Apa Itu Topan Ragasa? Badai Dahsyat yang Mengguncang Asia

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa hari terakhir, cuaca ekstrem kembali menjadi sorotan di beberapa wilayah Asia. Salah satu penyebabnya adalah munculnya Topan Ragasa yang melanda wilayah China, Hong Kong, Taiwan, hingga Filipina.
Mengutip laman BMKG, badai ini tercatat sebagai topan super pertama dalam musim badai 2025. Angin kencang disertai hujan deras ini mempork-porandakan berbagai wilayah hingga memakan korban jiwa.
Dengan kekuatan angin cukup besar, keberadaan topan ini tentunya menimbulkan kekhawatiran di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Lantas, sebenarnya apa itu Topan Ragasa dan bagaimana potensi dampaknya bagi Indonesia? Mari simak penjelasan selengkapnya berikut ini.
Apa Itu Topan Ragasa?
Menurut BBC, nama Ragasa diambil dari bahasa Filipina yang berarti gerakan kuat, terburu-buru, atau bergulung. Istilah ini biasanya dipakai untuk menggambarkan derasnya aliran air atau arus banjir.
Berdasarkan data Observatorium Hong Kong, Topan Ragasa tercatat sebagai siklon tropis dengan kecepatan angin berkelanjutan sekitar 195 km/jam, dan sempat masuk kategori super topan.
Sebagaimana dikutip dari NASA Earth Observatory, badai ini mulai terbentuk di Samudra Pasifik Barat pada pertengahan September 2025. Puncaknya terjadi pada 22 September 2025, ketika Ragasa resmi dikategorikan sebagai super typhoon.
Dengan kecepatan angin maksimum satu menit mencapai 165 mph (265 km/jam), Ragasa digolongkan sebagai badai terkuat di dunia sepanjang tahun ini.
Diketahui, Ragasa pertama kali menghantam Luzon Utara, Filipina, dan memaksa ribuan warga untuk mengungsi. Badai ini juga menimbulkan banjir, tanah longsor, serta gelombang badai (storm surge) setinggi lebih dari 3 meter.
Selanjutnya, Ragasa bergerak menuju Taiwan, Hong Kong, dan daratan selatan Tiongkok, sehingga menjadi ancaman bagi sejumlah negara yang berada di kawasan regional.
Dampak Topan Ragasa di Indonesia
BMKG memastikan bahwa Topan Ragasa tidak akan masuk ke wilayah Indonesia. Karena pergerakannya cenderung mengarah ke utara dan barat, dampak utama Ragasa lebih dirasakan di Filipina serta perairan sekitarnya, bukan di daratan Indonesia.
Meski begitu, BMKG mengingatkan bahwa Indonesia tetap berpotensi terdampak secara tidak langsung, yakni berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah daerah.
Berdasarkan laporan Prospek Cuaca Mingguan Periode 23 – 29 September 2025 susunan BMKG, beberapa wilayah perlu lebih waspada dengan kondisi ini. Daerah Kalimantan, Maluku Utara, dan Papua sangat berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat.
Sementara itu, Sumatra, Jawa, Bali, dan Sulawesi juga berpeluang mengalami hujan dengan intensitas bervariasi hingga akhir September 2025.
BMKG bahkan mengeluarkan peringatan siaga untuk Papua Tengah dan Papua Pegunungan, karena wilayah tersebut diperkirakan akan mengalami hujan lebat hingga sangat lebat.
Selain curah hujan, angin kencang juga diperkirakan melanda Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat, termasuk transportasi darat, laut, maupun udara.
Baca Juga: 33 Orang Hilang Akibat Topan Super Ragasa, Taiwan Gelar Operasi Pencarian
(ANB)
