Mengenal Apa Itu Kurikulum Deep Learning yang Diusulkan Mendikdasmen

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengusulkan adanya pendekatan Kurikulum Deep Learning ke dalam kurikulum nasional yang berlaku saat ini. Artinya, Mendikdasmen tidak ingin menggantikan kurikulum yang sedang berjalan, melainkan melengkapinya.
Abdul Mu'ti menuturkan urgensi dari penerapan Kurikulum Deep Learning adalah untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik. Ini bisa jadi pendekatan yang menekankan pemahaman mendalam terhadap materi pelajaran, sehingga proses belajar tak hanya berfokus pada kuantitas.
Penjelasan lebih lengkap tentang apa itu Kurikulum Deep Learning akan dibahas lebih lanjut dalam artikel berikut, mulai dari pengertian, pendekatan, manfaat, tantangan, hingga contoh penerapannya.
Apa Itu Kurikulum Deep Learning?
Kurikulum Deep Learning merupakan program pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman peserta didik. Sehingga, mereka dapat berpikir kritis, berpartisipasi aktif, dan mengekplorasi pembelajaran dengan baik.
Berdasarkan buku Pengantar Dasar Deep Learning oleh Rometdo Muzawi, M.Kom., CEH., CCNA, deep learning diartikan sebagai cabang dari kercedasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan machine learning. Metode pembelajaran ini memanfaatkan neural network multiple layer untuk menyelesaikan tugas dengan ketepatan tinggi.
Sementara dalam dunia pendidikan, menurut Freed D. Davis dalam buku Deep Learning and Constructivism in Education, deep learning adalah proses pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam pada peserta didik.
Nantinya, mereka diminta untuk mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Kemudian, menciptakan keterkaitan konseptual agar mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Keunggulan dari kurikulum ini adalah peserta didik dapat mengingat informasi sekaligus memahami dan mengaplikasikannya dalam berbagai konteks. Pembelajaran deep learning menuntut keterlibatan aktif peserta didik agar dapat memecahkan masalah dan menemukan keterikatan antara teori dan praktik.
Baca Juga: Daftar Mata Pelajaran Pendukung SNBP 2025 untuk Kurikulum Merdeka dan K13
Pendekatan Kurikulum Deep Learning
Mengutip artikel ilmiah berjudul Pendekatan Deep Learning dalam Pendidikan Dasar dan Menengah oleh Yulia Indahri yang diterbitkan dalam laman berkas.dpr.go.id, Mendikdasmen Abdul Mu'ti menegaskan bahwa Kurikulum Deep Learning merupakan pendekatan, bukan kurikulum baru.
Pendekatan ini dirancang untuk membawa peserta didik ke dalam proses pembelajaran yang lebih bermakna (meaningful), sadar (mindful), dan menyenangkan (joyful). Ketiga nilai inti tersebut diharapkan dapat mendukung pengalaman belajar holistik bagi peserta didik. Adapun penjelasan dari ketiga nilai yang dimaksud yakni sebagai berikut:
1. Meaningful Learning
Meaningful learning menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari yang dialami peserta didik. Selain itu, mendorong peserta didik agar mampu berpikir kritis, kreatif, dan andal dalam memecahkan masalah.
2. Mindful Learning
Mindful learning berfokus pada kesadaran penuh selama proses belajar. Hal ini dapat membantu peserta didik lebih fokus. Sehingga, mereka dapat meningkatkan konsetransi, memahami materi lebih mendalam, dan merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Joyful Learning
Terakhir, joyful learning diharapkan mampu menciptakan suasana belajar menyenangkan dan interaktif. Dengan begitu, pendekatan deep learning dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan peserta didik di dalam kelas.
Tak hanya tiga nilai inti di atas, pendekatan deep learning juga bisa diperluas dengan healthful learning dan happyful learning. Kedua hal ini mencakup mental, kesejahteraan fisik, dan emosional peserta didik. Dengan kondisi ini, diharapkan pembelajaran bisa lebih bermakna dan mampu mendukung pengembangan karakter peserta didik secara holistik.
Manfaat Kurikulum Deep Learning
Menyadur artikel ilmiah berjudul Pendekatan Deep Learning dalam Pendidikan Dasar dan Menengah oleh Yulia Indahri yang diterbitkan dalam laman berkas.dpr.go.id, berikut tiga manfaat yang diperoleh dari Kurikulum Deep Learning:
1. Keterampilan Peserta Didik
Dengan pendekatan deep learning, diharapkan siswa tak hanya memiliki pengetahuan yang luas, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, kreatif, adaptif, dan kolaboratif.
2. Meningkatkan Literasi Digital
Manfaat dari penerapan pendekatan deep learning adalah untuk meningkatkan literasi digital, minat baca, dan motivasi belajar peserta didik.
3. Membatu Siswa Memahami Masalah
Selanjutnya, pendekatan ini menawarkan pemahaman yang lebih dalam pada siswa. Sehingga, mereka bisa memecahkan masalah di kehidupan nyata. Kurikulum ini diharapkan mampu menciptakan generasi yang siap menghadapi dunia kerja dan tantangan global.
4. Suasana Belajar yang Lebih Fleksibel
Menurut Mendikdasmen, pendekatan deep learning memberikan manfaat berupa suasana belajar yang lebih fleksibel dan holistik. Guru dan siswa diharapkan dapat berkolaborasi hingga mencapai tujuan pendidikan yang lebih tinggi.
Tantangan Kurikulum Deep Learning
Penerapan Kurikulum Deep Learning memiliki beberapa tantangan signifikan. Pertama, agar dapat diterapkan sesuai harapan, tentunya dibutuhkan pelatihan intensif untuk meningkatkan kompetensi guru.
Kemudian, lingkungan sekolah harus mendukung penerapan pendekatan deep learning, termasuk budaya belajar dan infrastrukturnya. Kajian dan masukan dari berbagai pemangku kepentingan juga harus dilakukan secara mendalam.
Perbedaan Kurikulum Deep Learning dan Kurikulum Merdeka
Secara garis besar, tujuan Kurikulum Merdeka dan Deep Learning sama, yakni menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna dan relevan untuk peserta didik. Namun, keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Pendekatan Kurikulum Merdeka lebih berfokus pada fleksibilitas dan otonomi sekolah dalam mengembangkan kurikulum. Pendidik diberikan kebebasan untuk memilih materi pelajaran yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing siswa.
Sementara itu, deep learning lebih berfokus pada pemahaman konsep yang mendalam dan bermakna. Pendekatan ini menekankan peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, dan analitis, serta menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Kurikulum Merdeka fokus pada struktur dan organisasi pembelajaran. Sementara, deep learning lebih memfokuskan tujuan pada proses pembelajarannya.
Keterampilan yang Dihasilkan dari Kurikulum Deep Learning
Mengutip situs sman1montong.sch.id, terdapat delapan keterampilan yang mampu dihasilkan dari pendekatan deep learning. Beberapa di antaranya yakni sebagai berikut:
Global citizenship, meliputi pengetahuan global, kepekaan dan rasa hormat terhadap budaya lain, serta keterlibatan dalam isu-isu keberlanjutan dan manusia.
Collaboration, meliputi kemampuan untuk bekerja dalam tim, keterampilan jejaring sosial, dan empati dalam belajar. Siswa diharapkan mampu berkolaborasi dengan orang lain yang memiliki karakter berbeda-beda.
Character, meliputi kejujuran, kontrol diri dan tanggung jawab, kerja keras, ketekunan, empati untuk berkontribusi pada keselamatan orang lain, kepercayaan diri, keterampilan untuk berkarier, serta kesehatan dan kesejahteraan pribadi.
Communication, meliputi kemampuan berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis, menggunakan berbagai alat digital. Yang tak kalah penting, siswa diharapkan memiliki keterampilan untuk mendengarkan orang lain.
Creativity dan imagination, meliputi kewirausahaan ekonomi dan sosial, serta memiliki ide-ide baru dan jiwa kepemimpinan untuk bertindak.
Problem solving, yakni peserta didik diharapkan mendapatkan pengalaman nyata dalam menciptakan dan menggunakan pengetahuan baru di luar kelas.
Critical thinking, meliputi berpikir kritis untuk merancang dan mengelola proyek, membuat keputusan dengan efektif menggunakan berbagai sumber daya digital, serta mampu memecahkan masalah dengan baik.
Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk pembelajaran, karena teknologi memungkinkan seseroang menemukan dan menguasahi pengetahuan baru.
Contoh Penerapan Kurikulum Deep Learning
Dihimpun dari situs disdik.hsu.go.id, berikut ini beberapa contoh penerapan Kurikulum Deep Learning di sekolah:
1. Klasifikasi Gambar di Pelajaran Biologi
Pada materi klasifikasi gambar di pelajaran biologi, peserta didik akan diajarkan untuk mengembangkan model jaringan saraf tiruan untuk tanaman. Lewat materi tersebut, peserta didik dapat mengidentifikasi penyakit pada tamanan beserta nama spesiesnya. Pendekatan ini menggabungkan pelajaran biologi, pemrograman, dan pengolahan gambar.
2. Analisis Teks di Pelajaran Bahasa dan Sastra
Untuk menganalisis teks pada pelajaran bahasa dan sastra, peserta didik dapat diajak menggunakan pendekatan algoritma deep learning, seperti natural language processing (NLP). Dengan begitu peserta didik bisa menganalisis pola dalam teks sastra atau mendeteksi emosi dalam karya tulis.
3. Penggunaan Chatbot untuk Pendidikan
Contoh penerapan Kurikulum Deep Learning selanjutnya adalah penggunaan chatbot berbasis deep reinforcement learning. Ini bisa membantu peserta didik untuk meningkatkan pengalaman belajarnya dengan menjawab berbagai pertanyaan terkait materi pelajaran.
4. Simulasi Robotika untuk STEM
Kurikulum Deep Learning dapat mengajak peserta didik untuk belajar melatih robot. Nantinya, robot tersebut dirancang agar bisa mengenali objek dan membuat keputusan berdasarkan data sensor.
5. Penerapan dalam Prediksi Cuaca
Menggunakan teknik deep learning, peserta didik diajak mempelajari cara memanfaatkan data historis cuaca sehingga diharapkan mampu membuat model prediksi cuaca.
(NSF)
