Adab Bertamu dalam Islam yang Penting Diamalkan Umat Muslim

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari raya Idul Fitri lekat dengan tradisi bertamu. Di mana umat Muslim akan mengunjungi tetangga, keluarga, hingga teman untuk saling maaf-memaafkan. Pada momen ini, penting untuk mengetahui adab bertamu dalam Islam guna menjaga keharmonisan antar sesama.
Bertamu adalah kegiatan mengunjungi kediaman seseorang dengan suatu maksud tertentu. Misalnya, menjenguk yang sedang sakit, bercengkrama, membicarakan masalah keluarga, maaf-memaafkan, dan lain sebagainya.
Dirangkum dalam buku Bunga Rampai Hadis Tematik: Tinjauan Hadis dalam Kehidupan Sosial karya Muhammad Alif dkk., tujuan utama bertamu dalam ajaran Islam, yakni menyambung tali silaturahmi. Baik dengan saudara senasab hingga seiman.
Sebelum mengunjungi saudara di hari Lebaran, ketahui dulu adab bertamu dalam Islam melalui ulasan berikut ini.
Adab Bertamu Menurut Islam yang Perlu Diketahui
Berdasarkan informasi dari buku Pelajaran Adab Islam 1 oleh Suhendri dan Ahmad Syukri dan buku Akidah Akhlak Madrasah Ibtidaiyah Kelas IV karya Fida’Abdilah dan Yusak Burhanudin, terdapat beberapa adab bertamu dalam Islam. Berikut adalah penjelasannya:
1. Menetapkan Niat untuk Bertamu
Sebelum berangkat, Anda harus menetapkan niat untuk bertamu terlebih dahulu. Pastikan niat tersebut bersifat positif. Ini akan mempengaruhi suasana dan kelanjutan hubungan kedua belah pihak.
2. Memilih Waktu Kunjungan yang Tepat
Meskipun berniat baik, tamu tidak bisa datang dengan sembarangan ke kediaman orang lain. Disarankan untuk memilih waktu kunjungan yang tepat agar tidak mengganggu tuan rumah.
Hindari bertamu setelah zuhur atau makan siang, setelah isya atau makan malam, dan sebelum subuh agar tidak mengganggu waktu istirahat dan kegiatan tuan rumah. Sebaiknya, kunjungi mereka sebelum isya.
Ada baiknya juga untuk menghubungi tuan rumah terlebih dahulu sebelum berkunjung agar mereka dapat bersiap sebelum tamu datang.
Baca Juga: Hadits Memuliakan Tamu dan Adabnya dalam Ajaran Islam
3. Mengucapkan Salam dan Meminta Izin
Hindari memanggil nama tuan rumah secara langsung ketika bertamu. Apabila sudah sampai di kediaman mereka, dianjurkan untuk memberikan salam dan meminta izin, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Hal ini juga dijelaskan dalam firman Allah dengan Surah An-Nur ayat 27, yang berbunyi:
Ya ayyuhallazina amanu la tadkhulu buyutan gaira buyutikum hatta tasta’nisu wa tusallimu ala ahliha, zalikum khairul lakum la-allakum tazakkarun.
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (QS. An-Nur [24]:27)
4. Meminta Izin Maksimal 3 Kali
Rasulullah SAW mengajarkan umat Muslim bahwa batasan meminta izin untuk bertemu adalah tiga kali. Hal ini disebutkan dalam hadist berikut:
Al isti’zanu salasu, fa’in azina laka wa illa farji
Artinya: Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah. (HR. Bukhari Muslim)
5. Posisi Berdiri Tidak Menghadap Langsung ke Pintu Masuk
Tidak dianjurkan bagi tamu untuk berdiri menghadap langsung ke pintu masuk. Hal ini untuk menghindari tamu melihat isi pemilik rumah sebelum diizinkan masuk. Ini juga berkaitan dengan hak pemilik rumah untuk mempersiapkan diri sebelum menyambut tamu.
Baca Juga: 9 Adab Menyambut Idul Fitri Menurut Imam Al Ghazali
6. Tidak Memberatkan Tuan Rumah
Hindari meminta hidangan apabila tidak ditawarkan karena itu dapat memberatkan tuan rumah. Namun jika santapan sudah disediakan dan dipersilahkan makan, tamu dapat menyantapnya. Jika hidangan sudah habis, tidak dianjurkan untuk meminta tambahan.
7. Tamu Harus Datang saat Diundang
Ketika diundang oleh pemilik rumah, tamu sebaiknya menyempatkan diri untuk datang pada waktunya. Namun jika ada halangan, tamu dapat mengabari tuan rumah.
Rasulullah shalalahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang diundang maka datanglah!” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
8. Tidak Membawa Orang Lain yang Tidak Diundang
Hindari membawa orang lain yang tidak diundang saat bertamu. Apabila ingin mengajak orang lain, dianjurkan untuk meminta izin kepada tuan rumah terlebih dahulu. Seperti dijelaskan dalam hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallah’anhu:
“Ada seorang laki-laki di kalangan Anshor yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia mempunyai seorang anak tukang daging. Kemudian ia berkata kepadanya, “Buatkan aku makanan yang dengannya aku bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah shalalahu’alaihi wa sallam. Kemudian, Rasulullah shalalahu’alaihi wa sallam mengundang empat orang yang orang kelimanya adalah beliau. Kemudian, ada seseorang yang mengikutinya. Maka, Rasulullah shalalahu’alaihi wa sallam berkata, “Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini mengikuti kami. Bilamana engkau ridho, izinkanlah ia! Bilamana tidak, aku akan meninggalkannya.” Kemudian, Abu Suaib berkata, “Aku telah mengizinkannya.””(HR. Bukhari)
9. Pulang Setelah Urusan Selesai
Apabila urusan telah selesai, tamu dianjurkan untuk segera pamit dan pulang. Dengan begitu, pemilik rumah dapat beristirahat atau melakukan aktivitas lainnya.
Baca Juga: Jawaban Ahlan Wa Sahlan Bagi Orang yang Datang Bertamu
(GTT)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan bertamu?

Apa yang dimaksud dengan bertamu?
Bertamu adalah kegiatan mengunjungi kediaman seseorang dengan suatu maksud tertentu.
Apa tujuan bertamu?

Apa tujuan bertamu?
Bertamu bertujuan untuk menyambung tali silaturahmi dengan saudara senasab hingga seiman.
