Konten dari Pengguna

Bagaimana Pola Penggunaan Lahan Mempengaruhi Kondisi Pedosfer?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Berkebun. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Berkebun. Foto: Shutter Stock

Pedosfer adalah lapisan paling atas permukaan Bumi yang menjadi tempat berlangsungnya proses pembentukan tanah. Secara sederhana, pedosfer dapat diartikan sebagai lapisan tanah yang mengandung air, udara, bahan organik, serta berbagai mineral.

Kondisi pedosfer bersifat dinamis dan terus berubah seiring waktu akibat pengaruh faktor alam maupun aktivitas manusia. Salah satu faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap kondisi tanah adalah pola penggunaan lahan.

Dampaknya dapat terlihat pada tingkat kesuburan tanah, laju erosi, hingga kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan air. Lalu, bagaimana penggunaan lahan dapat memengaruhi kondisi pedosfer? Simak penjelasannya berikut ini untuk memahaminya.

Bagaimana Pola Penggunaan Lahan Mempengaruhi Kondisi Pedosfer?

Ilustrasi Lahan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Dikutip dari buku Geografi Jelajah Bumi dan Alam Semesta karya Hartono dan laman Food and Agriculture Organization of the United Nations, pola penggunaan lahan sangat memengaruhi kondisi pedosfer atau lapisan tanah di permukaan Bumi.

Setiap bentuk pemanfaatan lahan dapat mengubah sifat fisik, kimia, dan biologis tanah, ysng berdampak pada kualitas, kesuburan, dan produktivitasnya. Berikut beberapa pola penggunaan lahan yang memengaruhi kondisi pedosfer:

1. Penggunaan Lahan Pertanian

Penggunaan lahan untuk kegiatan pertanian dapat memberikan dampak positif maupun negatif terhadap pedosfer, tergantung pada cara pengelolaannya.

Beberapa dampaknya meliputi:

  • Pertanian intensif dapat menyebabkan erosi tanah akibat berkurangnya tutupan vegetasi.

  • Lapisan tanah atas (topsoil) yang kaya unsur hara dapat terkikis sehingga kesuburan tanah menurun.

  • Penggunaan alat berat secara terus-menerus dapat menyebabkan pemadatan tanah.

  • Penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan berpotensi mengubah kandungan kimia tanah serta mencemari air tanah.

2. Penggunaan Lahan Berkelanjutan

Penerapan sistem penggunaan lahan yang berkelanjutan dapat membantu menjaga kesehatan pedosfer dalam jangka panjang.

Manfaat yang dapat diperoleh antara lain:

  • Menjaga struktur tanah tetap stabil dan tidak mudah tererosi.

  • Meningkatkan kandungan bahan organik yang penting bagi kesuburan tanah.

  • Membantu mempertahankan kelembapan tanah dan kapasitas penyimpanan air.

3. Penggunaan Lahan Perkotaan

Perkembangan kawasan perkotaan juga memberikan pengaruh besar terhadap kondisi pedosfer. Dampak yang sering terjadi meliputi:

  • Berkurangnya area resapan air akibat pembangunan jalan, gedung, dan permukiman.

  • Meningkatnya limpasan air permukaan yang dapat memicu banjir dan erosi.

  • Menurunnya kemampuan tanah dalam mendukung pertumbuhan vegetasi.

  • Risiko pencemaran tanah dari limbah industri, rumah tangga, maupun bahan kimia lainnya.

Cara Menanggulangi Kerusakan Pedosfer

Ilustrasi Tanah. Foto: Shutterstock

Berbagai faktor, baik alami maupun akibat aktivitas manusia, dapat menimbulkan perubahan bahkan kerusakan pada pedosfer. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas tanah dan mengganggu keseimbangan lingkungan.

Mengutip laman Program Sarjana Teknik Sipil Universitas Brawijaya, berikut beberapa upaya mengatasi kerusakan pedosfer:

1. Rehabilitasi Kerusakan Fisik Tanah

Perbaikan sifat fisik tanah dapat dilakukan melalui:

  • Pengolahan tanah secara berkala untuk mencegah kerusakan struktur tanah.

  • Penambahan bahan organik, seperti dedaunan kering dan tanaman penutup lahan.

  • Meningkatkan keanekaragaman tanaman untuk memperbaiki sistem perakaran dan kesuburan tanah.

2. Rehabilitasi Kerusakan Kimia dan Biologi Tanah

Kerusakan kimia dan biologi tanah dapat diatasi dengan menambahkan bahan organik, seperti jerami, serta pemberian kapur untuk menetralkan tingkat keasaman tanah. Langkah ini juga membantu meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanah.

3. Remediasi Pencemaran Tanah

Remediasi merupakan upaya membersihkan tanah yang telah tercemar. Metode yang dapat digunakan meliputi:

  • Remediasi in situ, yaitu pembersihan dilakukan langsung di lokasi pencemaran.

  • Remediasi ex situ, yaitu tanah yang tercemar dipindahkan ke lokasi lain untuk dibersihkan.

  • Bioremediasi, yaitu pembersihan tanah dengan memanfaatkan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur untuk menguraikan zat pencemar.

Baca Juga: Faktor Penyebab Pencemaran Tanah dan Dampaknya

(ANB)