3 Contoh Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi di Kelas

Penulis kumparan
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Contoh penerapan pembelajaran berdiferensiasi adalah salah satu cara guru menyesuaikan metode mengajar. Pembelajaran yang adaptif seperti ini juga menjadi solusi untuk mengatasi keragaman dalam kelas yang semakin beragam.
Dalam dunia pendidikan modern, pembelajaran berdiferensiasi dianggap sebagai pendekatan yang mampu mendorong terciptanya pengalaman belajar yang adil dan menyenangkan. Tidak hanya fokus pada hasil akhir, diferensiasi juga menekankan proses belajar.
Contoh Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi adalah Strategi Guru dalam Proses Belajar Mengajar di Kelas
Pembelajaran berdiferensiasi adalah strategi mengajar guru yang menyesuaikan cara mengajar, materi, atau aktivitas belajar sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, minat, dan gaya belajar siswa. Jadi bukan semua siswa diperlakukan sama persis, tapi lebih ke arah menyesuaikan supaya setiap anak bisa berkembang maksimal.
Berdasarkan buku Integrasi Model Problem Based Learning pada Pembelajaran Berdiferensiasi di Sekolah Dasar untuk Mewujudkan School Well-Being di Era Merdeka Belajar, Fidiana Astutik, dkk., (2023), salah satu keunggulan pembelajaran berdiferensiasi adalah dapat memenuhi kebutuhan belajar siswa yang berbeda.
Keunggulan tersebut dapat dimaksimalkan dengan penerapan yang tepat. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas artinya bagaimana guru secara nyata menerapkan strategi differentiated instruction saat proses belajar mengajar berlangsung.
Ini adalah konsep sekaligus tindakan nyata di kelas untuk menyesuaikan materi, proses, atau produk belajar sesuai kebutuhan siswa. Beberapa contoh penerapan pembelajaran berdiferensiasi adalah sebagai berikut.
1. Berdasarkan Kesiapan Belajar
Guru dapat membagi siswa ke dalam kelompok sesuai dengan kemampuan. Misalnya, dalam pelajaran matematika, siswa dengan kemampuan dasar diberikan soal sederhana seperti penjumlahan, sementara siswa dengan kemampuan menengah mengerjakan soal campuran antara penjumlahan dan pengurangan.
Adapun siswa yang sudah lebih mahir mendapat tantangan berupa soal cerita atau soal dengan tingkat kesulitan lebih tinggi. Dengan cara ini, setiap siswa tetap belajar topik yang sama tetapi sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.
2. Berdasarkan Minat Siswa
Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya saat membuat teks narasi, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih tema sesuai dengan minat mereka. Ada yang memilih menulis cerita tentang olahraga, ada yang lebih suka menulis tentang petualangan, dan ada juga yang menulis kisah tentang musik.
Kebebasan memilih tema ini membuat siswa lebih bersemangat dan termotivasi. Alasannya karena mereka menulis sesuatu yang sesuai dengan passion masing-masing.
3. Berdasarkan Profil Belajar (Gaya Belajar)
Guru juga dapat menyesuaikan metode pembelajaran berdasarkan gaya belajar siswa. Bagi siswa dengan gaya belajar visual, guru bisa menyediakan media berupa video atau mind map. Untuk siswa auditori, pembelajaran bisa dilakukan melalui diskusi atau penjelasan verbal.
Sementara itu, bagi siswa kinestetik, guru dapat memberikan aktivitas praktek langsung atau proyek. Misalnya, saat belajar tentang ekosistem, ada siswa yang menonton video dan ada yang membaca artikel. Dengan cara ini, setiap siswa bisa belajar sesuai dengan gaya yang paling nyaman bagi mereka.
Baca Juga: Tujuan Pembelajaran Berdiferensiasi di Kelas, Guru Wajib Tahu!
Contoh penerapan pembelajaran berdiferensiasi adalah upaya nyata dalam memberikan ruang bagi setiap siswa untuk berkembang sesuai potensi masing-masing. Dengan penerapan ini, proses belajar menjadi lebih inklusif, efektif, dan menyenangkan. (DNR)
