Pencarian populer
USER STORY
20 Februari 2019 16:49 WIB
..
..

Uniknya Pasar Papringan di Temanggung yang Pakai Uang Bambu

Pasar Papringan di Temanggung, Jawa Tengah (Foto: Instagram/@pasarpapringan)

Hampir di setiap daerah terdapat pasar, terlebih pasar tradisional. Ia merupakan tempat yang menjadi pusat terjadinya transaksi antara penjual dan pembeli. Secara visual, mungkin orang akan membayangkan bahwa pasar-pasar tradisional memiliki tampilan yang seperti itu-itu saja, bahkan cenderung kumuh.

Berbeda dengan salah satu pasar di Temanggung, Jawa Tengah. Pasar Papringan namanya. Ia berada di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Pasar tradisional tersebut berbeda karena memiliki sistem transaksi yang unik, tatanan yang menarik, hingga berbagai kegiatan yang dilaksanakan di pasar tersebut.

1. Berada di Tengah Rerimbunan Pohon Bambu

Pasar Papringan dikelilingi oleh rerimbunan pohon bambu (Foto: Instagram/@pasarpapringan)

Sesuai dengan namanya, Papringan yang berarti tempat yang banyak pohon bambunya, pasar tersebut juga dikelilingi pohon bambu. Rimbunnya pohon bambu tersebut membuat para pengunjung tidak terlalu tersengat sinar matahari saat matahari mulai naik. Selain itu, pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi itu menambah kesan asri pasar tradisional tersebut.

2. Hanya Buka Dua Kali dalam Sebulan

Tidak hanya masyarakat sekitar, Pasar Papringan juga didatangi masyarakat luar daerah hingga wisatawan asing (Foto: Instagram/@pasarpapringan)

Tidak setiap hari, Pasar Papringan hanya buka dua kali dalam sebulan, Minggu Wage dan Minggu Pon. Pasar tersebut buka mulai pukul 06.00 WIB sampai barang dagangan habis. Namun, biasanya sekitar pukul 12.00 WIB barang-barang lapak penjual sudah ludes. Jadi, jangan sampai datang di atas jam tersebut untuk mendapatkan berbagai belanjaan di pasar tersebut.

3. Menggunakan Uang Bambu untuk Bertransaksi

Untuk dapat berbelanja di Pasar Papringan harus menukarkan uang dengan uang bambu yang telah disediakan panitia (Foto: Instagram/@pasarpapringan)

Serba bambu, alat transaksi di Pasar Papringan pun terbuat dari bambu. Saat hendak masuk, pengunjung terlebih dulu menukarkan uang dengan uang bambu di stand yang sudah disediakan oleh panitia. Setiap satu keping uang bambu seharga Rp 2.000. Begitu pun nilainya saat nanti digunakan untuk berbelanja.

Uang bambu tersebut tidak dapat dirupiahkan lagi jika tidak habis dibelanjakan. Oleh sebab itu, pembeli harus melakukan penghitungan keping uang bambu yang dimiliki dengan belanjaannya. Hati-hati, terlebih jika salah perhitungan sehingga uangnya kurang.

4. Terdapat 140 Macam Jajanan Tempo Dulu

Di Pasar Papringan terdapat berbagai jenis makanan tempo dulu (Foto: Instagram/@pasarpapringan)

Sebagian besar yang dijual di Pasar Papringan adalah jajanan tradisional. Tidak heran jika berbagai jenis jajanan tradisional ditemukan di sana. Bahkan, menurut koordinator keuangan Pasar Papringan, setidaknya terdapat 140 jenis makanan tempo dulu. Di antaranya adalah gono jagung, kupat tahu, gudheg, gablog pecel, pepes, nasi kuning, gorengan, godhogan, susu kedelai, wedang tape, dan dawet.

Ada juga ketan cambah corak, tiwul, iwel-iwel, lento-lento kocomoto, kemplang, gemblong klomot, bajingan kimpul, singkong, jenang, jadah bakar, dan lain sebagainya. Belum lagi makanan-makanan khas pedesaan juga dapat ditemukan di sana. Semua makanan itu adalah hasil kreasi dari masyarakat sekitar. Selain itu, para pelapak di sana akan tampak berbeda, sebab menggunakan pakaian tradisional Lurik.

5. Terdapat Ruang Baca dan Pertunjukan Kesenian Daerah

Pertunjukan kesenian Gamelan di Pasa Papringan (Foto: Instagram/@pasarpapringan)

Tidak hanya terdapat berbagai jenis makanan, di Pasar Papringan juga terdapat ruang baca dan bermain bagi anak-anak. Selain itu juga terdapat pertunjukan kesenian daerah, seperti gamelan. Hal itu membuat kesan suasana pedesaan yang sangat kental.

Ditambah lagi segala benda yang digunakan sebagai pembungkus makanan tidak ada yang menggunakan bahan plastik. Semua benar-benar menghadirkan kesan tempo dulu. Dengan demikian, penggunaan bahan bukan plastik itu diharapkan dapat menjaga dan memelihara lingkungan dari sampah berbahaya.

Ruang baca di Pasar Papringan, Temanggung (Foto: Instagram/@pasarpapringan)

Sebelum menjadi pasar seperti saat ini, konon pasar tersebut adalah tempat yang dipercaya angker. Ia hanyalah lahan kosong yang banyak ditumbuhi pohon bambu. Bahkan tempat tersebut berada tidak jauh dari pemakaman dan tempat pembuangan sampah.

Atas pemikiran kreatif Singgih Susilo Kartono sebagai founder, tempat tersebut akhirnya disulap menjadi tempat yang menarik wisatawan domestik hingga asing. Meski sebagai pasar tradisional, namun Pasar Papringan memiliki spot-spot foto Instagramable. Sebab, pasar tersebut digarap serius dengan menggunakan jasa desainer dari Thailand.

Pasar tersebut juga didirikan demi mengangkat ekonomi masyarakat sekitar. Demi mencapai tujuan itu, bahkan di tengah pasar dibuatlah lintasan yang membentuk angka delapan. Konon, angka tersebut dianggap sebagai simbol keberuntungan.

(zhd)

Baca lebih banyak berita mengenai artis/seleb/sepak bola/info unik lebih nyaman di aplikasi kumparan.

Download aplikasi Android di sini.

Download aplikasi iOS di sini.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: