Batik Masih Diminati saat Industri Tekstil Bertumbangan, Ini Sebabnya
·waktu baca 1 menit

Sepanjang 2024 puluhan industri garmen di Indonesia harus tutup dan memPHK karyawannya. Ini terjadi karena lesunya peminat industri tekstil dalam negeri. Namun berbanding terbalik dengan industri batik yang justru makin berkibar.
Bisnis development Manager Hadinata Batik Azwar Satrio Dirgantoro mengungkapkan, selama batik masih menjadi budaya Indonesia, industri fashion batik tak akan meredup. Ia optimis penjualan batik akan terus berpotensi di tengah masyarakat.
"Selama batik masih diangkat menjadi budaya kita, (batik) masih memiliki potensi penjualan di masyarakat," ujar Satrio kepada Basra, (15/1).
Satrio melanjutkan, batik berbeda dengan industri tekstil yang kini banyak berguguran. Batik memiliki nilai tersendiri yang tidak dimiliki oleh negara lain. Garmen atau tekstil yang memproduksi pakaian sehari-hari bisa dibuat di negara mana pun, tetapi batik dijumpai di Indonesia.
"Kalau kita bicara baju casual, baju harian, itu semua negara bisa memproduksinya. Tapi kalau kita ngomong batik, tapi kemudian kita bilang batik produksi Cina value-nya pasti sudah beda, jadi sudah bukan sesuatu dari tradisi kita," tukasnya.
Hadinata Batik merupakan produsen batik asal Solo, Jawa Tengah, dengan ciri khas desain premium yang berdiri sejak 2013.
