Kumparan Logo
Konten Media Partner

Korban Mahasiswa Demo di Ternate, Dirujuk ke Makassar

Cermatverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Korban saat akan dibawa ke Bandara Baabullah oleh sejumlah petugas kepolisian dan seorang dokter perempuan. Foto: Rajif Duchlun/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Korban saat akan dibawa ke Bandara Baabullah oleh sejumlah petugas kepolisian dan seorang dokter perempuan. Foto: Rajif Duchlun/cermat

Mahasiswa atas nama Sugiarto Hanafi yang menjadi korban pada unjuk rasa menolak sejumlah rancangan UU kontroversi di depan Gedung DPRD Kota Ternate, Maluku Utara Rabu (25/9) dirujuk ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Informasi tersebut disampaikan Ketua Cabang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Ternate, Safrudin Taher, saat ditemui di depan ruangan Manuru RSUD Chasan Boesoirie, tempat korban dirawat.

Korban saat dibawa ke Bandara Baabullah oleh sejumlah petugas kepolisian dan seorang dokter perempuan. Foto: Rajif Duchlun/cermat

"Iya, tadi saya dapat informasi bahwa dia (korban) akan dirujuk ke rumah sakit di Makassar siang ini pukul 14.00 WIT. Saya dengar alasannya masalah peralatan dan kekurangan dokter di sini untuk menangani korban," ujar Safrudin, Kamis (26/9).

Tak lama setelah memberikan keterangan ini, sekitar pukul 13.20 WIT sejumlah petugas kepolisian dan seorang dokter perempuan menjemput korban untuk dibawa ke Bandara Baabullah.

Sugiarto, yang merupakan aktivis HMI Ternate itu, sebelum dirujuk, sejumlah awak media sempat bertemu dan mewawancarai langsung.

kumparan post embed

Di hadapan awak media ia memberikan kesaksian, bahwa saat unjuk rasa mulai ricuh, ia berlari ke arah selatan, tepat di sisi tebing Gedung DPRD Ternate. Di jalan sisi selatan itu, memang berkumpul massa dari HMI.

Sementara di sisi utara jalan, berkumpul massa dari sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai kampus di Ternate.

Sugiarto bilang, saat mencoba mengamankan diri itulah, ia sontak terkena benda keras dari arah tebing. Ia mengaku melihat langsung bahwa benda itu merupakan selongsong peluru gas air mata.

"Ketika tembakan itu langsung kena mata kiri saya. Langsung saya pingsan saat itu. Dengan kekuatan saya untuk berdiri lagi, karena takut jangan sampai diinjak mahasiswa lain. Kemudian saya ditolong teman-teman saya," tutur Sugiarto.

Ia begitu yakin bahwa benda yang mengena wajahnya bukanlah batu. "Bukan batu. Bukan, Pak," tukasnya.

Rabu (25/9) malam, Kapolda Maluku Utara, Brigjen Pol Suroto, memang sempat menjenguk korban dan berbincang-bincang dengan pengurus HMI Cabang Ternate.

Usai menjenguk, di hadapan cermat, Kapolda menyebut bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan investigasi. Namun masih menunggu keterangan dari dokter soal sebab luka tersebut.

"Terjadi kesalahpahaman di sana, mahasiswa saling lempar. Ternyata ada salah satu korban luka di bawah mata kirinya," kata Suroto.

kumparan post embed

Mengenai dugaan yang menyebutkan korban terkena selongsong peluru gas air mata, Kapolda mengatakan bahwa saat unjuk rasa itu tidak ada penembakan gas air mata yang dilakukan oleh anggotanya.

"Ada ngga tadi, kalau gas air mata kan ada asap, ada nggak tadi? Nggak ada. Polisi di sana melakukan pengamanan," katanya.

Pada prinsipnya, lanjut dia, penanganan unjuk rasa ada tahap-tahapnya. Sementara tahap menggunakan gas air mata itu perlu beberapa tahap lagi.

"Kalau ada yang merasa melihat (polisi menembak) nanti kita investigasi. Kalau memang ada anggota yang melakukan pelanggaran di luar prosedur, itu kan ada sanksinya. Tetap kita proses," ucapnya.

"Yang jelas sekarang, korban kita obati dulu, kita sembuhkan dulu sambil kita lakukan investigasi," tambahnya.

---

Rajif Duchlun