Kultum Ramadhan Hari ke-27 tentang Lailatul Qadar

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lailatul Qadar adalah malam istimewa yang jatuh di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Pada malam tersebut, Allah SWT menjanjikan banyak keutamaan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh beribadah.
Untuk mengingatkan jemaah akan keutamaan itu, pada hari ke-27 Ramadhan, ustaz dapat menyampaikan kultum tentang Lailatul Qadar. Kultum ini bisa disampaikan setelah salat subuh, menjelang berbuka puasa, maupun setelah salat tarawih.
Agar pesannya mudah dipahami, kultum sebaiknya disusun secara runtut dan jelas. Jika Anda membutuhkan referensinya, simak contoh teks kultum Ramadhan hari ke-27 berikut ini!
Contoh Kultum Ramadhan Hari ke-27
Berikut beberapa contoh kultum Ramadhan hari ke-27 yang mengangkat tema Lailatul Qadar:
1. Empat Amalan di Malam Lailatul Qadar
Lailatul Qadar adalah malam penuh kemuliaan. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِࣖ ٥
Artinya: "Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar." (QS Al-Qadr: 3-5)
Pertama, menyambutnya dengan lebih memperbanyak ibadah. Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata,
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau kencangkan sarungnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah." (HR. Bukhari, no. 2024 dan Muslim, no. 1174).
Kedua, menghadiri shalat shubuh dan isya berjamaah. Sebagaimana dinukil oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dari sekelompok ulama Madinah dan dinukil pula sampai pada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan,
"Menghidupkan malam lailatul qadar itu bisa dengan melaksanakan shalat Isya’ berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan shalat Shubuh secara berjamaah."
Dikatakan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatha’, Ibnul Musayyib menyatakan, "Siapa yang menghadiri shalat berjamaah pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari menghidupkan malam Lailatul Qadar tersebut."
Ketiga, melakukan shalat malam pada malam Lailatul Qadar .Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1901)
Keempat, mengamalkan doa pada malam Lailatul Qadar. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, "Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdoalah: Allahuma innaka 'afuwwun tuhibul 'afwa fa'fu'anni.”" (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 3850)
Sumber: Buku 30 Materi Ceramah Ramadhan oleh M. Indra Kurniawan
2. Menggapai Lailatul Qadar
Hadirin Rahimakumullah!
Sejak kecil, ada satu kalimat yang tidak asing dan selalu terdengar di bulan Ramadan, terutama di penghujung bulan tersebut. Ya, tentunya kita tidak asing dengan kata Lailatul Qadar.
Malam yang mulia ini hanya ada di bulan Ramadhan, Satu malam yang sangat diidamkan oleh seluruh umat Islam di dunia. Betapa tidak? Malam Qadar adalah satu malam yang lebih dari seribu bulan, setara dengan 83 tahun lamnaya.
Ada satu surah yang tentu sangat kita hafal sejak kecil, Q.S. Al-Qadr: 3-5 sebagai berikut:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِࣖ ٥
Artinya: "Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar." (QS Al-Qadr: 3-5)
Mengenai ayat 3 ini, As-Syaikh Wahbah Az-Zuhaili
menulis dalam kitabnya, Tafsir Al-Wajiz sebabai berikut: “Malam lailatul qadar yaitu malam dimana amal shalih ketika itu lebih baik daripada amal selama seribu bulan di waktu selain lailatul qadar. Jarir mengatakan dari Mujahid yang berkata: “Salah satu laki-laki dari Bani Israil ada yang melaksanakan shalat di waktu malam sampai pagi, kemudian berperang memerangi musuhnya di waktu siang sampai sore, dan dia melaksanakan hal itu selama seribu bulan, kemudian Allah menurunkan ayat (Lailatul qadri khairum min alfi syahr) sebagaimana yang diamalkan oleh laki-laki itu.”
Dan pada malam tersebut, bumi disesaki oleh para malaikat yang dipimpin oleh Jibril. Para malaikat mendoakan orang-orang yang beribadah di malam tersebut.
Masih dalam kitab yang sama, Asy-Syaikh Wahbah melanjutkan penafsiran ayat 4 dan 5 sebagai berikut: “Malaikat berbondong- bondong turun ke bumi beserta Jibril di antaranya pada malam ini atas perintah Tuhan mereka untuk menunaikan setiap perkara yang hendak dipenuhi oleh Allah di tahun berikutnya, dan memberikan kebaikan untuk orang-orang yang taat, di antaranya adalah ada yang mendoakan keselamatan mereka, memohonkan ampun dan mendoakan mereka. Malam ini adalah malam (yang penuh) kesejahteraan dan penuh kebaikan mulai permulaannya sampai terbitnya fajar.”
Hadirin Rahimakumullah!
Menurut hadis sahih, Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk menggapai malam tersebut pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadan.
Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadan". (HR. Al-Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Ahmad).
Lalu bagaimana cara memnggapai malam terbaik tersebut? Ya tentu banyak caranya. Diantaranya adalah dengan memperbanyak iktikaf di 10 malam terakhir. Bangunkan anak dan istri kita untuk memperbanyak ibadah sebagaimana hadis Rasulullah SAW.
"Nabi SAW biasa membangunkan keluarganya pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan." (HR At-Tirmidzi)
Sekalipun tidak bisa iktikaf sepanjang malam, kita bisa memperbanyak membaca Al-Qur’an atau berzikir di rumah kita. Jangan sampai karena alasan tidak iktikaf, kita habiskan malam kita dengan sesuatu yang kurang bermanfaat. Perbanyak pula membaca doa berikut ini, terutama di 10 malam terakhir sebagimana hadis berikut:
"Dari Aisyah ia berkata; wahai Rasulullah, apabila aku mengetahui malam apakah lailatul qadr, maka apakah yang aku ucapkan padanya? Beliau mengatakan: "Ucapkan; Allaahumma innaka 'afuwwun kariimun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ampunan dan Maha Pemurah, Engkau senang memberikan ampunan, maka ampunilah aku)."" (HR. At-Tirmidzi)
Hadirin Rahimakumullah!
Demikian mauizah singkat yang dapat saya sampaikan. Semoga Allah memperkenankan kita untuk memperoleh lailatul qadar, malam yang nilaimya lebih baik dari beribadah selama 83 tahun atau seribu bulan.
Wal’afwu minkum. Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarakatuh.
Sumber: Buku Syiar Ramadhan Perekat Persaudaraan oleh Tim Layanan Syariah Kementrian Agama RI
Menjelang Lebaran, tradisi mudik kembali menjadi perjalanan yang penuh makna untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga. Melalui semangat #KebaikanBersama, kumparan menghadirkan beragam informasi seputar mudik, dari kondisi rute perjalanan, tips mudik, hingga rekomendasi kuliner khas daerah.
Temukan info selengkapnya di kum.pr/mudik2026
Baca Juga: Kultum Ramadhan Hari ke-24 tentang Mudik untuk Dijadikan Referensi
(NSF)
