Konten dari Pengguna

Doa I'tidal Arab, Latin, dan Terjemahannya dalam Sholat

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 5 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gerakan iktidal. Foto: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gerakan iktidal. Foto: Pexels.com

Doa iktidal menjadi salah satu bacaan dalam ibadah salat. Seperti yang kita ketahui, salat adalah rukun Islam yang harus dilaksanakan oleh setiap pemeluknya.

Ibadah ini juga menjadi amalan pertama yang akan dihisab di akhirat kelak. Sebab itu, setiap muslim selalu berusaha untuk menyempurnakan bacaan salatnya mulai dari takbir sampai dengan salam.

Allah SWT memerintahkan setiap Muslim untuk melaksanakan ibadah salat lima waktu dalam sehari. Seorang Muslim yang mendirikan salat akan mendapatkan pahala di sisi Allah SWT. Ini tertuang dalam Surah Al-Baqarah ayat 110.

وَاَقِيۡمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّکٰوةَ  ؕ وَمَا تُقَدِّمُوۡا لِاَنۡفُسِكُمۡ مِّنۡ خَيۡرٍ تَجِدُوۡهُ عِنۡدَ اللّٰهِ ؕ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِيۡرٌ

"Dan laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

Salat merupakan ibadah yang berbentuk perkataan dan perbuatan dengan diawali oleh gerakan takbir dan diakhiri oleh salam. Gerakan-gerakan itu disebut sebagai rukun fi’li.

Mengutip buku Terapi Shalat Sempurna oleh Ustaz Ahmad Baei Jafar, rukun fi’li didefinisikan sebagai perbuatan-perbuatan dalam ibadah salat dan merupakan rukun terpenting. Salah satu rukun fi’li yang wajib dilakukan ketika salat adalah iktidal.

Iktidal merupakan posisi berdiri yang memisahkan antara ruku dan sujud. Gerakan ini wajib dilakukan agar ibadah shalat bisa dianggap sah.

Rukun Salat

Ilustrasi seorang muslim menunaikan salat. Foto: Pexels.com

Sebelum membahas mengenai bacaan doa iktidal, ada baiknya jika kita memahami rukun salat. Dalam buku yang berjudul Terapi Shalat Sempurna oleh Ustaz Ahmad Baei Jaafar menjelaskan bahwa ada tiga kelompok rukun salat.

Tiga kelompok rukun salat, yaitu rukun qauli, rukun fi’li, dan rukun qalbi. Berikut adalah penjelasan dari ketiga rukun tersebut.

Rukun Qauli

Rukun Qauli, yakni perkataan atau bacaan-bacaan dalam salat misalnya:

  • Takbiratul Ihram

  • Surah Al Fatihah

  • Tahiyat Akhir

  • Selawat kepada Nabi dalam Tahir

  • Salam yang pertama

Rukun Fi’li

Rukun Fi’li, yakni perbuatan-perbuatan dalam salat yang meliputi. Adapun beberapa gerakan salat wajib dalam rukun fi’li, yaitu:

  • Berdiri dengan benar

  • Rukuk

  • Iktidal

  • Sujud

  • Duduk di antara dua sujud

  • Duduk tahiyat akhir

Rukun Qalbi

Rukun Qalbi, yaitu pekerjaan yang melibatkan hati. Rukun ini meliputi niat dan tertib.

Bacaan Doa Iktidal

Ilustrasi gerakan iktidal. Foto: Pexels.com

Mengutip dari buku Tafsir Shalat oleh Ammi Nur Baits, ada dua bacaan doa Iktidal, yaitu tasmi dan tahmid. Bacaan tasmi’ dimulai sejak bangkit dari rukuk, bukan setelah berdiri dari ruku. Bacaan ini wajib dibaca oleh imam, makmum, atau orang yang salat sendirian.

Bagaimana Bunyi Doa Tasmi Ketika Iktidal?

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

Sami'allahu liman hamidah

Aku mendengar orang yang memuji-Nya

Doa Kedua, Tahmid

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Rabbanaaa lakal hamdu mil-ussamaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du (HR. Muslim dan Abu Awanah)

Artinya: Ya Allah Tuhan kami! Bagi-Mu lah segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu.

Tata Cara Melakukan Iktidal Sesuai Sunnah Rasul

Menurut buku Mudah dan Cepat Hafal Semua Bacaan Shalat, Doa Pilihan dan Surat Pendek oleh Ustadz Khalili Amrin Ali, berikut ini beberapa tata cara melakukan iktidal sesuai sunnah Rasul yang dapat kamu contoh ketika melaksanakan salat:

  1. Bangkit dari rukuk membaca tasmi.

  2. Mengangkat tangan ketika berdiri di Iktidal, dengan cara yang sama seperti ketika takbiratul ihram.

  3. Pendapat yang lebih kuat, posisi tangan ketika Iktidal tidak sedekap tapi dilepas (irsal).

  4. Memperlama Iktidal dengan mengulang-ulang bacaan I’tidal.

  5. Membaca doa Iktidal setelah berdiri sempurna.

  6. Diwajibkan membaca doa Iktidal minimal satu kali.

Syarat Melakukan Iktidal Sesuai Sunnah Rasul

Ilustrasi gerakan rukuk. Foto: Pexels.com

Mengutip dari laman Nahdlatul Ulama Indonesia, berbicara mengenai tata cara melakukan iktidal tidak bisa terlepas dari tata cara melakukan rukuk. Hal tersebut karena keduanya berkesinambungan antara satu dengan yang lainnya.

Kedua gerakan rukun salat tersebut juga wajub dikerjakan dengan baik dan benar sesuai dengan aturan yang ada. Berikut ini penjabaran syarat melakukan iktidal dan rukuk sesuai sunnah Rasul:

1. Rukuk

Dalam Kitab Al-Fiqhul Manhaji oleh Dr. Musthafa Al-khin, rukuk didefinisikan sebagai merunduknya badan orang yang salat dengan ukuran sekiranya kedua telapak tangan sampai pada kedua lututnya.

Adapun posisi rukuk yang sempurna adalah merunduk di mana posisi punggung dan leher sejajar, datar, lurus dan tidak melengkung, kedua betis berdiri tegak dengan kedua lutut dipegang oleh kedua telapak tangan dengan jari-jari terbuka serta diam tenang seraya tiga kali mengucapkan doa:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ

Subhâna Rabbiyal ‘Adhîmi

Sebagai salah satu rukun salat, ruku memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang muslim yang beribadah salat. Tidak terpenuhinya salah satu syarat dapat menjadikan rukuknya tidak sah yang juga berdampak pada tidak sahnya salat yang sedang dilakukan.

Dalam kitab Al-Fiqhul Manhaji menyebutkan terdapat tiga syarat yang harus dipenuhi ketika rukuk. Berikut ini ketiga syarat rukuk tersebut, yaitu:

  1. Merundukkan tubuh sebagaimana disebut di atas dengan kedua telapak tangan bisa mencapai kedua lutut.

  2. Merunduknya bukan dimaksudkan untuk sesuatu selain rukuk. Contohnya merunduk untuk memegang bagian kaki yang terasa sakit.

  3. Tenang (tuma’ninah), Orang yang melakukan rukuk harus disertai dengan tuma’ninah yang berarti tubuhnya yang merunduk itu harus tenang terdiam minimal selama bacaan kalimat tasbih subhanallah.

2. Iktidal

Iktidal merupakan posisi berdiri yang memisahkan antara rukuk dan sujud. Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya Kasyifatus Saja mendefinisikan iktidal sebagai kembalinya orang yang shalat pada posisi sebelum ia melakukan rukuk.

Serupa dengan rukuk, iktidal juga memiliki beberapa syarat dalam pelaksanaannya. Berikut ini ketiga syarat melakukan iktidal yang benar sesuai sunah rasul:

  1. Bangunnya dari ruku’ tidak dimaksudkan untuk tujuan lain selain iktidal itu sendiri.

  2. Tenang (tuma’ninah), Pada saat melakukan iktidal harus dibarengi dengan tuma’ninah posisi tubuh tegak berdiri dalam keadaan diam dan tenang minimal selama bacaan kalimat tasbih subhanallah.

  3. Iktidal tidak dilakukan dengan berdiri dalam waktu yang lama melebihi lamanya berdiri pada saat membaca surah Al-Fatihah. Karena iktidal merupakan rukun yang pendek maka tidak boleh memanjangkannya.

Demikian penjelasan lengkap mengenai doa iktidal beserta tata cara dan syarat melaksanakannya. Kamu dapat menerapkan tata cara dan syarat-syarat iktidal yang telah dijelaskan di atas ketika melaksanakan shalat. Semoga bermanfaat, ya!

(AA dan FNS)