Tradisi Puasa Ngrowot yang Biasa Dijalankan Orang Jawa beserta Keutamaannya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puasa ngrowot adalah tradisi puasa yang biasa dijalankan oleh masyarakat Jawa untuk menyambut bulan Sura dan Ramadhan. Puasa ini diyakini bisa membersihkan jiwa dan raga seseorang dari hal-hal buruk yang menyertainya.
Puasa ngrowot juga bisa menjadikan seseorang lebih khusyuk dalam menjalani ibadah. Mengutip buku Bahagia Ala Orang Jawa susunan Asti Musman, puasa ini berfungsi untuk menangkal roh-roh jahat yang diyakini bisa mengganggu umat Muslim.
Di pesantren, puasa ngrowot biasa dilakukan untuk memohon keberkahan ilmu kepada Allah SWT. Alhasil, semua yang dipelajari oleh para santri dapat menjadi ilmu yang bermanfaat bagi sesama.
Puasa ngrowot biasanya dibarengi dengan puasa mutih. Agar lebih memahaminya, simaklah penjelasan tentang puasa ngrowot beserta keutamaannya dalam artikel berikut ini.
Baca juga: Pantangan Puasa Weton dan Tata Caranya dalam Tradisi Kejawen
Keutamaan Puasa Ngrowot
Tradisi puasa ngrowot telah dijalankan oleh masyarakat Jawa sejak dulu. Puasa ini diyakini memiliki keutamaan tertentu seperti sarana penguatan batin, simbol keprihatinan, dan lain-lain.
Berbeda dengan jenis puasa pada umumnya, puasa ngrowot tidak diawali dengan sahur dan tidak diakhiri dengan berbuka. Orang yang menjalankan puasa ini juga tidak diwajibkan menahan makan dan minum selama pelaksanaannya.
Hanya ada satu pantangan yang mesti dipenuhi, yakni tidak boleh memakan beras ataupun makanan yang berasal dari beras. Sebagai penggantinya, mereka bisa mengonsumsi umbi-umbian seperti singkong, ubi, jagung, dan lain-lain.
Sebelum melaksanakan puasa ngrowot, seseorang perlu mendapatkan ijazah atau izin dari ustadz terlebih dahulu. Tujuannya yaitu agar amalan yang dilakukan bisa mendapatkan ridha Allah SWT.
Mengutip skripsi Kebahagiaan Pelaku Puasa Ngrowot di Desa Dadapayam Suruh Kabupaten Semarang susunan Auliya El Haq (2016), ada beberapa amalan yang bisa dilakukan saat menjalankan puasa ngrowot. Orang yang menjalankan puasa kebatinan ini tidak boleh meninggalkan sholat fardu dan dianjurkan untuk membaca Alquran secara rutin.
Puasa ngrowot dilakukan sejak waktu Subuh hingga terbenamnya matahari. Saat menjalankan puasa kebatinan ini, seseorang bisa membarenginya dengan puasa mutih, puasa ngepel, dan puasa patigeni.
Tingkat puasa ngrowot tergolong ringan jika dibandingkan dengan puasa tarekat lainnya. Sebab, pelakon masih dibolehkan untuk merasakan aneka bahan pangan selain yang berbahan dasar beras.
Mereka dibolehkan memakan tiga jenis pangan, yaitu pala kependhem, pala kesimpar, dan pala gumandul. Pala kependhem adalah berbagai jenis umbi-umbian seperti kentang, singkong, ubi jalar, talas, gadhung, garut, ganyong, gembili, suweg, mbote dan sejenisnya.
Pala kesimpar adalah jenis sayuran seperti mentimun, kacang-kacangan, labu, pare, semangka, melon, dan lainnya. Sedangkan pala gumandul dalam bentuk buah-buahan seperti pepaya, mangga, pisang, jambu biji, dan lain sebagainya.
Baca juga: Pengertian, Tata Cara, dan Manfaat Puasa Mutih
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa itu puasa ngrowot?

Apa itu puasa ngrowot?
Puasa ngrowot adalah tradisi puasa yang biasa dilakukan orang Jawa untuk menyambut bulan Sura dan Ramadhan.
Apa pantangan saat menjalankan puasa ngrowot?

Apa pantangan saat menjalankan puasa ngrowot?
Tidak boleh makan beras.
Apa amalan yang bisa dikerjakan saat menjalankan puasa ngrowot?

Apa amalan yang bisa dikerjakan saat menjalankan puasa ngrowot?
Jangan tinggalkan sholat fardu dan dianjurkan untuk membaca Alquran selepas sholat.
