Karet ditutup sampai kapan. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi membahas Stasiun Karet ditutup sampai kapan. Foto: Pexels

Stasiun Karet ditutup sampai kapan, menjadi pertanyaan yang kini berkembang di kalangan warga DKI Jakarta. Pasalnya, stasiun yang terletak di Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat ini menjadi lokasi naik dan turun penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line.

Penutupan layanan di Stasiun Karet dilakukan sebagai langkah penataan ulang dan optimalisasi integrasi moda transportasi publik di kawasan tersebut. Langkah ini diambil guna meningkatkan efisiensi alur perjalanan pengguna KRL di koridor Jakarta Kota dan sekitarnya.

Stasiun Karet Ditutup sampai Kapan?

Ilustrasi memahami Stasiun Karet ditutup sampai kapan. Foto: Pexels

Daerah Operasi PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Daop 1 Jakarta bersama KAI Commuter, melakukan pekerjaan integrasi Stasiun Sudirman Baru/BNI City dengan Stasiun Karet mulai Selasa, 1 September 2026. Integrasi ini menjadi bagian dari peningkatan layanan KRL.

Direktur Utama KAI Commuter Purnomo Sidi mengatakan, pekerjaan proses integrasi ini akan dilakukan hingga akhir tahun 2026, tepatnya pada Kamis, 31 Desember 2026. Selama proses pengerjaan, layanan naik dan turun penumpang KRL dialihkan ke Stasiun Sudirman Baru/BNI City.

“Selama proses pekerjaan integrasi ini disiapkan dengan prinsip kehati-hatian, karena Stasiun Karet telah menjadi bagian dari aktivitas harian pengguna Commuter Line dan masyarakat sekitar stasiun,” kata Purnomo dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 29 Agustus 2026, seperti dikutip dari laman KAI Commuter.

Alasan Stasiun Karet Ditutup

Pada kesempatan yang sama, VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda mengungkapkan, bahwa proyek penggabungan fasilitas Stasiun BNI City dan Stasiun Karet bertujuan untuk menghadirkan kualitas layanan yang lebih optimal.

Ia menekankan penataan area tersebut juga mencakup pembenahan aksesibilitas di sisi Stasiun Karet dan area Terowongan Kendal. Lebih lanjut, dia menyebut pihaknya telah menyiapkan petugas lapangan dan berbagai sarana informasi demi membantu para penumpang.

Upaya tersebut mencakup penyediaan papan petunjuk arah, sosialisasi berkala, dan pengaturan alur pergerakan pengguna. Dia pun mengimbau seluruh pengguna KRL yang biasa beraktivitas di Stasiun Karet agar mulai menyesuaikan alur perjalanan di Stasiun BNI City.

“Selalu perhatikan informasi dan arahan dari petugas di stasiun selama masa proses pekerjaan integrasi ini,” ucap Karina.

Pengalihan Akses dan Layanan Penumpang KRL

Penumpang KRL yang dulunya memanfaatkan Stasiun Karet kini diarahkan melewati selasar khusus di samping stasiun untuk menuju Stasiun BNI City. Pihak pengelola telah memasang gerbang elektronik, loket, dan hall di area barat Stasiun BNI City yang tersambung dengan akses dari arah Karet.

Setiap harinya terdapat sekitar 264 perjalanan KRL rute Kampung Bandan atau Cikarang yang melintasi area Stasiun Karet dan Stasiun BNI City. Meskipun ada pengalihan ke Stasiun BNI City, jadwal dan pola perjalanan rute Cikarang dipastikan tidak mengalami perubahan.

Sementara itu, operasional Commuter Line Basoetta di Stasiun BNI City tetap berjalan normal tanpa gangguan selama pengerjaan proyek integrasi. Seluruh proses naik dan turun penumpang kereta bandara tersebut tetap menggunakan fasilitas layanan yang ada saat ini.

Volume Penumpang di Stasiun Karet dan Stasiun BNI City

Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Stasiun Karet tercatat melayani sebanyak 2.175.455 penumpang berangkat dan 2.127.155 penumpang tiba. Pada periode yang sama, Stasiun BNI City mencatat pergerakan 940.478 pengguna yang naik dan 662.808 pengguna yang turun.

Jika digabungkan, maka total aktivitas naik dan turun pengguna Commuter Line Jabodetabek di kedua lokasi tersebut mencapai 5.905.896 pergerakan. Angka ini mencerminkan tingginya mobilitas masyarakat yang mengandalkan moda transportasi kereta di kawasan tersebut.

Baca Juga: Peresmian LRT Kelapa Gading-Manggarai Ditunda sampai Kapan? Ini Penjelasannya

(MDP)