Konten dari Pengguna

Mengenal Bank Emok, Sistem Pinjaman Kelompok yang Populer di Pedesaan

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bank Emok adalah salah satu sistem pinjaman tak resmi yang populer di masyarakat pedesaan. Foto: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Bank Emok adalah salah satu sistem pinjaman tak resmi yang populer di masyarakat pedesaan. Foto: Pexels.com

Bank Emok adalah istilah yang digunakan untuk menyebut praktik pemberian pinjaman uang secara kelompok yang biasanya dilakukan oleh ibu-ibu di pedesaan. Istilah "emok" sendiri diambil dari bahasa Sunda yang berarti duduk berkelompok, sesuai dengan cara para anggotanya berkumpul saat proses pinjaman berlangsung.

Meskipun tidak terdaftar sebagai lembaga perbankan resmi, Bank Emok menjadi salah satu bentuk pinjaman yang cukup populer di tengah masyarakat karena prosesnya yang sangat mudah.

Namun, di balik kemudahan mendapatkan pinjaman tersebut, ada risiko yang perlu diwaspadai, seperti bunga yang tinggi dan sistem penagihan yang bisa memberatkan peminjam. Untuk memahami lebih lanjut tentang apa itu Bank Emok dan bagaimana sistem kerjanya, simak ulasan berikut ini.

Apa Itu Bank Emok?

Bank Emok adalah istilah yang digunakan untuk menyebut sistem pinjaman berbasis kelompok yang banyak dijumpai di lingkungan masyarakat. Foto: Pexels.com

Dikutip dari buku Antologi Lembaga Keuangan Mikro Berbasis Kearifan Lokal karya Dewi Susilowati, dkk., Bank Emok adalah istilah yang digunakan untuk menyebut sistem pinjaman berbasis kelompok yang banyak dijumpai di lingkungan masyarakat, terutama di daerah pedesaan.

Sistem ini menawarkan kemudahan akses bagi mereka yang membutuhkan dana cepat tanpa harus melalui proses yang rumit seperti di bank konvensional. Pinjaman biasanya diberikan melalui kelompok-kelompok kecil, dengan tujuan memudahkan pengelolaan dan penagihan.

Salah satu keunggulan Bank Emok terletak pada proses pengajuan yang sederhana. Seseorang cukup bergabung dalam kelompok, pinjaman bisa dicairkan tanpa perlu jaminan atau persyaratan administrasi yang berbelit-belit.

Hal inilah yang membuat Bank Emok populer, terutama di kalangan ibu rumah tangga yang membutuhkan modal usaha kecil atau dana untuk kebutuhan mendesak.

Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat risiko yang tidak bisa diabaikan. Bunga pinjaman sering kali cukup tinggi, bahkan ada yang menilai tidak jauh berbeda dengan praktik rentenir. Selain itu, sistem cicilan yang kaku dan metode penagihan yang ketat bisa menjadi beban tambahan bagi peminjam.

Baca Juga: 6 Cara Hitung Bunga Cicilan Pinjaman Bank

Cara Kerja Bank Emok

Cara kerja Bank Emok dilakukan dengan menyalurkan dana pinjaman secara berkelompok, di mana satu kelompok biasanya terdiri dari 5 hingga 10 orang atau lebih. Foto: Pexels.com

Dalam jurnal NUSANTARA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial oleh Irenza Sabatini Mulyadi, dkk., dijelaskan bahwa Bank Emok bekerja dengan cara menyalurkan dana pinjaman secara berkelompok, di mana satu kelompok biasanya terdiri dari 5-10 orang atau lebih.

Jumlah anggota dalam kelompok ini sudah ditentukan oleh pihak pemberi pinjaman, sementara calon peminjam bertugas mengumpulkan anggota sesuai kebutuhan. Setelah kelompok terbentuk, akan ditunjuk seorang ketua yang berperan sebagai penghubung antara anggota dan pihak pemberi pinjaman.

Dana pinjaman yang diberikan bervariasi, mulai dari belasan hingga puluhan juta rupiah, tergantung kebutuhan masing-masing anggota. Pencairan dilakukan secara kolektif berdasarkan total akumulasi pinjaman kelompok. Sistem pembayaran dilakukan secara kredit mingguan dengan bunga cukup tinggi, yaitu lebih dari 25% dari total pinjaman.

Hal yang menjadi ciri khas Bank Emok adalah sistem “Tanggung Renteng”, artinya semua anggota bertanggung jawab bersama atas pinjaman tersebut. Jika ada anggota yang gagal membayar cicilan, maka sisa tanggungan tersebut harus dibayar oleh anggota lainnya.

Skema ini mengandalkan solidaritas kelompok, namun juga bisa menimbulkan masalah jika ada anggota yang tidak bertanggung jawab. Model ini terinspirasi dari sistem pinjaman kelompok di Grameen Bank, Bangladesh, yang bertujuan memberdayakan masyarakat dengan memanfaatkan kekuatan kelompok sebagai jaminan sosial.

Meskipun efektif untuk mempermudah akses pinjaman, sistem ini tetap memiliki risiko yang harus dipertimbangkan dengan matang sebelum terlibat di dalamnya.

(SAI)