Konten Media Partner

Perankan Patriot Sri Asih, Pevita Pearce Ikut Workshop Action 3 Tahun

BASRA (Berita Anak Surabaya)verified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pevita Pearce (tengah) bersama para pemeran film Sri Asih. Foto: Masruroh/Basra
zoom-in-whitePerbesar
Pevita Pearce (tengah) bersama para pemeran film Sri Asih. Foto: Masruroh/Basra

Sukses dengan film patriot perdananya 'Gundala' yang dibintangi Abimana Aryasatya, Jagat Sinema Bumi Langit kembali mengeluarkan film patriot keduanya yang berjudul 'Sri Asih'. Film yang dibintangi Pevita Pearce ini dijadwalkan tayang pada 6 Oktober 2022 mendatang.

Pevita yang memerankan tokoh utama bernama Alana menuturkan, film ini merupakan filmnya dengan persiapan terlama, yakni 1,5 tahun.

Selain itu, aktris berusia 29 tahun ini juga harus banyak berlatih koreo fighting untuk mendalami perannya sebagai petinju dalam film ini. Pevita mengaku mengikuti workshop action 3 tahun dengan Uwais Team.

"Aku 90 persen memainkan peran laga tanpa stuntman (peran pengganti), sembilan puluh persen stunt adalah saya sendiri," ujarnya saat dijumpai disela kunjungannya ke Surabaya, Sabtu (17/9) sore.

Untuk peran Alana sendiri, Pevita juga meng-create tubuhnya agar benar-benar terlihat seperti petinju yang berotot.

"Jadi aku lakukan diet mengurangi gula, garam dan lainnya, juga menambah protein untuk masa otot aku," imbuhnya.

Selain Pevita, film ini turut dibintangi Reza Rahadian sebagai Jatmiko, Randy Pangalila sebagai Mateo Adinegara, Jenny Zhang sebagai Sarita Hamzah, Dimas Anggara sebagai Kala, Revaldo sebagai Jagau, Faradina Mufti sebagai Renjana, Fadly Faisal sebagai Gilang, dan Messi Gusti sebagai Alana kecil.

Sinopsis Film Sri Asih

Alana (Pevita Pearce) tak mengerti kenapa dia selalu dikuasai oleh kemarahan. Meski begitu ia selalu melawan amarahnya tersebut. Dia lahir saat gunung merapi meletus, kejadian ini membuat ia terpisah dari kedua orang tuanya.

Alana kemudian diadopsi oleh wanita kaya raya yang berusaha membantunya untuk menjalani kehidupan normal. Sampai saat dewasa, ia mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Dia bukan manusia biasa, dia memiliki kekuatan yang bisa menjadi kebaikan untuk kehidupan. Atau menjadi kehancuran apabila dia tak bisa mengendalikan amarahnya.