Masih Punya 75 Ribu Keluarga Miskin, Ada Program Inkubasi Menjahit di Surabaya
·waktu baca 2 menit

Saat ini, di Surabaya masih ada sekitar 75 ribu keluarga miskin (gamis). Hal ini diungkapkan oleh Rini Indriyani selaku ketua Dekranasda Surabaya saat membuka Program Inkubasi Menjahit.
Rini menuturkan, untuk menekan angka tersebut diperlukan kolaborasi oleh banyak pihak. Salah satunya seperti dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Petra Christian University (PCU) mengadakan pelatihan menjahit.
"Karena di Surabaya ada sekitar 75 ribu Gamis, kita harus mengurangi angka itu supaya mereka 'naik kelas' dengan memberikan pekerjaan, salah satunya menjahit ini," kata Rini ketika ditemui Basra, Senin (3/7).
Rini menjelaskan, dalam kesempatan itu terdapat 30 warga yang telah diseleksi untuk mengikuti pelatihan. Nantinya, selain dapat menjahit, warga juga akan diajarkan cara membuat pola, mengenal bahan, hingga membuat desain yang kekinian.
"Harapan kita, mereka tidak hanya bisa menjahit seragam saja, tapi mereka juga bisa mendesain batik lebih kekinian. Jadi bisa naik kelas. Jadi Gamis di Surabaya bisa menurun dengan adanya kerja sama ini," harap Rini.
Selain menjahit, nantinya para peserta pelatihan ini juga akan disinergikan dengan UMKM batik Surabaya, dan mendapatkan pelatihan terkait kewirausahaan dari Pemkot.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Juliana Anggono, S.T., M.Sc Wakil Rektor Bidang Akademik PCU mengaku senang atas kerja sama yang terjalin. Bahkan hal ini sesuai dengan visi PCU untuk melakukan pengabdian masyarakat atau service-learning.
Dengan adanya kerja sama ini, Juliana berharap dapat membantu mengatasi masalah kemiskinan masyarakat Surabaya.
Sementara itu, Subeki salah satu warga mengaku pelatihan menjahit ini sangat membantu untuk mengembangkan skill menjahitnya.
Bahkan, usai mendapatkan pelatihan ia juga berniat untuk menularkan ilmu yang ia dapat kepada warga sekitar di rumahnya.
"Pastinya saya akan membagikan ilmu ini juga. Jadi kita bisa punya kemampuan baru untuk meningkatkan penghasilan," tukasnya.
