Konten dari Pengguna

Penjelasan Hubungan Manusia dan Sistem Kepercayaan dalam Ilmu Sosial

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Hubungan Manusia yang Sudah Bertempat Tinggal dengan Adanya Sistem Kepercayaan. (Foto: BarbaraJackson by https://pixabay.com/id/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Hubungan Manusia yang Sudah Bertempat Tinggal dengan Adanya Sistem Kepercayaan. (Foto: BarbaraJackson by https://pixabay.com/id/)

Masyarakat zaman pra-aksara terutama periode zaman Neolitikum sudah mengenal sistem kepercayaan. Adapun pada saat itu masyarakat juga sudah memahami adanya kehidupan setelah kematian. Terdapat hubungan manusia yang sudah bertempat tinggal dengan adanya sistem kepercayaan.

Keyakinan bahwa roh orang yang telah meninggal akan ada di alam lain dan harus dihormati oleh sanak kerabatnya membentuk sebuah ritual atau upacara penguburan. Selain itu, upacara-upacara pesta juga berkaitan dengan bangunan suci.

Mengenal Hubungan Manusia yang Sudah Bertempat Tinggal dengan Adanya Sistem Kepercayaan

Ilustrasi Hubungan Manusia yang Sudah Bertempat Tinggal dengan Adanya Sistem Kepercayaan. (Foto: ToniaD by https://pixabay.com/id/)

Sebelumnya artikel ini telah membahas bahwa sistem kepercayaan bermula dari masyarakat sadar adanya kehidupan setelah kematian. Sistem kepercayaan itulah yang telah melahirkan tradisi megalitik dan mendirikan batu-batu besar, seperti dolmen, punden berundak, dan sarkofagus sebagai perwujudan adanya kekuatan di luar manusia.

Batu-batu besar ini juga menjadi perlindungan bagi manusia yang berbudi luhur dan memberi peringatan bahwa kebaikan kehidupan di akhirat hanya akan dicapai dari perbuatan baik. Dikutip dari buku Sejarah Nasional Indonesia yang ditulis oleh Edi Hernadi, sistem kepercayan juga mengajarkan tentang rasa hormat akan leluhur.

Oleh karena itu, upacara kematian merupakan manifestasi dari rasa bakti dan hormat seseorang terhadap leluhur yang telah meninggal. Kepercayaan ini mulai berkembang setelah adanya pelayaran.

Masyarakat zaman praaksara akhir mulai mengenal sedekah laut dan banyak barang yang dikembangkan. Bentuknya mungkin semacam selamatan apabila berlayar jauh atau mungkin saat pembuatan perahu.

Tentunya hal ini berkaitan dengan manusia purba yang menetap dan memiliki agama, walaupun pada awalnya kepercayaan yang berkembang adalah animisme dan dinamisme. Kepercayaan animisme merupakan sebuah sistem kepercayaan yang memuja roh nenek moyang, sedangkan dinamisme menunjukkan adanya benda-benda tertentu yang memiliki kekuatan gaib sehingga dihormati dan dikeramatkan.

Baca juga: Pembagian Zaman Prasejarah di Indonesia yang Perlu diketahui

Sistem kepercayaan nenek moyang sudah ada dari dulu hingga sampai sekarang dapat ditemukan di beberapa daerah. Demikian penjelasan mengenai hubungan manusia yang sudah bertempat tinggal dengan adanya sistem kepercayaan. Semoga informasi di atas dapat menambah wawasan! (CHL)