Konten Media Partner

LAPSUS: Tas Terlalu Berat Bisa Buat Tulang Bahu Anak Membentuk 'Sayap'

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak SD. Gambar oleh Sasin Tipchai dari Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak SD. Gambar oleh Sasin Tipchai dari Pixabay

Anak yang tampak lesu dan sering mengantuk saat di sekolah tak selalu karena salah menu sarapan. Bisa jadi karena beban tas anak terlalu berat. Kelebihan beban di pundak ini, selain bisa membuat postur badan anak jadi membungkuk, juga bisa menyebabkan spasme atau ketegangan di otot pundak.

Dampaknya ada banyak. Tekanan di otot pundak bisa menjalar ke daerah leher dan punggung yang mengakibatkan sirkulasi darah berhenti di leher.

"Jangan heran kalau meski anak sudah sarapan tapi, kok, tetap mengantuk. Karena ketegangan di otot pundak membuat pengiriman oksigen ke otak jadi terhambat. Jadi anak mudah mengantuk," kata master fisioterapis bernama Niniek Sutini pada Basra, Rabu (28/8).

Winged Scapula. Foto: Wikimedia Commons

Tak hanya itu, pemakaian tas dengan beban terlalu berat juga akan membuat tulang belikat atau tulang bahu jadi menonjol dari punggung, membentuk seperti 'sayap'.

"Istilahnya winged scapula. Efek dari winged scapula ini otot dada jadi tidak seimbang dengan otot punggung karena otot dada mengalami kontraktur atau memendek," kata Niniek.

Akibatnya, saat bernapas, otot dada tidak bisa mengembang optimal, sehingga kapasitas paru-paru jadi mengecil. Inilah salah satu penyebab anak batuk-batuk yang sering terabaikan.

Ketegangan otot pundak yang tidak dimonitor dengan baik oleh orang tua juga menyebabkan saraf di sekitar leher jadi tercengkeram. Efeknya, kekuatan otot tangan anak jadi berkurang dan tangan mereka jadi sering merasa kesemutan.

"Anak-anak yang kemampuan menggenggamnya tidak terlalu bagus, atau tulisan tangannya tidak cukup baik, ini bisa jadi tanda adanya ketegangan di otot pundak dan leher," kata Niniek.

Niniek Sutini. Foto: Windy Goestiana/Basra

Karena itu, Niniek menyarankan para orang tua agar rutin memijat pundak dan punggung anak agar terpantau potensi kelainan pada tulangnya. "Caranya dengan memijat bagian paraspinal muscle dua kali seminggu. Pijat ke arah atas, bawah, memutar, atau melintang untuk memberi anak rileksasi," saran Niniek.

Pijatan yang rutin dilakukan ini bisa menjadi deteksi dini adanya postural disease karena beban tas yang terlalu berat dan berpotensi mengacaukan postur badan anak. (Reporter: Windy Goestiana)