Memahami Takaran Protein Hewani untuk MPASI Berdasarkan Penelitian Terkini

Berita Hari Ini
Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Konten dari Pengguna
2 April 2024 11:30 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi anak yang diberi MPASI foortifikasi.  Foto: BonNontawat/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak yang diberi MPASI foortifikasi. Foto: BonNontawat/shutterstock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Memasuki fase MPASI adalah salah satu tonggak penting dalam perjalanan tumbuh kembang seorang anak. Di momen ini, protein hewani harus menjadi prioritas dalam menu harian si kecil. Pasalnya, asam amino esensial tidak bisa diproduksi oleh tubuh bayi sendiri.
ADVERTISEMENT
Penelitian menunjukkan bahwa banyak anak yang mendapatkan protein lebih dari cukup melalui MPASI dan susu formula. Meski begitu, mereka masih kekurangan dalam hal asupan mikronutrien dan asam lemak esensial.
Artinya, keseimbangan nutrisi, termasuk protein, menjadi kunci dalam mendukung pertumbuhan dan kesehatan anak secara menyeluruh.

Mengapa Protein Hewani Penting?

Ilustrasi anak yang menjalani proses MPASI. Foto: Ivan Lonan/Shutterstock
Dalam fase MPASI, kebutuhan nutrisi bayi mulai beragam. Protein hewani, yang dikenal dengan kandungan asam amino esensialnya, menjadi salah satu nutrisi kunci untuk mendukung pertumbuhan dan pemulihan jaringan.
Shivakumar Nirupama dkk. dalam jurnal Protein-quality evaluation of complementary foods in Indian children (2019) menekankan bahwa protein berkualitas tinggi sangat penting untuk perkembangan anak.
Di sisi lain, penelitian Geek Lin Khor dan Siew Siew Lee dalam jurnal Complementary Foods and Milk-Based Formulas Provide Excess Protein but Suboptimal Key Micronutrients and Essential Fatty Acids in the Intakes of Infants and Toddlers from Urban Settings in Malaysia (2021) menunjukkan bahwa meskipun protein sering kali diberikan secara berlebihan melalui MPASI, asupan mikronutrien dan asam lemak esensial seringkali masih belum optimal.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, penting untuk memilih takaran protein yang tepat. Menurut Tang Minghua dan tim dalam jurnal A meat- or dairy-based complementary diet leads to distinct growth patterns in formula-fed infants: a randomized controlled trial (2018), asupan protein dari daging atau produk susu pada bayi yang diberi susu formula bisa menghasilkan pola pertumbuhan yang berbeda.
Sebuah penelitian lain oleh Tang Minghua berjudul Protein Intake During Early Complementary Feeding Affects the Gut Microbiota in U.S. Formula-fed Infant juga menyoroti bahwa asupan protein selama pemberian MPASI awal berpengaruh pada mikrobiota usus bayi.
Penting untuk dicatat bahwa mikrobiota usus yang sehat dan seimbang adalah kunci untuk pengembangan sistem pencernaan dan imun yang kuat pada bayi. Asupan nutrisi yang tepat melalui MPASI, termasuk jenis dan jumlah protein hewani, dapat mendukung keragaman mikrobiota usus yang sehat.
ADVERTISEMENT
Hal tersebut tidak hanya membantu kesehatan pencernaan, tetapi juga membantu dalam pengembangan pertahanan tubuh alami terhadap penyakit.

Takaran Protein Hewani Ideal untuk MPASI

Ilustrasi anak yang diberikan MPASI sesuai usianya. Foto: alice-photo/Shutterstock
Takaran protein yang ideal bergantung pada usia dan kebutuhan spesifik anak. Bayi berusia 6-12 bulan, misalnya, membutuhkan sekitar 10 gram protein per hari. Asupan ini bisa didapatkan dari berbagai sumber hewani seperti daging, ikan, dan telur.
Pilihlah sumber protein hewani yang tidak hanya kaya protein, tapi juga mikronutrien penting lainnya. Daging tanpa lemak, ikan, dan telur adalah opsi yang baik.
Memperkenalkan protein hewani ke dalam MPASI harus dilakukan secara bertahap, dengan mengawasi kemungkinan reaksi alergi. Cara penyajian yang tepat, seperti daging yang dihaluskan atau telur yang dimasak dengan baik, dapat memudahkan pencernaan bayi.
ADVERTISEMENT
Tang Minghua dan kolega (2018) menyarankan untuk memperkenalkan satu jenis protein hewani pada satu waktu, sehingga memungkinkan untuk mengamati reaksi alergi pada anak. Tanda-tanda alergi atau intoleransi dapat berupa ruam atau gangguan pencernaan.
Sebagai langkah praktis, orang tua bisa mulai dengan memperkenalkan protein hewani seperti pure daging tanpa lemak, ikan yang telah dibersihkan dari tulang, atau kuning telur yang dimasak dengan baik. Porsi kecil, sekitar satu atau dua sendok makan sudah cukup untuk memulai, dan memungkinkan sistem pencernaan bayi untuk menyesuaikan.
Selain memperhatikan takaran, penting juga bagi orang tua untuk memastikan keragaman dalam MPASI. Artinya, selain protein hewani, bayi juga harus menerima berbagai jenis makanan lain yang kaya akan nutrisi penting, termasuk sayuran, buah, dan biji-bijian.
ADVERTISEMENT
Keragaman ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan nutrisi bayi tetapi juga mendukung pengembangan palet rasa dan mendorong kebiasaan makan yang sehat.
Terakhir, konsultasi dengan profesional kesehatan seperti dokter anak atau ahli gizi dapat memberikan panduan tambahan dan dukungan. Setiap bayi unik, dan beberapa mungkin memiliki kebutuhan nutrisi atau pertimbangan kesehatan khusus yang perlu diperhatikan.
Dokter dapat menawarkan rekomendasi yang disesuaikan, memastikan bahwa MPASI tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi tetapi juga mendukung kesehatan dan kesejahteraan bayi secara keseluruhan.
Mengatur takaran protein hewani dalam MPASI adalah tentang menemukan keseimbangan yang tepat antara memenuhi kebutuhan nutrisi esensial dan memastikan kesehatan yang optimal. Dengan mengikuti panduan berdasarkan penelitian terbaru dan mendengarkan kebutuhan unik bayi mereka, orang tua dapat meletakkan dasar yang kuat untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat.
ADVERTISEMENT
(DEL)