Cara Beribadah Umat Buddha dan Kegiatan yang Dilakukan

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap agama memiliki tata cara beribadah, kitab suci, dan tempat ibadah yang berbeda, termasuk umat Buddha. Mereka beribadah dengan memberi penghormatan kepada patung Buddha, berdoa, dan melakukan kebaktian.
Dikutip dari Sejarah Terlengkap Agama-Agama di Dunia oleh M. Ali Imron (2015: 132), ajaran agama Buddha bersumber pada kitab Tripitaka. Kitab ini berisi kumpulan khotbah, keterangan, perumpamaan, dan percakapan yang pernah dilakukan oleh Sang Buddha dengan para siswa dan pengikutnya.
Kitab Tripitaka juga membahas semua tata cara peribadatan umat Buddha. Kitab suci ini dijadikan pedoman hidup umat Buddha, baik dalam melaksanakan ibadah maupun kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya.
Cara Beribadah Umat Buddha
Kegiatan ibadah yang dilakukan oleh umat Buddha sudah dilaksanakan secara turun-temurun atau menjadi tradisi dari petua-petua Buddha. Anjuran beribadah juga terdapat dalam kitab suci, sehingga kegiatan tersebut menjadi rutin dilakukan.
Pada dasarnya, umat Buddha dapat beribadah di rumah ataupun vihara. Ibadah umat Buddha meliputi penghormatan di depan patung Buddha sambil berdoa dan melakukan puja bakti. Berikut cara beribadah umat Buddha yang bisa dipahami.
1. Berdoa
Berdoa dalam ajaran Buddha bertujuan untuk membangkitkan kekuatan dalam jiwa agar bisa mencapai tujuan. Berdoa biasanya diawali dengan pujian, dilanjutkan dengan kalimat perenungan, dan ditutup dengan harapan untuk semua makhluk.
Mengutip jurnal Tradisi Sembahyang Umat Buddha oleh Safari Maulidan, umat Buddha bisa memanjatkan doa untuk keselamatan, kejayaan, keberuntungan, kerukunan, keluarga, dan lain-lain. Selain itu, bisa juga memanjatkan doa kesempurnaan sebagai ucapan syukur dan pengingat ajaran Sang Buddha.
Berdoa dapat dilakukan di rumah ataupun vihara dengan menghadap patung Buddha. Berdoa di rumah maupun vihara biasanya dilakukan di depan Altar, yakni sarana khusus tempat penghormatan kepada Buddha.
Baca Juga: 4 Perayaan Hari Besar Buddha yang Diperingati Setiap Tahun
Saat berdoa, umat Buddha dapat duduk di lantai tanpa alas kaki di depan Altar dengan tubuh menghadap patung Buddha. Penting diingat bahwa kaki harus menghadap jauh dari patung Buddha.
Kemudian, umat mengatur tangannya di depan wajah sebelum bersujud dengan posisi berlutut. Sementara bagi umat Buddha Tibet, dilakukan dalam posisi berdiri.
Selain di depan Altar, umat Buddha juga dapat berdoa dan melantunkan mantra saat berada di tempat lain atau sebelum melakukan aktivitas tertentu.
2. Puja Bakti
Puja bakti merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh umat Buddha sebagai sarana penghormatan kepada Sang Tiratana, yakni Buddha, Dhamma, Sangha. Puja bakti disebut juga sebagai kebaktian.
Puja bakti dalam agama Buddha dilakukan dengan cara yang berbeda-beda dan menggunakan doa yang berbeda sesuai dengan aliran masing-masing. Hal ini karena agama Buddha memiliki banyak aliran dan sekte.
Dikutip dari Modul Pendidikan Upacara Puja Bakti oleh Hadion Wijoyo (2021: 19), ada tiga tradisi puja bakti dalam agama Buddha yang umum dikenal, yaitu Theravada, Mahayana, dan Tantrayana. Di samping itu, ada pula tradisi-tradisi lain dari berbagai aliran agama Buddha, termasuk yang menggunakan bahasa daerah.
Dalam puja bakti, ada yang menggunakan bahasa Mandarin, bahasa Sanskerta, bahasa Pali, bahasa Jepang, Tibetan, dan bahasa yang lainnya. Puja bakti biasanya dilakukan secara rutin setiap hari Minggu di vihara. Sebelum memasuki ruangan pemujaan yang dilengkapi dengan patung Buddha, para peserta ibadah biasanya menanggalkan sepatu mereka.
Meskipun memiliki tradisi yang berbeda tergantung aliran yang dianut, tata cara puja bakti secara prinsip sama. Berikut cara beribadah umat Buddha dalam puja bakti secara umum:
Puja bakti diawali dengan pemimpin puja bakti memberi tanda kebaktian yang dimulai dengan gong, lalu melakukan persembahan dengan menyalakan lilin dan dupa. Persembahan lilin untuk mengusir kegelapan, dan persembahan dupa sebagai peringatan akan keabadian harumnya ajaran Buddha.
Selama proses persembahan tersebut, peserta ibadah duduk bertumpu lutut dan bersikap anjali (sikap hormat dengan merangkapkan kedua telapak tangan di depan dada).
Setelah lilin dan dupa diletakkan di tempatnya, pemimpin kebaktian dan para peserta ibadah memberikan hormat dengan menundukkan kepala bersikap anjali sambil menyentuh dahi.
Puja bakti dilanjutkan dengan membacakan paritta atau sutra yang berisi ajaran Buddha.
Setelah membaca paritta-paritta suci, pemimpin puja bakti memandu peserta ibadah untuk melakukan meditasi. Biasanya meditasi dilakukan sekitar 5-10 menit yang bertujuan untuk mengembangkan batin.
Selesai bermeditasi, bhikkhu, pandita, atau penceramah memberikan khotbah atau cerita.
Setelah mendengarkan khotbah, ibadah dilanjutkan dengan berdana (dana paramita) untuk melatih kemurahan hati.
Selanjutnya peserta ibadah melakukan pelimpahan jasa kepada leluhur agar para dewa dan naga yang perkasa memberkati semua makhluk dengan membacakan paritta ettavata.
Puja bakti ditutup dengan membacakan paritta penutup.
(SFR)
Frequently Asked Question Section
Apa kitab suci agama Buddha?

Apa kitab suci agama Buddha?
Ajaran agama Buddha bersumber pada kitab Tripitaka, yakni kitab suci yang berisi kumpulan khotbah hingga percakapan yang pernah dilakukan oleh Sang Buddha dengan para siswa dan pengikutnya.
Apa itu puja bakti?

Apa itu puja bakti?
Puja bakti merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh umat Buddha sebagai sarana penghormatan kepada Sang Tiratana, yakni Buddha, Dhamma, Sangha.
Apa saja tradisi puja bakti dalam agama Buddha?

Apa saja tradisi puja bakti dalam agama Buddha?
Ada tiga tradisi puja bakti dalam agama Buddha yang umum dikenal, yaitu tradisi Theravada, tradisi Mahayana, dan tradisi Tantrayana.
