Konten Media Partner

Mengenal Tradisi Kentongan saat Sahur yang Sudah Ada Sejak Islam Masuk Indonesia

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mengenal Tradisi Kentongan saat Sahur yang Sudah Ada Sejak Islam Masuk Indonesia
zoom-in-whitePerbesar

Selain ngabuburit, tradisi membangunkan sahur dengan kentongan, merupakan salah satu kegiatan yang dirindukan saat Ramadan. Hampir seluruh wilayah Indonesia melakukan tradisi tersebut untuk memeriahkan bulan suci Ramadan.

Lantas, sejak kapan tradisi ini berlangsung di Indonesia?

Menanggapi hal itu, Dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga Dr Sarkawi B Husain SS MHum mengungkapkan, bahwa masih belum ditemukan catatan sejarah terkait awal mula tradisi kentongan ini. Namun, ada dugaan bahwa tradisi ini dimulai sejak Islam masuk di Indonesia.

“Tidak ditemukan catatan sejarah tentang awal tradisi kentongan untuk membangunkan masyarakat muslim untuk sahur. Akan tetapi dugaan saya, tradisi tersebut sudah ada sejak masuknya Islam di Indonesia,” ungkapnya, Rabu (12/4).

Ia menjelaskan, tradisi kentongan yang ada di Indonesia ini tidak memiliki hubungan secara langsung dengan tradisi yang ada di Timur Tengah. Namun secara tidak langsung, tradisi tersebut sudah dikenal sejak zaman Rasulullah dengan media yang berbeda, yakni berupa azan.

Meskipun hampir seluruh wilayah Indonesia melakukan tradisi tersebut dengan tujuan sama, namun tidak semua wilayah memiliki nama tradisi yang sama.

"Misalnya, tradisi ngarak atau beduk sahur di Jakarta sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Di daerah Banjar, Kalimantan Selatan, tradisi itu dikenal dengan bagarakan sahur yang sudah ada sejak Islam masuk di daerah Banjar. Dan biasanya tradisi ini dilakukan menggunakan peralatan sederhana seperti panci, galon air, atau radio,” jelasnya.

Sarkawi menyebut, tradisi kentongan dalam membangunkan orang sahur ini menciptakan respons dari berbagai masyarakat. Bagi masyarakat muslim, tradisi ini bermanfaat dalam membangunkan mereka untuk sahur.

Namun, bagi masyarakat non muslim, tradisi ini dapat mengusik ketenangan, karena mereka terpaksa harus bangun lebih pagi dari pada biasanya.

“Bagi masyarakat yang homogen seperti di desa atau kampung, ini masih sangat relevan. Apalagi di kampung, tentu ada keluarga yang tidak memiliki teknologi seperti HP yang dapat digunakan untuk alarm. Namun, tradisi ini tidak terlalu relevan jika diterapkan di perkotaan," tukasnya.