Konten dari Pengguna

Latar Belakang Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Kronologinya Lengkap

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Relief Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949, Rabu (20/2). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Relief Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949, Rabu (20/2). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Daftar isi

Serangan Umum 1 Maret 1949 merupakan peristiwa bersejarah yang menjadi bagian dari perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi Agresi Militer Belanda II. Peristiwa ini menjadi saksi perjuangan TNI melawan Belanda di Yogyakarta.

Mengutip buku Wahana IPS Ilmu Pengetahuan Sosial oleh Tim Pena Cendekia, Agresi Militer Belanda II merupakan penyerangan yang dilakukan Belanda di bawah kepemimpinan Dr. Bell. Melalui operasi militer ini, Belanda ingin membuktikan kepada negara-negara di dunia bahwa negara dan tentara Indonesia sudah tidak ada.

Serangan dari Belanda tak lantas membuat bangsa Indonesia menyerah. Sebaliknya, Indonesia justru terus melakukan perlawanan, salah satunya melalui Serangan Umum 1 Maret 1949. Bagaimana sejarahnya?

Latar Belakang Serangan Umum 1 Maret 1949

Relief Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah respons dari Agresi Militer Belanda II yang menjadikan Yogyakarta sebagai sasaran utamanya. Dijelaskan dalam buku Peran TNI-AU pada Masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia tahun 1948-1949 oleh Subdisjarah, Serangan Umum 1 Maret 1949 dilatarbelakangi oleh tiga tujuan utama, yaitu:

1. Tujuan Militer

Selain sebagai bentuk perlawanan terhadap Belanda, Serangan Umum 1 Maret 1949 juga dilakukan untuk membuktikan kepada negara-negara di dunia bahwa TNI masih utuh. TNI masih menjadi satuan militer yang tertib, teratur, dan mampu melakukan perlawanan secara terkoordinasi dan terkonsentrasi.

2. Tujuan Politik

Meletusnya Serangan Umum 1 Maret juga dipengaruhi oleh unsur-unsur politik, yaitu sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan perwakilan RI di Dewan Keamanan PBB. Tujuannya untuk membantah pernyataan Belanda yang mengaku berhasil mengadakan agresi militer di Indonesia.

3. Tujuan Psikologi

Secara psikologis, Serangan Umum 1 Maret diharapkan mampu mengobarkan semangat juang rakyat Indonesia dan TNI. Dengan adanya serangan ini, harapannya masyarakat dapat memupuk dan meningkatkan kembali kepercayaannya terhadap TNI.

Baca juga: Mengenal Tokoh Serangan Umum 1 Maret 1949

Kronologi Serangan Umum 1 Maret 1949

Ilustrasi Serangan Umum 1 Maret 1949. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Mengutip buku Sejarah tulisan Nana Supriatna, serangan terhadap Belanda sebenarnya sudah direncanakan sejak pertama kali Belanda mulai melancarkan Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta. Namun, puncak serangan baru dilaksanakan pada 1 Maret 1949. Itu sebabnya perlawanan ini disebut dengan Serangan Umum 1 Maret 1949.

Ide serangan itu datang dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang mendengar kabar dari siaran radio bahwa forum Dewan Keamanan PBB akan membicarakan masalah Indonesia pada Maret 1949. Atas dasar ini, ia berpendapat bahwa pihak RI butuh membuat gebrakan yang dapat membuka pandangan dunia terhadap perjuangan bangsa.

Sri Sultan lalu mengirim surat kepada Jenderal Soedirman untuk meminta izin mengadakan serangan umum. Jenderal Soedirman menyetujuinya dan memerintahkan Sri Sultan untuk berhubungan langsung dengan Letkol Soeharto yang kala itu menjabat sebagai Komandan Bade 10 Daerah Perlawanan III di Yogyakarta.

Setelah melakukan pertemuan, Sri Sultan dan Soeharto sepakat menyusun rancangan serangan umum atas kedudukan Belanda di Yogyakarta. Wilayah serangan ini dibagi menjadi lima sektor, yakni:

  • Sektor barat dipimpin Letkol Ventje Sumual.

  • Sektor selatan dan timur dipimpin Mayor Sarjono.

  • Sektor utara dipimpin Mayor Kusno.

  • Seor kota dipimpin Letnan Amir Murtono dan Letnan Marsudi.

Penampilan Drama Teatrikal Serangan Umum 1 Maret 1949 oleh Djokjakarta 1945. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Serangan umum mulai dilancarkan pada pukul 06.00 pagi. Belanda yang tidak menduga ada serangan mendadak pun kewalahan menghadapinya. Alhasil, tentara Indonesia berhasil unggul dari militer Belanda dalam waktu singkat.

Indonesia berhasil merebut kembali ibu kota Yogyakarta dari Belanda dan mendudukinya selama enam jam. Memang tidak berlangsung lama, tapi dampaknya sangat besar bagi bangsa dan rakyat Indonesia.

Hal itu turut dibantu dengan laporan R. Sumardi ke pemerintahan PDRI di Bukittinggi melalui radiogram keesokan harinya setelah serangan dilakukan. Berita itu kemudian disampaikan kepada A.A. Maramis, diplomat RI di New Delhi, India dan LN. Palar, diplomat RI di New York, Amerika.

Pengaruh Serangan Umum 1 Maret 1949

Penampilan Drama Teatrikal Serangan Umum 1 Maret 1949 oleh Djokjakarta 1945. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Serangan Umum 1 Maret 1949 berdampak besar bagi bangsa Indonesia. Berikut beberapa di antaranya:

1. Perjanjian Roem Royen

Serangan Umum 1 Maret 1949 memang berhasil membuka mata dunia bahwa propaganda Belanda tidaklah benar dan Republik Indonesia juga TNI masih ada. Namun, Belanda tetap tidak mau mengakui kekalahan mereka dan enggan melaksanakan resolusi DK PBB 28 Januari 1949.

Dikutip dari buku Sejarah 3 tulisan Sardiman, pada 14 April 1949 dilaksanakan perundingan di Jakarta untuk menyelesaikan masalah Indonesia dan Belanda yang tidak berkesudahan. Perundingan ini dilaksanakan di bawah pimpinan Moh. Roem sebagai delegasi Indonesia dan H.J Van Royen sebagai delegasi Belanda.

Perundingan tersebut menghasilkan Perjanjian Roem-Royen yang disahkan pada tanggal 7 Mei 1949. Isi perjanjiannya yaitu:

  1. Pihak Indonesia bersedia mengeluarkan perintah kepada pengikut RI yang bersenjata untuk menghentikan perang gerilya. RI juga akan ikut serta dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) guna mempercepat penyerahan kedaulatan kepada Negara Indonesia Serikat (NIS) tanpa syarat.

  2. Pihak Belanda menyetujui kembalinya RI ke Yogyakarta dan menjamin penghentian gerakan-gerakan militer dan membebaskan semua tahanan politik. Belanda berjanji tidak akan mendirikan dan mengakui negara-negara yang ada di wilayah kekuasaan RI sebelum Desember 994, juga menyetujui RI sebagai bagian dari NIS.

2. Peristiwa Yogya Kembali

Sebagai bagian perwujudan Perjanjian Roem Royen, pasukan Belanda ditarik mundur ke luar Yogyakarta dan TNI pun kembali ke Yogyakarta. Peristiwa ini dikenal dengan Peristiwa Yogya Kembali.

Setelah para pemimpin RI kembali ke Yogyakarta, Syafrudin Prawiranegara mengembalikan mandat pemerintahan kepada Presiden Soekarno secara resmi pada 13 Juli 199. Dengan demikian, berakhirlah masa pemerintahan PDRI.

3. Konferensi Inter Indonesia

Pada bulan Juli dan Agustus 1949, diadakan Konferensi Inter Indonesia sebagai langkah persiapan menghadapi Konferensi Meja Bundar. Konferensi ini dilakukan dengan organisasi negara-negara bagian (BFO). Hasil KII antara lain:

  • Negara Indonesia Serikat disetujui dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS) berdasarkan demokrasi dan federalisme.

  • RIS akan dikepalai oleh seorang presiden dan dibantu menteri yang bertanggung jawab kepada presiden.

  • RIS akan menerima penyerahan kedaulatan, baik dari RI maupun Belanda.

  • Angkatan Perang RIS adalah Angkatan Perang Nasional dan Presiden RIS adalah Panglima Tertinggi Angkatan Perang.

  • Pembentukan Angkatan Perang RIS semata-mata soal bangsa Indonesia sendiri.

(ADS)