Kurikulum Sekolah Nasional Terintegrasi yang Diterapkan dalam Pembelajaran

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) menawarkan berbagai keunggulan dalam penyelenggaraan pendidikan, salah satunya pada kurikulum yang diterapkan. Berbeda dengan sekolah reguler, SNT mengembangkan kurikulum nasional yang diperkaya dengan berbagai pendekatan pembelajaran mendalam.
Meski tetap berpedoman pada standar kurikulum nasional, pembelajaran di SNT diperkuat melalui pendekatan STEAMS (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Sports), digitalisasi pembelajaran, serta pengayaan tingkat global. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kurikulum Sekolah Nasional Terintegrasi, simak penjelasannya berikut ini.
Kurikulum Sekolah Nasional Terintegrasi
Sekolah Nasional Terintegrasi menggunakan kurikulum nasional yang diperkaya dengan bahasa asing, teknologi digital, wawasan global, budaya dan kearifan lokal, serta potensi daerah. Pengembangan tersebut diwujudkan melalui konsep kurikulum tiga lapis, yaitu kurikulum nasional sebagai fondasi, kurikulum kekhasan sekolah sebagai penguat, dan kurikulum berbasis konteks lokal sebagai pengaya.
Berdasarkan informasi dari akun Instagram resmi Kemendikdasmen @kemendikdasmen, berikut tiga lapisan kurikulum yang diterapkan di Sekolah Nasional Terintegrasi:
1. Kurikulum Nasional (Fondasi)
Sekolah Nasional Terintegrasi tetap menggunakan kurikulum nasional sebagai dasar penyelenggaraan pembelajaran. Kurikulum ini menjadi acuan dalam menetapkan standar, arah pembelajaran, serta capaian pembelajaran peserta didik dengan pendekatan mendalam (deep learning).
2. Kurikulum Kekhasan Sekolah (Penguat)
Kurikulum nasional didukung oleh kurikulum kekhasan sekolah yang disusun berdasarkan karakter, visi, serta program unggulan sesuai kebutuhan peserta didik. Kurikulum ini mencakup berbagai bidang, seperti pendekatan STEAMS, kepemimpinan, hingga penguatan bahasa asing. Beberapa program yang menjadi bagian dari kurikulum kekhasan sekolah antara lain:
STEAMS (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Sports): Pendekatan STEAMS bertujuan mengembangkan kemampuan akademik, kreativitas, karakter, serta keterampilan peserta didik yang relevan dengan kebutuhan kehidupan dan dunia kerja di masa depan.
Bahasa asing: Pembelajaran multibahasa dilakukan dengan menggunakan Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, seperti Mandarin, Jepang, Arab, hingga Prancis, sebagai sarana komunikasi.
Kepemimpinan: Peserta didik juga dibekali kemampuan kepemimpinan untuk membangun karakter.
3. Kurikulum Berbasis Konteks Lokal (Pengaya)
Kurikulum berbasis konteks lokal menjadi bagian pengayaan yang mengangkat potensi daerah, kearifan lokal, budaya, serta kebutuhan masyarakat sebagai sumber belajar. Program pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, menjelaskan bahwa setiap SNT akan memiliki kekhasan sesuai potensi daerahnya. Dengan demikian, setiap sekolah dapat memiliki keunggulan berbeda, seperti bidang pertanian, perikanan, koding dan kecerdasan artifisial, maupun potensi unggulan lainnya.
“Nantinya setiap SNT memiliki kekhasan sesuai potensi daerah masing-masing. Pendekatan pembelajaran berbasis STEAMS dipadukan dengan pembelajaran mendalam yang didukung oleh digitalisasi pembelajaran dan pengayaan tingkat global,” jelas Gogot dikutip dari laman Pusat Layanan Pembiayaan Kemendikdasmen.
Baca Juga: Apakah Semua Pegawai Dibantu Penyesuaian Diri dalam Program Inklusif di Sekolah?
(SA)
