Konten dari Pengguna

Panic Buying Akibat Corona, Belanja Sembako di Swalayan Dibatasi. Ini Daftarnya

Cermati

Cermativerified-green

Membantu masyarakat Indonesia membuat keputusan keuangan dengan Cermat dan Tepat! Temukan produk keuangan terbaikmu di Cermati.com.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cermati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Panic Buying Akibat Corona, Belanja Sembako di Swalayan Dibatasi. Ini Daftarnya
zoom-in-whitePerbesar

Penyebaran virus corona atau Covid-19 di Tanah Air kian meluas. Telah ‘meneror’ 17 provinsi.

Terbanyak di DKI Jakarta. Menyusul Jawa Barat dan Banten. Jumlah orang yang berisiko terpapar virus corona diperkirakan mencapai 600 ribu-700 ribu orang.

Baca Juga: Meningkatkan Imunitas Tubuh, Kenali Jenis Empon Empon dan Khasiatnya

Picu Panic Buying

Jika melihat data di atas, bagaimana masyarakat tidak ‘parno’ alias takut. Akibat ketakutan yang luar biasa, seseorang lebih mudah diserang panik. Kepanikan yang terjadi lantaran wabah virus corona adalah aksi panic buying atau panic shopping.

Masyarakat jadi ramai-ramai memborong sembako, masker, cairan pembersih tangan atau hand sanitizer, sabun, bahkan sampai alat pengukur suhu tubuh.

Tengok saja di rak-rak sejumlah minimarket dan supermarket besar di Ibu Kota salah satunya, barang-barang kebutuhan pokok kosong melompong.

Ludes diborong, seperti beras, telur minyak goreng, gula pasir, mi instan, dan makanan lainnya. Begitupun dengan alat-alat kesehatan.

Ini terjadi karena masyarakat takut tak kebagian stok bahan makanan bila pemerintah sampai menerapkan lockdown (karantina aktivitas publik), meskipun akhirnya yang dipilih adalah kebijakan #dirumahaja, seperti, belajar, beribadah, dan bekerja dari rumah (Work From Home/WFH).

Terjadi 2 Kali Aksi Panic Buying di RI

Asal tahu, di Indonesia sempat terjadi dua kali aksi panic buying. Hal ini diungkapkan Anggota Dewan Penasehat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), Tutum Rahanta.

“Dua kali terjadi rush (panic buying),” katanya dari kutipan wawancara yang diterima Cermati.com, baru-baru ini.

Baca Juga: COVID-19 Menyebar Luas, 7 Produk Asuransi Ini Cover Risiko Virus Corona

  • Panic buying pertama, terjadi setelah pengumuman kasus pertama Covid-19 oleh Presiden Jokowi tanggal 2 Maret 2020.

  • Terlihat rak-rak kosong, tapi itu bukan karena stok barang tidak ada, melainkan tidak sempat dipajang

  • Panic buying Masyarakat malas keluar rumah lantaran sudah punya stok makanan dan minuman

  • Panic buying kedua, terjadi pada 14 Maret 2020 karena ada isu lockdown

  • Aksi borong sembako ini terjadi hingga Senin, 16 Maret 2020. Lalu mereda

  • Selanjutnya terjadi lagi peningkatan (pembelian), namun aksi panic buying dalam skala yang tidak terlalu besar.

Baca artikel selengkapnya di sini.