Rasio Bahan dalam Pembuatan Eco-enzyme dan Kriteria Wadah yang Tepat

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembuatan eco-enzyme merupakan kegiatan yang dapat membantu pengelolaan sampah organik di rumah. Kunci dari pembuatan zat cair serbaguna tersebut adalah rasio yang tepat. Rasio bahan dalam pembuatan eco-enzyme adalah tentang kuantitas yang tepat.
Jika kuantitas sampah, gula, dan air tidak sesuai dengan rasionya, ada banyak risiko yang dapat terjadi. Beberapa contoh risikonya, yaitu fermentasi gagal, eco-enzyme beraroma busuk, dan munculnya larva serangga (lalat, semut, atau lainnya).
Rasio Bahan dalam Pembuatan Eco-enzyme adalah Berapa?
Eco-enzyme adalah cairan serbaguna yang merupakan hasil fermentasi sampah organik dengan gula dan air. Zat cair tersebut dapat menjadi pembersih alami untuk membersihkan lantai, kaca, dan/atau dapur.
Dikutip dari buku Eco-Enzyme dalam Berbagai Kekayaan Kearifan Budaya Nias Selatan, Amaano, dkk. (2025: 53), eco-enzyme juga sangat efektif digunakan sebagai pestisida alami untuk mengatasi hama dan penyakit pada tanaman.
Kunci untuk membuat eco-enzyme yang dapat berfungsi secara efektif, baik sebagai pembersih maupun pembasmi hama adalah rasio yang tepat. Rasio bahan dalam pembuatan eco-enzyme adalah acuan kuantitas sampah, gula, dan air.
Dikutip dari buku Cerdas Mengelola Kebun Hingga Sampai Dapur, Nurenik dan Nurul (2024: 30), perbandingan bahan untuk membuat eco-enzyme adalah 3 : 1 : 10. Maksud perbandingan tersebut, yaitu:
Tiga bagian untuk bahan organik.
Satu bagian untuk molase (gula merah atau gula aren).
Sepuluh bagian air.
Pembuatan eco-enzyme tidak dapat menggunakan gula pasir. Jadi, harus gula merah atau gula aren. Selain perbandingan yang benar, wadah pembuatan eco-enzyme pun harus cocok.
Wadah yang Cocok untuk Pembuatan Eco-enzyme
Pembuatan eco-enzyme dapat menggunakan wadah dari plastik, baik stoples plastik atau botol bekas. Wadah tersebut cocok untuk mengoptimalkan proses fermentasi.
Wadah kaca tidak disarankan untuk membuat eco-enzyme karena memiliki risiko pecah. Kaca dapat pecah akibat gas yang dihasilkan selama masa fermentasi. Selain kaca, wadah berbahan logam pun tidak dapat digunakan.
Mengutip dari buku yang sama karya Nurul (2024: 31), eco-enzyme bersifat asam dengan pH di bawah 4 sehingga dapat menyebabkan karat. Selama proses fermentasi, eco-enzyme dapat mengeluarkan gas sehingga wadah perlu dibuka agar tidak meledak.
Baca juga: Mengetahui Fungsi Molase dalam Proses Pembuatan Kompos
Rasio bahan dalam pembuatan eco-enzyme adalah hal yang penting untuk dipahami sebelum membuat zat cair serbaguna. Pembuatan zat cair tersebut dapat menjadi referensi mengelola sampah menjadi bahan bermanfaat. (AA)
