Konten dari Pengguna

Pengertian dan Contoh Pengendalian Sosial Koersif dalam Kehidupan Bermasyarakat

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pengendalian sosial koersif. Foto: Unsplash/Jacek Dylag
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengendalian sosial koersif. Foto: Unsplash/Jacek Dylag

Dalam kehidupan bermasyakarat, pengendalian sosial merupakan hal yang sangat penting. Sebab, adanya pengendalian yang satu ini berfungsi sebagai kontrol sikap dan perilaku yang bisa memicu konflik. Salah satu jenis dari pengendalian sosial adalah pengendalian sosial koersif.

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan pengendalian koersif dan bagaimana contohnya dalam kehidupan sosial?

Baca Juga: 4 Contoh Tindakan Pengendalian Sosial Preventif di Lingkungan Masyarakat

Pengertian dan Contoh Pengendalian Sosial Koersif dalam Kehidupan Bermasyarakat

Ilustrasi pengendalian sosial koersif dalam kehidupan bermasyarakat. Foto: Unsplash/Ryoji Iwata

Sebelum ke penjelasan tentang pengendalian sosial koersif, kita perlu menganal apa yang dimaksud dengan pengendalian sosial.

Menurut Karel J. Veeger, pengendalian sosial adalah hubungan atau sosialisasi dengan metode atau cara tertentu yang bertujuan untuk menyelaraskan kehendak kelompok masyarakat. Apabila perilaku dan sikap masyarakat yang selaras dengan norma sosial, maka akan tercipta konsistensi sikap sesuai dengan harapan.

Sedangkan menurut Soerjono Soekanto, pengendalian sosial bertujuan untuk mengajak, memaksa, dan membimbing masyarakat untuk memenuhi aturan yang berlaku, baik yang dilakukan secara direncanakan ataupun tidak direncanakan.

Adapun pengertian dari pengendalian sosial koersif yang dikutip dari buku Pasti Bisa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas X oleh Tim Ganesha Operation (2018: 67), pengendalian sosial koersif adalah upaya pengendalian sosial yang dilakukan dengan cara memaksa masyarakat agar bertindak sesuai dengan norma yang berlaku. Cara koersif biasanya dilakukan dengan menggunakan kekuatan fisik.

Cara koersif dilakukan sebagai upaya terakhir jika cara pengendalian persuasif tidak berhasil. Selain itu, cara koersif akan membawa dampak negatif secara langsung ataupun tidak langsung karena masalah diselesaikan dengan kekerasan.

Pengendalian sosial secara koersif sendiri dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:

  • Kompulsi (compulsion), yaitu kondisi atau situasi yang sengaja diciptakan sehingga seseorang terpaksa taat atau patuh pada norma-norma. Sebagai contoh untuk membuat jera para pencopet, masyarakat mengeroyok dan memukuli pencopet yang tertangkap tangan.

  • Pervasi (pervasion), yaitu penanaman norma secara berulang-ulang dengan harapan norma tersebut masuk ke dalam kesadaran seseorang sehingga orang tersebut akan mengubah sikapnya sesuai yang diinginkan. Contohnya, bimbingan orang tua terhadap anak-anaknya secara terus-menerus.

Meskipun pengendalian sosial koersif terkesan dipaksa dan berbau kekerasan, namun cara ini terbukti ampuh dalam mengendalikan perilaku masyarakat, terutama bagi masyarakat yang sulit diatur. Sehingga tidak ada orang yang melakukan penyimpangan akibat adanya hukuman bagi orang yang melanggarnya.(MZM)