Konten Media Partner

Baru Sadar Kanker Payudara Setelah Ibu Temukan Bercak Cokelat di Bra

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dokter Dwirani 'Wiwien' Rosmala, spesialis bedah payudara di RS Onkologi Surabaya. Foto : Windy Goestiana/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Dokter Dwirani 'Wiwien' Rosmala, spesialis bedah payudara di RS Onkologi Surabaya. Foto : Windy Goestiana/Basra

Breast cancer awareness atau bulan kesadaran tentang kanker payudara selalu jatuh di bulan Oktober. Dari data yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI pada Januari 2019, angka kejadian kanker payudara lebih tinggi dibanding kanker serviks.

Tiap 42 dari 100.000 penduduk di Indonesia divonis kanker payudara. Sedangkan jumlah kematian karena kanker payudara rata-rata 17 per 100.000 penduduk. Jumlah ini masih terbilang tinggi. Di negara maju, kematian akibat kanker payudara telah menurun sampai 40 persen karena program deteksi dini sudah jadi keharusan.

Di Indonesia, program periksa payudara sendiri (SADARI) belum rutin dilakukan para perempuan. Padahal menurut dokter spesialis bedah payudara, dr Dwirani Rosmala SpB, kanker payudara yang ditemukan dalam stadium dini atau yang masih berukuran kurang dari 1,5 cm, bisa meningkatkan harapan kesembuhan.

"Tingkat keberhasilan pengobatan kanker payudara yang ditemukan pada stadium dini bisa mencapai 95 persen. Harapan sembuh lebih besar dan wanita tidak perlu kehilangan payudaranya," kata dr Wiwien, sapaan Dwirani Rosmala, yang ditemui Basra di Rumah Sakit Onkologi Surabaya (RSOS) pada Rabu (2/10).

Gambar oleh Gordon Johnson dari Pixabay

Bila dua puluh tahun lalu pasien kanker payudara didominasi perempuan berusia 40-50 tahun, sejak lima tahun terakhir RSOS pernah menerima pasien kanker payudara di usia 16 tahun.

"Pasien remaja itu berobat ke sini (RSOS). Saat itu dia sadar kalau ada benjolan di payudaranya, tapi karena tidak sakit dia abai. Mungkin karena kurang informasi, dia tidak menyadari kalau benjolan itu kanker payudara," kata dr Wiwien.

Sembilan puluh persen kasus kanker payudara dini, menurut dr Wiwien, memang tanpa gejala dan tidak terasa menyakitkan. Karena itu penting bagi remaja untuk mulai mendeteksi apakah kedua payudaranya simetris secara ukuran dan bentuknya. Lalu apakah saat kedua lengan diangkat ke atas, payudara secara bersamaan bergerak ke atas, atau apakah ada yang tampak tertinggal.

Tak lupa untuk mengecek apakah puting susu tertarik masuk ke dalam, dan apakah ada cairan yang keluar dari puting.

"Ada pasien di sini umurnya 21 tahun tapi baru tahu kena kanker setelah ibunya mencuci bra yang dia pakai. Si ibu ini curiga, karena setiap cuci bra selalu ada bercak kecokelatan di bra anaknya. Saat kami periksa, betul itu kanker," kata dr Wiwien yang pernah menyelesaikan studi khusus payudara di European Academy of Senology, Dusseldorf, Jerman ini.

Hingga hari ini belum ada penelitian yang secara rinci mengungkap terjadinya kanker payudara. "Kita hanya bisa mengetahui faktor risiko terjadinya kanker payudara. Terkait faktor risiko tersebut dibedakan jadi dua yang bisa dihindari dan tidak bisa dihindari," kata dr Wiwien.

Faktor resiko yang tidak dapat dihindari adalah yang berhubungan dengan faktor genetik, seperti:

  1. Gender. Kanker payudara 100 x lebih sering pada wanita daripada laki-laki.

  2. Umur. Di Amerika 2 dari 3 wanita dengan kanker payudara yang telah menginvasi jaringan sekitar terdiagnosis setelah usia 55 tahun.

  3. Riwayat Keluarga. Remaja putri patut waspada bila dalam keluarganya ada lebih dari 1 yang terkena kanker payudara.

  4. Faktor genetik. Pada genetik dengan gen BRCA 1 dan BRCA 2 yang termutasi

  5. Riwayat menstruasi. Menstruasi di usia dini (sebelum 12 tahun) dan menopause yang lambat (setelah 55 tahun) berhubungan dengan lamanya paparan sel kelenjar payudara terhadap hormon estrogen.

  6. Riwayat reproduksi. Tidak memiliki anak atau melahirkan anak pertama pada usia diatas 35 tahun.

  7. Payudara yang padat (dense breast). Payudara yang padat mempunyai resiko 6x lebih besar untuk terkena kanker payudara dan lebih sulit untuk mendeteksi bila ada kanker payudara di dalamnya. Payudara padat bukan ditentukan oleh kekenyalan payudara saat diraba namun dilihat dari hasil mammografi yang menunjukkan gambaran kelenjar yang lebih banyak dari jaringan lemak (stroma) di sekitarnya.

Faktor resiko yang dapat dihindari adalah faktor lingkungan dan gaya hidup, seperti:

  1. Kurangnya olahraga. Olahraga bisa menurunkan 11 persen risiko kanker payudara.

  2. Kurangi konsumsi lemak tinggi, dan perbanyak konsumsi serat dari buah dan sayur.

  3. Obesitas terutama setelah menopause. (Hormon estrogen yang dihasilkan orang dengan obesitas umumnya tidak berkualitas baik)

  4. Minum-minuman beralkohol.

  5. Terapi radiasi di daerah dada sebelum usia 30 tahun.

  6. Terapi hormon pengganti kombinasi (Hormone Replacement Therapy (HRT).

Program deteksi dini kanker payudara dengan SADARI yang dianjurkan American Cancer Society (ACS) adalah :

  • Usia 20-25 tahun SADARI 1 bulan sekali 50 tahun (dilakukan 7 hingga 10 hari sesudah menstruasi).

  • Usia 25-35 tahun SADARI 1 bulan sekali disertai pemeriksaan dokter setiap tahun.

  • Usia 35 melakukan mamografi.

  • 35-59 tahun melakukan SADARI 1 bulan sekali, disertai pemeriksaan dokter tiap 6 bulan, dan mamografi sesuai anjuran dokter.

  • > 50 tahun melakukan SADARI 1 bulan sekali, disertai pemeriksaan dokter tiap 6 bulan, dan mamografi 1 tahun sekali.

Berikut cara melakukan SADARI :

  1. Dengan meraba seluruh bagian payudara sesuai yang dianjurkan untuk merasakan ada sesuatu di dalam payudara yang tidak biasa atau adanya cairan dari puting susu.

  2. Berbaring dan menaruh bantal pada sisi payudara yang akan diperiksa. Posisi lengan pada sisi payudara yang diperiksa diletakkan di belakang kepala

  3. Dengan tangan yang bebas, gunakan 3 jari dalam posisi jari sejajar dengan payudara (bukan tegak lurus) untuk memeriksa seluruh area payudara. Tekan dengan gerakan memutar dan naik-turun, awali dari daerah ketiak turun ke bawah lalu naik lagi. Sampai seluruh area payudara terperiksa termasuk daerah puting susu

  4. Pada perabaan, rasakan keseragaman kontur payudara. Jika merasakan sesuatu yang tidak wajar, perhatikan baik-baik dan ulangi serta bandingkan dengan daerah lainnya. Bila perlu catat dan ulangi pada pemeriksaan rutin bulan berikutnya atau segera memeriksakan diri ke dokter

  5. Kelainan yang teraba dapat berbentuk benjolan yang agak keras dan tidak menghilang setelah dua kali siklus menstruasi. Jangan tunggu, segera memeriksakan diri ke dokter jika benjolan tidak hilang, atau benjolan tumbuhsemakin besar, atau ada cairan keluar dari puting.

(Reporter : Windy Goestiana)