Konten dari Pengguna

Cara Menghitung Selamatan Orang Meninggal dengan Berbagai Rumus

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 5 menit

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi selamatan orang meninggal. Foto: Flcikr
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi selamatan orang meninggal. Foto: Flcikr

Salah satu tradisi Jawa yang masih lestari hingga kini adalah selamatan orang meninggal. Tradisi ini masih dipertahankan turun temurun hingga menjadi adat istiadat suatu daerah.

Karena menjadi adat istiadat, tradisi ini tidak ditemukan dalam ajaran agama apapun. Lantas mengapa umat dari beberapa agama tetap melaksanakannya? Itu karena adanya akulturasi yang mengawinkan kebudayaan dengan ajaran agama tertentu.

Tradisi selamatan orang meninggal merupakan salah satu bentuk alkulturasi budaya antara agama Islam dan tradisi Jawa. Tradisi ini diisi dengan bacaan tahlil bersama-sama dengan berbagi sedekah kepada orang-orang sekitar.

Selamatan orang meninggal dilakukan sebanyak delapan kali pada hari-hari yang telah ditentukan, terhitung sejak orang tersebut tiada. Menurut buku Primbon Praktis oleh Mama Flo, tujuannya adalah mengantarkan langkah orang yang telah meninggal dunia dalam perjalanan menuju kesempurnaan jiwa dan raganya.

Di samping itu, acara selamatan orang meninggal dalam tradisi masyarakat Jawa digunakan sebagai media untuk kirim doa kepada sanak keluarga yang telah tiada. Dengan harapan mereka yang sudah meninggal diampunkan dosanya oleh Tuhan sang pencipta alam.

Penasaran kapan saja selamatan orang meninggal dan bagaimana hitungan hari orang meninggal dalam budaya Jawa? Langsung saja simak penjelasannya di bawah ini.

Baca Juga: Perbedaan Kalender Jawa dan Kalender Islam Lengkap

Kapan Saja Selamatan Orang Meninggal?

Ilustrasi hitungan selamatan orang meninggal. Foto: Flicker.

Dirangkum dari buku Upacara Tradisional Masyarakat Jawa kaya Thomas Wiyasa dan buku Matematika dalam Budaya terbitan Gardhuwaca, berikut ini waktu selamatan orang meninggal beserta rumus cara menghitungnya:

1. Geblag

Geblag adalah acara selamatan yang dilakukan setelah prosesi pemakaman. Geblag juga kerap disebut dengan istilah Ngesur/Nyaur Tanah/Surtanah. Cara menentukannya dengan rumus jisarji dan harus dilaksanakan saat itu juga.

2. Nelung Dina

Nelung dina adalah selamatan setelah tiga hari kematian. Cara menghitung hari dan pasarannya menggunakan rumus lusarlu, yaitu hari ketiga dan pasaran ketiga. Tujuannya untuk menyempurnakan nafsu dalam jasad manusia yang berasal dari bumi, api, air, dan angin

3. Mitung Dina

Mitung dina adalah selamatan setelah tujuh hari kematian. Cara menghitung hari dan pasarannya menggunakan rumus tusaro, yaitu hari ketujuh dan pasaran kedua. Tujuannya untuk menyempurnakan kulit dan rambutnya.

4. Matangpuluh Dina

Matangpuluh dina adalah selamatan setelah 40 hari kematian. Cara menghitung hari dan pasarannya menggunakan rumus masarma, yaitu hari kelima dan pasaran kelima. Tujuannya untuk menyempurnakan anggota tubuh yang merupakan titipan dari kedua orang tua seperti darah, daging, sumsum, tulang, dan otot.

5. Nyatus Dina

Nyatus dina adalah selamatan setelah 100 hari kematian. Cara menghitung hari dan pasarannya menggunakan rumus perhitungan rosarma, yaitu hari kedua dan pasaran kelima. Tujuannya untuk menyempurnakan badan atau jasadnya.

6. Medhak Sepisan

Medhak sepisan adalah selamatan setelah satu tahun kematian. Cara menghitung hari dan pasarannya menggunakan rumus patsarpat, yaitu hari keempat dan pasaran keempat. Tujuannya adalah peringatan telah sempurnanya kulit daging dan semua isi perut.

7. Medhak Pindho

Mendhak pindho adalah selamatan setelah dua hari kematian. Cara menghitung hari dan pasarannya menggunakan rumus rosarpat, yaitu hari kesatu dan pasaran ketiga. Tujuannya adalah peringatan telah sempurnanya semua anggota badan selain tulang.

8. Nyewu

Nyewu adalah selamatan setelah seribu hari kematian. Cara menghitung hari dan pasarannya menggunakan rumus nemsarma, yaitu hari keenam dan pasaran kelima. Tujuannya adalah selamatan kesempurnaan jasad manusia, termasuk bau dan rasanya. Sehingga, jasad tersebut dinyatakan telah menyatu dengan tanah yang merupakan asal muasal manusia hidup.

Yang perlu diketahui, patokan waktu yang digunakan dalam hitungan orang meninggal Jawa menggunakan hari pada kalender Jawa. Hitungan waktu pada kalender Jawa berbeda dengan kalender biasa.

Waktu pada hari biasa setelah pukul 12.00 malam terjadi pergantian hari. Sedangkan dalam hitungan Jawa, pergantian hari terjadi setelah matahari terbenam atau sekitar pukul 18.00. Di samping itu, jumlah hari dalam seminggu menggunakan perhitungan neptu.

Lantas apa yang dimaksud dengan Neptu? Menurut Gunasasmita dalam buku Kitab Primbon Jawa Serbaguna, neptu adalah angka perhitungan hari, hari pasaran, bulan, dan tahun kalender Jawa. Setiap waktu baik hari, bulan,atau tahun memiliki nilai yang berbeda-beda.

Neptu dalam tradisi masyarakat Jawa sangatlah penting. Hampir setiap tindak-tanduk atau keperluan hajat pasti menggunakan perhitungan ini, tidak terkecuali pada selamatan orang meninggal.

Lantas berapa nilai hari dalam neptu Jawa? Ketahui jawabannya pada uraian berikut.

Baca Juga: Hari Baik Mencari Rezeki dalam Kalender Jawa

Perhitungan Penanggalan Jawa

Ilustrasi hitungan selamatan orang meninggal. Foto: Flicker.

Jika ingin menentukan hari yang lebih tepat untuk selamatan, kamu bisa mempelajari terlebih dahulu bagaimana perhitungan penanggalan Jawa.

Berikut neptu untuk, hari, hari pasar, bulan, dan tahun dalam kalender Jawa dikutip dari Kitab Primbon Serbaguna oleh Gunasasmita.

a. Neptu untuk Hari

  • Minggu: 5

  • Senin: 4

  • Selasa: 3

  • Rabu: 7

  • Kamis: 8

  • Jumat: 6

  • Sabtu: 9

b. Neptu untuk Hari Pasaran

  • Legi: 5

  • Paing: 9

  • Pon: 7

  • Wage: 4

  • Kliwon: 8

b. Neptu untuk Bulan

  • Sura: 7

  • Sapar: 2

  • Rabiul Awal: 3

  • Rabiul Akhir: 5

  • Jumadil Awal: 6

  • Jumadil akhir: 1

  • Rajab: 2

  • Ruwah: 4

  • Puasa: 5

  • Syawal: 7

  • Zulkaidah: 1

  • Besar: 3

d. Neptu untuk Tahun

  • Alip: 1

  • Ehe: 5

  • Jimawal: 3

  • Je:7

  • Dal: 4

  • Be: 2

  • Wawu: 6

  • Jimakir: 3

Untuk tradisi hitungan selamatan orang meninggal yang digunakan adalah hitungan hari dan hitungan pasaran saja. Agar lebih paham, kamu bisa lihat contoh perhitungan hari selamatan orang meninggal di bawah ini.

Baca Juga: Sejarah Perbedaan Kalender Jawa dan Kalender Islam

Contoh Perhitungan Hari Selamatan

Ilustrasi hitungan selamatan orang meninggal. Foto: Flicker.

Berikut contoh perhitungan hari selamatan seseorang yang meninggal dunia pada tanggal 1 Agustus 2020. Maka hasilnya adalah sebagai berikut.

  1. Selamatan tepat hari meninggal (geblak): Jumat Wage 1 Agustus 2020.

  2. Selamatan 3 hari meninggal: Senin Pahing 4 Agustus 2020.

  3. Selamatan 7 hari meninggal: Jumat Legi 8 Agustus 2020.

  4. Selamatan 40 hari meninggal: Kamis Wage 10 September 2020.

  5. Selamatan 100 hari meninggal: Senin Wage 9 November 2020.

  6. Selamatan Pendhak I (354 hari) meninggal: Rabu Pon 21 Juli 2021.

  7. Selamatan Pendhak II (708 hari) meninggal: Minggu Pahing 10 Juli 2022.

  8. Selamatan 1000 hari meninggal: Jumat Wage 28 April 2023.

Demikian hitungan orang meninggal untuk melakukan acara selamatan. Selain itu, setiap pelaksanaan peringatan hari orang meninggal juga sebagai bentuk penghormatan dari keluarga yang masih diberi kesehatan.

(VIO&IPT)

Frequently Asked Question Section

Apa itu tradisi selamatan orang meninggal?

chevron-down

Tradisi selamatan orang meninggal merupakan salah satu bentuk alkulturasi budaya antara agama Islam dan tradisi Jawa.

Berapa kali selametan orang meninggal?

chevron-down

Selamatan orang meninggal dilakukan sebanyak delapan kali pada hari-hari yang telah ditentukan, terhitung sejak orang tersebut tiada.

Apa itu geblag?

chevron-down

Geblag adalah acara selamatan yang dilakukan setelah prosesi pemakaman. Geblag juga kerap disebut dengan istilah Ngesur/Nyaur Tanah/Surtanah.