Bukan Cuma Konten: Seni, Budaya, dan Pengetahuan Baru

Praktisi dan Akademisi Seni, Universitas Syiah Kuala
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di era video pendek dan kecerdasan artifisial, tantangannya bukan sekadar membuat budaya terlihat, tetapi memahami apa yang dibagikan, pengetahuan apa yang dihasilkan, dan siapa yang dilibatkan.

Sebuah tarian tradisi bisa menarik perhatian di media sosial. Geraknya memikat, musiknya khas, dan videonya mudah dibagikan. Namun, apakah orang yang menontonnya juga memahami sejarah, makna, dan pengetahuan yang hidup di balik pertunjukan itu?
Pertanyaan ini bukan sekadar kegelisahan. Studi tentang digitalisasi Topeng Malangan yang diterbitkan dalam Mimbar Agama Budaya pada 2026 mengkaji respons 22 responden Generasi Z terhadap konten di Instagram dan TikTok. Kreativitas konten dan narasi budaya berperan dalam menarik keterlibatan, tetapi pemahaman mendalam atas makna budaya dan religius tidak selalu terbentuk. Penulisnya pun mengingatkan bahwa temuan tersebut bersifat eksploratif, bukan gambaran seluruh Generasi Z.
Pelajarannya bukan bahwa media sosial gagal atau anak muda tidak peduli budaya. Justru, kita perlu membedakan antara membuat sesuatu terlihat dan membantu orang memahami mengapa sesuatu itu penting. Di antara keduanya terdapat pekerjaan yang membutuhkan penelitian, kreativitas, dan tanggung jawab.
Dari ruang kreatif menuju gagasan akademik
Pertanyaan tentang posisi seni dalam universitas sudah muncul dalam percakapan publik pada awal 2026, termasuk melalui tulisan Seni, Data, dan Masa Depan Kampus tentang daulat pengetahuan dan hubungan seni dengan kehidupan akademik. Pertanyaan tersebut memperoleh bentuk yang lebih konkret ketika Inkubator Seni USK mengembangkan Skate Park Stage sejak April 2026. Panggung terbuka itu bukan hanya tempat menampilkan karya, tetapi juga ruang untuk mencoba, belajar, dan menguji bagaimana praktik kreatif dapat menjadi sumber pengalaman serta pengetahuan
Dalam bulan-bulan berikutnya, perhatian terhadap ruang publik, regenerasi, pembelajaran, dan keberlanjutan ekosistem kreatif terus berkembang. Hal ini sejalan dengan uraian dalam Mengapa Ekosistem Kreatif Indonesia Sulit Bertahan? Berbagai ikhtiar tumbuh melalui SPS Revival serta inisiatif yang beririsan dengan Darud Dunia, Poliseni, Lingkar Wali, dan DAEKA.
Masing-masing memiliki bentuk dan fungsi berbeda. Ada yang membuka ruang perjumpaan dan pembelajaran. Ada pula yang merawat ingatan dan pengetahuan, memberikan pendampingan, atau mengembangkan gagasan tentang akumulasi nilai ekosistem yang tidak semata-mata diukur dengan uang.
Di titik inilah gagasan Program Magister Seni Kreatif dan Studi Kebudayaan (M.A. in Creative Arts and Cultural Studies/MACS) memperoleh relevansinya. Seni kreatif memberi ruang bagi praktik, penciptaan, dan eksperimen. Studi kebudayaan membantu membaca sejarah, identitas, representasi, dan relasi kuasa secara kritis. Pengembangan kebudayaan menghubungkan pengetahuan dan praktik tersebut dengan kehidupan masyarakat. Ketiganya tidak dimaksudkan sebagai tiga bidang yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan sebagai perspektif yang saling menguatkan untuk menjawab persoalan nyata.
Dari karya menjadi pengetahuan
Salah satu pendekatan yang diusulkan dalam MACS adalah research-creation atau riset-kreasi. Dalam pendekatan ini, praktik kreatif bukan sekadar ilustrasi dari teori. Proses mencoba, membuat, mengalami, mendokumentasikan, dan merefleksikan sesuatu dapat menjadi bagian dari penyelidikan, sepanjang pertanyaan, metode, bukti, dan kontribusinya dijelaskan secara bertanggung jawab.
Bayangkan sebuah penelitian tentang transmisi Saman di Gayo Lues. Pertanyaannya bukan hanya bagaimana merekam gerak tarian, melainkan bagaimana ruang latihan, perubahan kehidupan keluarga, mobilitas generasi muda, panggung pertunjukan, dan video digital memengaruhi pewarisan pengetahuan gerak, ritme, koordinasi, serta tanggung jawab kelompok. Ini contoh kemungkinan desain penelitian, bukan laporan temuan lapangan yang sudah dilakukan.
Hasil penyelidikan seperti itu dapat berupa karya audiovisual, metode dokumentasi, notasi eksperimental, laporan analitis, atau gabungan beberapa bentuk. Tidak semua penelitian harus berakhir dengan karya seni baru. Sebaliknya, karya yang berhasil secara artistik juga belum otomatis menjadi penelitian yang kuat. Harus ada penjelasan tentang proses, temuan, batasan, dan sumbangan pengetahuannya.
Persoalan evaluasi ini juga dibahas dalam kajian internasional tentang penilaian riset berbasis praktik. Glisovic dan Batty (2026), misalnya, menekankan perlunya kerangka evaluasi yang sesuai dengan karakter penelitian kreatif, alih-alih memaksakan satu ukuran yang sama untuk semua bentuk penelitian.
Interdisiplin yang benar-benar bekerja
Dalam rancangan MACS, riset-kreasi melintasi lima kelompok bahan kajian: warisan budaya hidup dan regenerasinya; seni kreatif, praktik, dan inovasi; budaya digital dan teknologi kreatif; kebijakan, ekonomi kreatif, dan tata kelola kebudayaan; serta komunitas, ruang budaya, dan transformasi sosial.
Kelima kelompok itu membuka kemungkinan mengkaji satu persoalan dari sisi yang saling melengkapi. Dokumentasi tradisi, misalnya, bukan hanya urusan kamera dan arsip. Ia juga menyangkut siapa yang menentukan apa yang direkam, pengetahuan apa yang layak dibagikan, bagaimana hasilnya ditafsirkan, dan siapa yang mendapat manfaat.
Studi partisipatif terhadap komunitas karawitan Bali Buja di Klaten pada 2026 juga memperlihatkan relevansi menghubungkan pelestarian budaya dengan literasi digital, pendampingan, dan kapasitas media yang dikelola komunitas. Pengalaman di Klaten bukan formula yang otomatis dapat diterapkan di Aceh, tetapi mengingatkan bahwa digitalisasi budaya perlu melampaui produksi konten dan memperhatikan kemampuan komunitas untuk terlibat secara berkelanjutan.
Bagi MACS, persoalan etikanya sama pentingnya dengan kecanggihan metode. Persetujuan untuk merekam tidak otomatis berarti persetujuan untuk menyebarluaskan tanpa batas. Hak, akses, pengakuan pencipta dan pemilik pengetahuan, serta pembagian manfaat perlu dibicarakan bersama orang dan komunitas yang menjaga tradisi itu tetap hidup.
Gagasan yang masih harus diuji
Dalam penjajakan mengenai MACS, ketertarikan terhadap gagasan ini berjalan bersama pertanyaan yang wajar: apa perbedaannya dari program magister seni atau kajian budaya yang sudah ada, siapa yang akan membimbing, bagaimana prospek lulusannya, seperti apa tugas akhirnya, dan bagaimana biaya serta waktu studi dapat dijangkau? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekadar hambatan. Semuanya merupakan bahan untuk memperkuat rancangan akademik dan menguji kelayakannya.
Karena itu, statusnya juga perlu disampaikan apa adanya. MACS masih menunggu arahan pimpinan. Rancangan dan percakapan yang telah berkembang belum berarti program studi ini resmi dibuka atau menerima mahasiswa.
Yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar nama baru untuk pendidikan pascasarjana. Tantangannya ialah membuktikan bahwa praktik kreatif dapat menjadi jalan untuk menghasilkan pengetahuan, bahwa pengetahuan dapat berdialog dengan kebutuhan masyarakat, dan bahwa dialog tersebut dibangun dengan metode serta tanggung jawab yang dapat dipertanggungjawabkan.
Konten membuat kita melihat. Pengetahuan membantu kita memahami. Seni dan kebudayaan layak mendapat ruang akademik yang mampu menghubungkan keduanya—tanpa menghilangkan kompleksitas, pengalaman hidup, dan suara orang-orang yang menjadi sumber pengetahuannya.
