Pengertian, Jenis, dan Amanat Geguritan Bahasa Jawa

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalian pasti sudah mengenal puisi, kan? Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang memiliki rima dan disusun secara bait. Sama seperti sastra Indonesia, sastra Jawa juga mengenal puisi namun dengan sebutan geguritan. Jelaskan amanat geguritan!
Selain amanat, kalian juga harus memahami apa pengertian dan jenis geguritan. Simak penjelasannya dalam artikel ini.
Baca juga: Contoh Geguritan Bahasa Jawa tentang Alam dan Ciri-cirinya
Amanat Geguritan Bahasa Jawa
Subalidinata dalam Belajar Bahasa Daerah Jawa Untuk Mahasiswa PGSD dan Guru SD oleh Damariswara (2020) menyatakan bahwa puisi dalam sastra Jawa baru modern disebut sebagai geguritan. Genre geguritan disebut memiliki kemiripan dengan genre puisi sastra Barat.
Masih merujuk dari sumber yang sama, Rass mengatakan bahwa terdapat kemiripan dengan genre sastra Barat pada semua genre sastra Jawa modern (cerkak, crita sambung, novel, dan puisi).
Geguritan termasuk dalam sastra Jawa modern yang menggunakan bahasa Jawa modern, bukan Kawi atau bahasa Jawa Kuna. Jadi, geguritan adalah puisi yang tidak terikat dengan aturan. Meskipun begitu, geguritan memiliki beberapa unsur, salah satunya adalah amanat.
Jelaskan amanat geguritan! Amanat merupakan sesuatu atau pesan yang ingin disampaikan oleh pangripta kepada para pembaca melalui geguritan. Penentuan amanat tergantung dari masing-masing pembacanya. Berikut ini penjelasan unsur geguritan lainnya:
Tema
Tema merupakan pokok persoalan atau pokok pikiran yang menjadi dasar terbentuknya suatu puisi. Yang menjadi tema bisa apa saja, misalnya soal kemanusiaan, sosial, cinta, dan sebagainya. Tema adalah dasar dari seluruh isi geguritan.
Diksi
Diksi atau pemilihan kata berkaitan dengan ketepatan penyair (pangripta) ketika menulis karya geguritannya. Diksi sangat penting dalam geguritan karena dengan diksi yang tepat akan lebih bisa mewakili isi hati pangripta.
Baca juga: 3 Contoh Geguritan Bahasa Jawa Tema Pendidikan dalam Sastra Jawa
Rima (purwakanthi)
Rima merupakan suara yang diulang-ulang pada larik-larik puisi. Rima dibagi menjadi asonani, aliterasi, rima akhir, rima dalam, rima rupa, rima identik, dan rima sempurna.
Jenis Geguritan
Dikutip dari Antologi Geguritan Tresna lan Kuciwa yang disusun oleh PBSD UNS 2019 (2020), geguritan dibagi menjadi dua, yaitu:
Geguritan lama/tradisional
Geguritan lama terikat dengan aturan-aturan tertentu seperti jumlah gatra (baris) tidak tetap, setiap gatra terdiri dari 8 wanda (suku kata), bunyi pada akhir kata bersuara sama, dan pada bagian awal dimulai dengan kata “sun gegurit” (aku mengarang).
Geguritan modern/kontemporer
Berbeda dengan geguritan lama, geguritan modern tidak terikat dengan aturan guru lagu (bunyi vokal pada akhir baris) dan guru wilangan (jumlah suku kata tiap baris) seperti macapat serta tidak terikat dengan metrum seperti kakawin.
Demikian penjelasan tentang geguritan bahasa Jawa. Semoga bermanfaat. (KRIS)
Baca juga: 3 Contoh Geguritan Bahasa Jawa tentang Ibu yang Penuh Makna
