Kelas Inspirasi, Undang Penyintas ADHD yang Berhasil Jadi Sarjana Kedokteran
·waktu baca 2 menit

Cita-cita Surabaya memiliki sekolah AREK yang 'Aman, Rekreatif, Edukatif, dan Kreatif' diwujudkan secara menarik di SDN Gununganyar 273 Surabaya.
Sejak pukul 7 pagi, siswa-siswi kelas 1 sampai 6 berkumpul di halaman sekolah untuk mengikuti Kelas Inspirasi yang diselenggarakan pihak sekolah.
"Seperti nama acaranya, Kelas Inspirasi ini adalah cara untuk mengenalkan sosok-sosok inspiratif pada anak-anak. Selain kami mengundang orang tua siswa yang berprofesi sebagai tentara angkatan laut, kami juga seorang perempuan bernama Azzel yang dulu divonis gangguan ADHD (Attention-deficit hyperactivity disorder) dan kini berhasil menjadi Sarjana Kedokteran," kata Suparmo, Kepala Sekolah SDN Gununganyar 273 Surabaya saat ditemui Basra (6/1).
Dalam ceritanya, Azzel yang bernama lengkap Azzeldine Aliya Zahira, adalah penyintas ADHD sejak usia anak-anak.
Beberapa gejala ADHD yang mudah dikenali di antaranya mudah lupa, mudah teralihkan, sulit mengikuti petunjuk, hilang fokus, dan tidak menghiraukan lawan bicara.
"Jadi saya dulu harus diterapi untuk membantu saya bisa fokus. Salah satunya kalau saya belajar saya bawa semacam mainan ya seperti rubik atau balon tiup untuk dipegang pegang sambil belajar. Kalau pas sekolah, saya beberapa kali merekam guru saya saat menjelaskan karena biasanya saya nggak bisa langsung menangkap apa maksudnya. Jadi saat di rumah, saya dengar lagi rekaman suaranya, sambil saya catat. Seperti belajarnya," kata Azzel yang telah menyelesaikan sarjana kedokterannya dari Universitas Hang Tuah Surabaya.
Selain memiliki gaya belajar sendiri, Azzel juga belajar fokus melalui olahraga anggar.
"Alhamdulillah saya akhirnya menemukan hobi yang pas sesuai kebutuhan saya saat remaja. Saya pernah menang di kejuaraan anggar Open Malaysia untuk individu dapat perunggu, lalu untuk beregu dapat medali emas. Piala Walikota juga pernah menang dapat emas tahun 2017," kata Azzel.
Dalam berbagai jurnal penelitian, anak ADHD disarankan untuk menekuni olahrafa yang bertempo cepat dan individual karena dapat mengembangkan kemampuan konsentrasinya tanpa terbebani tekanan bermain dalam tim.
Suparmo, Kepala Sekolah SDN Gununganyar 273 berharap kegiatan ini bisa konsisten dilakukan di bulan-bulan mendatang. Terutama karena di SDN Gununganyar 273 merupakan sekolah penyelenggara program inklusi.
Total ada 235 murid yang dimiliki SDN Gununganyar 273 dan 35 orang diantaranya merupakan siswa berkebutuhan khusus.
