Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kisah Jamaluddin, Membangun Usaha Servis Hp di Ternate

Cermatverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jamaludin. Oner Alf Cell.
zoom-in-whitePerbesar
Jamaludin. Oner Alf Cell.

"Setinggi-tingginya jabatan dalam pekerjaan, tetap saja kita adalah pegawai. Tapi sekecil-kecilnya usaha yang kita miliki, kita adalah bosnya."

Ungkapan dari Bob Sadino ini adalah salah satu alasan Jamaluddin, pemilik Gerai Alf Cel yang ada di Ternate, memilih untuk menjadi seorang pengusaha dibandingkan Pegawai Negeri Sipil. Pemikiran ini muncul berdasarkan pengalaman pribadinya yang sempat menjadi pekerja paruh waktu saat sedang mengenyam pendidikan di Jurusan Informatika salah satu perguruan tinggi yang ada di Makassar.

Saya berkesempatan menemui Jamaluddin pada minggu, kemarin. Pria yang akrab disapa Al ini menceritakan perjalanannya merintis usaha yang kini terbilang sukses. Dirinya pertama kali memulai usaha pada Juni 2003 silam yang dijajakannya di trotoar jalan di Ternate.

Jamaluddin saat bekerja di gerai miliknya

Dagangan yang dijualnya waktu itu adalah telur ayam dan juga bawang merah. Keduanya didapatkan dari salah satu distributor di pasar, yang masih punya hubungan keluarga dengan dirinya. Namun setelah setahun menjalani, usahanya mendapat kendala. Karena faktor risiko dagangan yang rentan rusak atau busuk menjadi tanggung jawabnya sebagai pengecer.

Pertengahan tahun 2004, pria berdarah Bugis ini menjalin komunikasi dengan temannya semasa kuliah, via aplikasi Friendster untuk menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.

Temannya kemudian menyarankan untuk memulai usaha suntik lagu melalui infrared ( alat transfer file antar perangkat ) untuk handphone jenis polyphonic yang sedang populer saat itu.

Jamal memeriksa dengan teliti setiap kerusakan yang ada pada HP pelanggan. Foto: Evka Mawar/cermat

Jamal sempat menolak dengan alasan tidak paham dengan bidang itu. Namun, berkat dorongan semangat dari sahabatnya, dia akhirnya mencoba untuk mengikuti saran tersebut.

Bermodalkan satu unit komputer yang dipinjam pada adiknya dan satu buah alat infrared yang dibelinya dari toko buku, diapun memulai usahanya di tempat dia berjualan sebelumnya. Hasilnya sungguh di luar dugaan, dalam sebulan dirinya bisa meraup omset hingga Rp 10 juta.

Waktu itu, Al hanya membuka usahanya di trotoar. Tempat kerjanya berukuran tak sampai satu meter. Persis seperti tempat servis jam tangan di jalanan.

Jamal saat melayani langsung calon pembeli. Foto: Evka Mawar/cermat

"Dalam kurun waktu enam bulan, saya sudah bisa mengontrak toko yang berada persis di belakang trotoar tempat saya berjualan dengan harga Rp 18 juta per tahun," kenangnya.

Seiring berkembangnya usaha yang dia jalani, Al kemudian mulai belajar cara service HP secara otodidak. Tak hanya itu, memasuki tahun 2005 dia juga mulai untuk merambah bisnis penjualan HP yang tentu saja membutuhkan modal yang tidak sedikit.

kumparan post embed

Tak sedikit yang datang, memakai jasa Al. Al membangun kepercayaan terhadap pelanggan dengan cara, jika handphone pelanggan yang rusak bisa dikerjakan, diselsaikan hari itu juga, dalam hitungan tak lebih dari dua jam, maka dia menyarankan pelanggan melihat langsung bagaimana Al berkerja mengganti alat-alat yang rusak itu.

Hal itu ia lakukan sebab, tak sedikit pelanggan yang datang mengeluhkan bawah, handphone mereka diservis dari tempat lain, dan hasilnya, beberapa alat ada yang diganti, dan rusak.

Al terus mengembangkan bisnisnya. Bekerja sama dengan salah seorang teman yang sudah terlebih dahulu terjun di bisnis pulsa dan penjualan HP, Al kemudian memberanikan diri untuk mengambil barang dengan sistem hutang kepada temannya itu. Sesuai perkiraan, usahanya mengalami kemajuan pesat, hingga kini, ia bisa memiliki dua konter di Jatiland Mall Ternate. Satu konter khusus service dan satu konter khusus penjualan HP.

Pernah Jatuh

Usaha yang sudah dia rintis dengan susah payah olenya itu, mengalami kejatuhan pada tahun 2015. Al mengaku saat itu pernah terperangkap di kehidupan gemerlap dunia malam. Dia mulai tenggelam dalam kebiasaan berfoya-foya. Tidak butuh waktu lama, kebiasaannya ini membuat usahanya hancur dan diapun terlilit hutang hingga mencapai Rp 2,2 miliar.

"Kesalahan paling besar yang saya lakukan bukanlah ketika saya berfoya-foya hingga terlilit hutang. Tetapi ketika saya berusaha menghindar dari tanggungjawab saya untuk menyelesaikan masalah yang telah saya buat," ujarnya.

Setelah mengalami pergolakan batin antara lari dan tetap bertanggungjawab, Jamal kemudian memutuskan untuk menyelesaikan masalah yang telah dia sebabkan. Jamal berjanji akan mencicil semua hutangnya hingga lunas satu per satu.

Langkah pertamanya dalam menyelesaikan masalah ini adalah dengan memilah mana yang harus menjadi prioritas. Selanjutnya dia kemudian mulai untuk merintis usahanya dari nol lagi. Beruntung, seorang temannya yang juga salah seorang memberinya hutang bersedia memodalinya kembali agar membantu dia untuk mencicil semua hutang-hutangnya.

Jamal tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia kembali bangkit dan bekerja ekstra keras untuk menyelesaikan tanggungjawabnya. Dalam kurun waktu 2 tahun, semua hutangnya lunas dan usahanya kembali stabil.

Kini, Jamal sudah bisa memetik buah dari kerja keras, kesabaran, ketekunan, dan rasa tanggungjawab yang dia miliki. Usahanya semakin berkembang. Dirinya bahkan sudah memiliki sebuah toko di daerah Bastiong Ternate, yang dibelinya dengan harga Rp 1 miliar, dengan cara mencicil (sekarang sudah lunas ). Di tempat ini, dirinya juga membuka konter dan service HP. Dari tiga gerai yang dimilikinya saat ini, dirinya bisa mendapatkan omset minimal Rp 20 juta per bulannya dari masing-masing konter.

Satu keinginan Jamal yang ingin dicapai kedepannya, yaitu membangun sebuah service center untuk brand iPhone dengan mode Franchise di bawah Apple Solution Indonesia (ASI), yang brand service center milik Kaseang Pangarep (Pengusaha muda sekaligus Putera Presiden).

Hal ini tidaklah mudah, mengingat lisensi yang harus didapatkan harus melalui seleksi ketat. Dia telah mulai berdiskusi dengan beberapa relasi mengenai mengatur rencana management dan tata kelola sebuah perusahan.

Menurut Jamal, teknisi servis hp bukan pekerjaan serabutan, kedepanx semua teknisi HP d indonesia wajib melakukan sertifkasi oleh trainer yg sudah memiliki sertifikat asesor dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Katanya, profesi ini ternyata juga memiliki risiko yang tinggi, seperti rawan terhadap dugaan penadahan barang curian. Misalnya saat pelanggan datang untuk membuka kode HP yang ternyata adalah barang hasil curian.

Berdasarkan masalah ini, dirinya beberapa rekan sesama profesi kemudian sebuah wadah yang diberi nama Organisasi Teknisi Gamalama ( OTG ). Dirinyapun menjabat sebagai ketua Organisasi yang menaungi 77 orang Teknisi di daerah Ternate. Salah satu program yang sedang gencar dilakukan OTG adalah menyediakan formulir yang harus diisi terlebih dahulu oleh pelanggan ketika akan meminta bantuan untuk membuka kode HP.

Jamal berbagi beberapa tips untuk menjadi seorang pengusaha. Jatuh bangun dalam menjalankan sebuah usaha adalah hal tidak bisa dihindari, terlibat hutang misalnya. Tapi cara yang terbaik menurutnya bukan dengan menghindari melainkan hadapi untuk mendapatkan solusi. Dalam hal persaingan usaha, dirinya menganggap mereka sebagai pesaing melainkan sebagai relasi.

instagram embed

"Bagi saya menganggap pedagang lain sebagai saingan hanya akan membuyarkan konsentrasi saya untuk berusaha," ujarnya.

Kepuasan pelanggan juga menjadi hal yang utama dalam menjalankan bisnis. Dirinya selalu berusaha untuk menganalisis kerusakan dengan tepat dan menyelesaikannya dengan cepat. Dirinya bahkan sudah memiliki pelanggan setia yang selalu mempercayakan perbaikan HP kepada Jamal.

Jamaluddin bilang, kesuksesannya saat ini tidak terlepas dari dukungan keluarga yang setia menemani saat dirinya jatuh. Pria empat anak ini bersyukur berasal dari keluarga yang punya jiwa bisnis hingga menurun padanya. Ketangguhan yang dimilikinya juga didapat berkat didikan orangtua yang ketat dan mengajarkannya untuk mandiri sejak di bangku SMA.

--- Evka Mawar Putri