Mengenal Jimpitan, Tradisi yang Masih Dipelihara Masyarakat Pedesaan

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jimpitan adalah tradisi gotong royong yang masih dipelihara masyarakat pedesaan, khususnya di daerah Jawa. Salah satu kearifan lokal ini membuat masyarakat desa hidup rukun dan harmonis.
Mengutip laman Indonesia.go.id, jimpitan berasal dari bahasa Jawa “jimpit” yang berarti mengambil sedikit dengan tiga ujung jari, yaitu jempol, telunjuk, dan jari tengah.
Tradisi turun-temurun ini umumnya dilakukan di lingkungan masyarakat yang lebih kecil, seperti RT, RW, kelurahan, karang taruna, atau organisasi kemasyarakatan
Jimpitan diberikan secara sukarela oleh para warga desa. Untuk lebih memahami apa itu jimpitan, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Baca juga: Tradisi Puasa Sebelum Menikah yang Biasa Dilakukan Masyarakat Jawa
Tradisi Jimpitan
Pada dasarnya, jimpitan adalah tradisi menabung ala masyarakat desa di Jawa. Dahulu, tradisi ini kerap dilakukan saat ronda malam. Jimpitan yang disumbangkan berupa kebutuhan pokok, seperti beras, gula, dan minyak goreng.
Dijelaskan dalam buku Bijak Memberdayakan Uang Plastik tulisan Heru Susanto, S.Sos. dan Nataniel, beras akan dikumpulkan lalu dijual setelah terkumpul banyak.
Uang penjualan itulah yang menjadi kas desa. Namun, seiring berjalannya waktu, beras diganti menjadi uang agar proses jimpitan lebih mudah dilakukan.
Uang yang disumbangkan tidak perlu banyak, mulai dari Rp1.000, Rp5 ribu, Rp10 ribu, tergantung kesanggupan masing-masing warga. Nilai jimpitan yang diberikan bukan masalah, yang penting adalah niat ikhlas untuk membantu sesama warga desa.
Hasil dari jimpitan biasanya diserahkan kepada koordinator untuk dijadikan dana urunan atau iuran kegiatan sosial atau kepentingan warga lainnya. Misalnya, membantu warga yang sedang kesusahan, pembangunan fasilitas umum, meningkatkan keamanan desa, dan sebagainya.
Sebagai contoh, selama pandemi COVID-19, masyarakat desa yang berprofesi sebagai nelayan atau petani banyak yang tidak mendapat pekerjaan sehingga perekonomian keluarganya terganggu. Sebagai bentuk kepedulian, warga desa lain memberikan dana jimpitan kepada mereka.
Baca juga: Mengenal Rebo Wekasan dalam Tradisi Jawa
Mengutip buku Lokal Hero RT dan RW Pemimpin Perubahan Masyarakat tulisan Edi Priyanto, skema pengambilan jimpitan berbeda-beda, tergantung kesepakatan warga desa itu sendiri.
Dana jimpitan bisa dipungut setiap awal, tengah, atau akhir bulan. Bisa juga dibarengi dengan jadwal jaga di Poskamling atau kegiatan lain.
Biasanya, uang jimpitan ditaruh di dalam kaleng bekas atau wadah kecil yang diletakkan di depan rumah. Hal ini memudahkan petugas mengambil jimpitan di masing-masing rumah warga.
Jimpitan adalah tradisi yang perlu dipertahankan oleh masyarakat, tak hanya di pedesaan tapi juga perkotaan. Dengan adanya tradisi ini, masyarakat yang sedang mengalami kesulitan akan terbantu.
Selain membantu perekonomian warga dan pembangunan fasilitas umum, dana jimpitan juga membuat masyarakat semakin dekat dan akrab satu sama lain. Kesenjangan sosial antarwarga terhapus, tali silaturahmi semakin erat, dan fasilitas lingkungan rumah pun lebih maju.
(ADS)
Baca juga: Tradisi Seserahan Pernikahan Adat Jawa
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan jimpitan?

Apa yang dimaksud dengan jimpitan?
Jimpitan adalah tradisi menabung ala masyarakat desa di Jawa.
Uang jimpitan untuk apa?

Uang jimpitan untuk apa?
Hasil dari jimpitan biasanya diserahkan kepada koordinator untuk dijadikan dana urunan atau iuran kegiatan sosial atau kepentingan warga lainnya.
Apa yang lazim dijadikan sebagai bentuk jimpitan?

Apa yang lazim dijadikan sebagai bentuk jimpitan?
Dahulu, bentuk jimpitan berupa beras atau bahan pokok lainnya. Namun, jimpitan kini biasa dikumpulkan dalam bentuk uang.
