Konten dari Pengguna

Sejarah Gunung Bromo: Ini 5 Periode Pembentukannya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Panorama Gunung Bromo. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Panorama Gunung Bromo. Foto: Shutterstock

Gunung Bromo merupakan gunung berapi aktif yang terletak di Jawa Timur. Dalam bahasa suku Tengger yang mendiami kawasan gunung ini, Bromo sering juga dieja Brama. Nama ini diambil dari nama dewa dalam agama Hindu, yaitu Brahma.

Ketinggian Gunung Bromo mencapai 2.614 meter di atas permukaan laut. Sedangkan tubuhnya masuk ke dalam empat wilayah kabupaten, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang.

Dikutip dari Magmagama Expedition: The Secret of Bromo susunan Arif Muchlisin dkk., proses pembentukan Gunung Bromo dimulai sejak 1,5 juta tahun lalu. Prosesnya dibagi ke dalam lima periode. Simak sejarah Gunung Bromo selengkapnya di bawah ini.

1. Periode Pertama Pembentukan Gunung Bromo

Pada periode ini, kawasan pegunungan Tengger yang dihuni Gunung Bromo awalnya hanya memiliki satu gunung api, yaitu Gunung Tengger. Ketinggiannya mencapai 4.000 m dengan sebuah kawah di puncaknya.

Gunung api tersebut mempunyai pusat erupsi di Ngadisari, serta kerucut parasitik (Gunung Ijo) di sebelah barat. Gunung Ijo tersusun oleh lava basaltik berumur sekitar 300 ribu tahun lalu.

2. Periode Kedua Pembentukan Gunung Bromo

Pada periode kedua, aktivitas vulkanisme terjadi di Gunung Tengger. Erupsinya berbentuk letusan freatik, yaitu letusan yang melontarkan bahan padat dari lubang kawah.

Kemudian letusannya berkembang menjadi magmatik, di mana bahan padat keluar langsung dari magma. Erupsi ini sangat besar sampai akhirnya meruntuhkan tubuh Gunung Tengger pada sisi timur.

Reruntuhan itu membentuk bukaan yang mengarah ke timur dan utara. Bukaan itu dikenal sebagai Kaldera Ngadisari, Lembah Sapikerep, dan Kipas Sukapura.

3. Periode Ketiga Pembentukan Gunung Bromo

Dahsyatnya erupsi pada periode kedua menyebabkan semua material di dalam dapur magma Gunung Tengger terkuras. Akibatnya, aktivitas vulkanisme mengalami masa istirahat yang cukup lama.

Saat aktivitas vulkanisme kembali terjadi, pusat lokasinya pindah ke arah barat. Dampaknya, terbentuk kerucut baru yang cukup banyak, seperti Gunung Lingker di sebelah selatan, Gunung Penanjakan di barat daya, Gunung Argowulan di utara, dan lain-lain.

Erupsinya juga menghasilkan produk vulkanik yang membentuk kawah berukuran kurang lebih 3 km. Kawah itu dikenal sebagai Kaldera Argowulan.

Namun, erupsi selanjutnya menyebabkan Kaldera Argowulan runtuh. Menyisakan dinding tubuh gunung api dari Gunung Lingker, Gunung Penanjakan, dan Gunung Argowulan seperti yang tampak saat ini.

4. Periode Keempat Pembentukan Gunung Bromo

Erupsi kembali terjadi dan membentuk gunung api baru di antara dinding Cemara Lawang serta Gunung Batok. Aktivitas vulkaniknya diawali dengan terbentuknya endapan akibat letusan magma bercampur dengan air.

Periode ini didominasi oleh letusan dahsyat. Pada periode inilah terbentuk Kaldera Lautan Pasir berdiameter kurang lebih 10 km.

5. Periode Kelima Pembentukan Gunung Bromo

Aktivitas vulkanik terjadi di dalam Kaldera Lautan Pasir. Selama periode ini, terbentuk beberapa gunung api kecil di dalamnya.

Mulanya, terbentuk Gunung Widodaren yang menghasilkan endapan jatuhan abu hitam di dalam Kaldera Lautan Pasir. Endapan itu terdiri dari dua lapisan yang berumur kurang lebih 200 ribu tahun.

Kemudian, terbentuk Gunung Kursi-Watangan pada sisi tenggara Gunung Widodaren. Setelahnya, terbentuk Kawah Segorowedi Kidul di timur, dan disusul pembentukan Kawah Segorowedi Lor pada sisi utara.

Selanjutnya, terbentuk Gunung Batok yang sedikit terpisah dari kompleks tubuh gunung api. Kemudian, pusat erupsi kembali bergerak ke tenggara dan menyebabkan terbentuknya Gunung Bromo.

Baca Juga: Mitos Gunung Bromo yang Masih Diyakini hingga Sekarang