Sejarah Perjanjian Aqabah, Dakwah dan Pembebasan dari Kaum Quraisy

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perjanjian Aqabah merupakan salah satu peristiwa sejarah penyebaran agama Islam. Peristiwa itu terjadi pada tahun ke-12 kenabian Nabi Muhammad SAW.
Nama perjanjian Aqabah sendiri berasal dari tempat terjadinya peristiwa tersebut, yakni Bukit Aqabah yang terletak di Makkah. Adapun nama lain dari perjanjian tersebut adalah Bai’atul Aqabah yang berarti janji setia di Bukit Aqabah.
Dalam peristiwa ini, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan rombongan yang berasal dari Yatsrib. Rombongan tersebut diketahui berjumlah sekitar 12 orang.
Saat pertemuan itu, Nabi Muhammad SAW melakukan dakwah di depan rombongan Yatsrib. Karena dakwah itulah, para rombongan tersebut menyatakan keislamannya di hadapan Nabi Muhammad SAW dan membuat perjanjian sebagai berikut.
Menyatakan setia kepada Nabi Muhammad SAW
Rela berkorban harta dan jiwa
Turut serta dalam menyebarkan ajaran Islam yang dianutnya
Tidak akan menyekutukan Allah SWT
Tidak akan membunuh
Tidak akan melakukan kecurangan dan kedustaan.
Setelah itu, rombongan tersebut kembali ke wilayah asalnya, Yatsrib. Nabi Muhammad SAW pun mengutus Mus’ab bin Umair untuk berdakwah di sana.
Kemudian pada tahun ke-13 kenabian Nabi Muhammad SAW, datang kembali rombongan haji dari Yatsrib. Mereka diketahui berjumlah 73 orang pria dan 2 wanita.
Rombongan itu menemui Nabi Muhammad SAW atas nama penduduk Yatsrib. Dalam pertemuan tersebut, rombongan meminta agar Nabi Muhammad SAW bisa hijrah ke negeri mereka.
Permintaan tersebut disetujui dengan ikatan perjanjian di Bukit Aqabah. Perjanjian ini disebut dengan Bai’atul Aqabah al-Kubra, yang memiliki isi sebagai berikut.
Penduduk Yatsrib siap dan rela melindungi Nabi Muhammad SAW
Ikut berjuang dan membela Islam dengan harta dan jiwa
Ikut memajukan agama Islam dan menyiatkan kepada sanak saudara mereka
Siap menerima segala tantangan dan risiko.
Dengan adanya perjanjian ini, Nabi Muhammad SAW memerintahkan kaum muslimin hijrah ke Yatsrib. Hal itu membuat penduduk Yatsrib terbebas dari gangguan kaum Quraisy.
(DNA)
