kumparan
5 Agu 2019 13:40 WIB

Melihat Wajah Surabaya Zaman Kolonial di Kampung Lawas Maspati

Salah satu bangunan di Kampung Lawas Maspati. Foto-foto: Masruroh/Basra
Wajah Kota Surabaya sudah banyak berubah sejak ratusan tahun lalu. Kini, di usia ke-726, Surabaya sudah banyak dihiasi gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Bila ingin menikmati suasana Surabaya era kolonial, coba datang ke Kampung Lawas Maspati.
ADVERTISEMENT
Konon, kampung yang terletak di Kelurahan Bubutan, Surabaya, ini bahkan sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Nama Maspati sendiri menunjuk ke kawasan tempat tinggal para patih Majapahit.
"Nama Kampung Lawas Maspati baru disematkan Mei 2013, setelah kami memenangkan 'Kampung Green and Clean'. Sebelumnya hanya bernama Kampung Maspati. Di sini ada banyak bangunan peninggalan kolonial Belanda dan ada pula tetenger (penanda--red) bahwa Surabaya merupakan bekas wilayah Kerajaan Majapahit sebelum penjajahan Belanda. Jadilah kampung ini disebut Kampung Lawas Maspati," jelas Sabar Suwastono, Ketua RW 6 Kampung Lawas Maspati, kepada Basra, Minggu (4/8).
Bangunan kuno di Kampung Lawas Maspati. Foto-foto: Masruroh/Basra
Menurut pengamatan Basra, ada sekitar 10 bangunan kuno peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Bangunan tersebut menyebar di Maspati Gang V dan VI. Bahkan, ada Rumah Mantri Nyamuk, yang terletak di Maspati Gang VI, persis di depan rumah Sabar.
ADVERTISEMENT
"Dulu rumah itu ditempati Raden Sumomiharjo, carik asal Ponorogo, yang pada zaman kolonial Belanda bekerja sebagai mantri kesehatan di Surabaya," papar Sabar seraya menunjuk ke arah rumah dengan pintu bercat hijau itu.
Menurut Sabar, rumah itu kini sudah tak berpenghuni. Meski masih berdiri kokoh, namun banyak bagian dinding rumah tersebut yang sudah terkelupas.
Rumah bercat hijau yang dihuni carik asal Ponorogo pada zaman kolonial. Foto-foto: Masruroh/Basra
Di bangunan lain, ada juga bangunan kuno yang beralih fungsi menjadi penginapan bernama Losmen Asri. Losmen ini terletak di dekat pintu masuk Maspati Gang VI. Dulu, rumah ini dijadikan tempat membuat roti dan pernah juga jadi dapur umum saat zaman Belanda. Namun sejak 1958, rumah tersebut beralih fungsi menjadi losmen.
Bangunan kuno lainnya yang masih berpenghuni adalah Rumah Ongko Loro. Rumah ini terletak di Maspati Gang V dan dihuni warga bernama Subandi. Menurut Sabar, Rumah Ongko Loro dulunya merupakan Sekolah Ongko Loro, sekolah setingkat SD zaman Belanda. Rumah ini dibangun tahun 1903.
ADVERTISEMENT
Tak jauh dari Rumah Ongko Loro terdapat sebuah bangunan Omah Tua yang di atapnya tertulis 1907. Tulisan di atap rumah tersebut memang sebagai penanda bangunan itu didirikan pada tahun 1907.
Sabar Suwastono.
Sabar mengatakan, saat zaman kolonial Belanda, tempat tersebut dijadikan lokasi pertemuan para pemuda pemudi untuk menyusun strategi perang. "Sekarang rumah tersebut difungsikan sebagai kafe," imbuh Sabar.
Sejumlah bangunan kuno peninggalan Belanda di Kampung Lawas Maspati tersebut keberadaannya masih terjaga hingga kini. Suasana di Kampung Lawas Maspati pun kian memanjakan mata dengan rimbunnya tanaman hijau di sepanjang jalan kampung yang berpenghuni 375 kepala keluarga.
"Setiap warga di sini menanam herbal, jadi selain dikenal sebagai kampung lawas juga dikenal sebagai kampung herbal," simpul Sabar.
ADVERTISEMENT
(Reporter: Masruroh / Editor: Windy Goestiana)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan