Belajar atau Sekadar Menerima? Pendidikan ala Dead Poets Society

Sociology Education Students at Jakarta State University
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Chelsea Octavina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Melihat Pendidikan Kritis melalui Sosok Mr. Keating
Pernahkah kita merasa bahwa belajar di sekolah hanya berarti duduk di kelas, mendengarkan guru, mencatat materi, membaca buku, lalu menghafalkannya untuk ujian? Setelah ujian selesai, tidak jarang apa yang sudah dihafalkan ikut terlupakan. Kita mungkin mendapatkan nilai yang baik, tetapi apakah kita benar-benar memahami apa yang dipelajari?
Pertanyaan tersebut menjadi menarik ketika melihat film Dead Poets Society (1989). Film yang disutradarai Peter Weir ini mengambil latar Welton Academy, sebuah sekolah asrama khusus laki-laki yang sangat menjunjung tinggi tradisi, kedisiplinan, dan prestasi akademik. Kehidupan para siswa diatur dengan ketat melalui nilai-nilai yang dikenal sebagai “Tradition, Honor, Discipline, Excellence”. Di tengah lingkungan tersebut, hadir John Keating, seorang guru Bahasa Inggris yang memiliki cara mengajar sangat berbeda dari kebanyakan guru di Welton.
Keating tidak mengajar dengan cara yang biasa dilakukan di sekolah tersebut. Ia tidak sekadar berdiri di depan kelas dan menjelaskan isi buku. Sebaliknya, ia mengajak siswanya mengalami proses belajar secara langsung. Salah satu adegan yang paling terkenal adalah ketika Keating meminta para siswa berdiri di atas meja. Ia ingin menunjukkan bahwa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dapat menghasilkan pemahaman yang berbeda pula.
Bagi Keating, ruang kelas bukan hanya tempat untuk menerima pengetahuan dari guru. Ruang kelas juga menjadi tempat bagi siswa untuk mencoba, bertanya, berekspresi, bahkan mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap benar.
Hal ini terlihat kembali ketika Keating meminta siswanya merobek bagian pengantar buku puisi yang menggunakan metode tertentu untuk menentukan kualitas sebuah puisi. Bagi Keating, puisi tidak bisa begitu saja direduksi menjadi angka atau rumus. Ia ingin siswanya memahami bahwa sesuatu yang mereka pelajari tidak selalu harus diterima begitu saja hanya karena tertulis di dalam buku.
Cara mengajar Keating kemudian menimbulkan pertanyaan yang lebih besar, apakah pendidikan seharusnya hanya membuat siswa mampu menerima pengetahuan, atau juga mendorong mereka untuk berpikir dan mempertanyakan pengetahuan tersebut?
Ketika Siswa Hanya Menjadi Penerima Pengetahuan
Pertanyaan tersebut dapat dikaitkan dengan pemikiran Paulo Freire mengenai banking education atau pendidikan gaya bank. Dalam konsep ini, Freire mengkritik model pendidikan yang menempatkan guru sebagai pihak yang memiliki pengetahuan, sementara siswa dianggap sebagai tempat untuk menyimpan pengetahuan tersebut.
Sederhananya, guru “menyetorkan” pengetahuan kepada siswa. Siswa kemudian menerima, menghafalkan, dan mengulanginya kembali ketika dibutuhkan. Hubungan antara guru dan siswa menjadi sangat satu arah. Guru dianggap sebagai pihak yang mengetahui, sedangkan siswa ditempatkan sebagai pihak yang harus menerima.
Jika melihat sistem pendidikan di Welton Academy, pola tersebut cukup terlihat. Para siswa diharapkan mengikuti aturan dan standar yang sudah ditentukan. Pendidikan lebih banyak diarahkan pada pencapaian akademik dan kepatuhan terhadap nilai-nilai sekolah. Ruang untuk mempertanyakan aturan atau menentukan jalan sendiri menjadi sangat terbatas.
Dalam situasi seperti ini, siswa memang dapat memperoleh banyak pengetahuan. Namun, persoalannya bukan terletak pada banyak atau sedikitnya pengetahuan yang mereka dapatkan. Persoalannya adalah bagaimana siswa ditempatkan dalam proses pendidikan.
Lalu apakah siswa hanya menjadi penerima, atau mereka juga diberi kesempatan untuk menjadi subjek yang aktif dalam proses belajar?
Mr. Keating dan Cara Belajar yang Berbeda
Di sinilah sosok Mr. Keating menjadi menarik. Ia tidak sepenuhnya menghilangkan buku atau materi pelajaran. Ia tetap mengajarkan sastra dan puisi, tetapi ia mengubah cara siswa berhubungan dengan apa yang mereka pelajari.
Ketika meminta siswa melihat kelas dari atas meja, Keating sebenarnya sedang mengajarkan bahwa sudut pandang seseorang dapat memengaruhi cara ia memahami sesuatu. Ketika meminta siswa membuat puisi, ia memberikan ruang bagi mereka untuk menghasilkan sesuatu dari pemikirannya sendiri. Ketika mengajak mereka berjalan dengan cara yang berbeda-beda, ia menunjukkan bagaimana seseorang dapat dengan mudah mengikuti pola kelompok tanpa menyadarinya.
Pembelajaran kemudian tidak hanya berlangsung melalui kata-kata Keating, tetapi juga melalui pengalaman siswa.
Salah satu contoh yang cukup kuat adalah Todd Anderson. Todd merupakan siswa yang cenderung pemalu dan kurang percaya diri. Ia mengalami kesulitan ketika diminta mengekspresikan dirinya. Namun, Keating tidak langsung memberikan jawaban atau menyuruhnya menghafalkan teori. Ia justru mendorong Todd untuk menemukan dan mengeluarkan gagasannya sendiri. Pada akhirnya, Todd mampu membuat dan membacakan sebuah puisi di depan kelas.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa belajar tidak selalu harus dimulai dari kemampuan menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Terkadang, proses belajar justru dimulai ketika siswa diberi kesempatan untuk menemukan pertanyaannya sendiri.
Dari Banking Education ke Pendidikan yang Membebaskan
Pemikiran Freire menawarkan alternatif terhadap pendidikan gaya bank melalui apa yang dikenal sebagai problem-posing education. Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya menerima pengetahuan yang sudah jadi, tetapi diajak untuk berdialog, mempertanyakan suatu persoalan, dan memahami realitas di sekitarnya.
Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Hubungan guru dan siswa menjadi lebih dialogis. Guru tetap memiliki pengetahuan dan pengalaman, tetapi siswa juga dianggap memiliki pengalaman yang dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Cara Keating mengajar memiliki beberapa kemiripan dengan gagasan tersebut. Ia tidak hanya mengatakan kepada siswa apa yang harus mereka pikirkan. Ia mencoba menciptakan situasi yang membuat mereka berpikir sendiri.
Kalimat carpe diem yang sering dikaitkan dengan Keating juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Bagi siswa-siswanya, carpe diem bukan sekadar ajakan untuk menikmati hidup. Pesan tersebut menjadi dorongan untuk tidak menjalani kehidupan hanya berdasarkan apa yang sudah ditentukan oleh orang lain.
Namun, di titik inilah film tersebut juga menunjukkan bahwa pendidikan yang mendorong kebebasan berpikir dapat berhadapan dengan struktur dan kekuasaan.
Ketika Cara Berpikir Berbeda Mulai Dianggap Masalah
Perubahan yang dibawa Keating tidak selalu diterima oleh lingkungan sekolah. Para siswa mulai mempertanyakan pilihan hidup mereka sendiri. Neil Perry, misalnya, menemukan kecintaannya terhadap dunia teater. Namun, keinginannya tersebut bertentangan dengan harapan ayahnya yang menginginkannya menempuh pendidikan kedokteran.
Konflik yang dialami Neil menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak hanya terjadi di dalam ruang kelas. Pilihan pendidikan juga berhubungan dengan keluarga, aturan sosial, harapan orang tua, dan kekuasaan yang menentukan jalan hidup seseorang.
Di satu sisi, pendidikan diharapkan dapat membentuk individu yang mampu berpikir mandiri. Namun di sisi lain, terdapat berbagai struktur sosial yang memiliki harapan tentang seperti apa seorang siswa seharusnya bertindak.
Karena itu, Dead Poets Society tidak hanya bercerita tentang seorang guru yang memiliki metode mengajar berbeda. Film ini juga memperlihatkan pertarungan antara kepatuhan dan kebebasan, penerimaan dan pemikiran kritis, serta aturan dan keinginan individu.
Ketika para siswa mulai mempertanyakan apa yang selama ini dianggap sudah seharusnya, muncul konflik dengan sistem yang mengelilingi mereka.
Jadi, Apakah Sekolah Tidak Membutuhkan Aturan?
Tentu bukan berarti semua aturan dalam pendidikan harus dihilangkan. Sekolah tetap membutuhkan struktur, kurikulum, buku, materi pembelajaran, serta guru yang memiliki pengetahuan. Menghafal atau mempelajari materi tertentu juga tetap memiliki fungsi dalam proses pendidikan. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika pendidikan hanya berhenti pada proses menerima dan mengulang.
Siswa bisa saja hafal definisi, teori, atau isi buku, tetapi belum tentu mampu menghubungkannya dengan kehidupan mereka. Sebaliknya, ketika siswa diberi kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi, pengetahuan yang mereka dapatkan dapat menjadi sesuatu yang lebih bermakna karena mereka ikut terlibat dalam proses membentuk pemahaman tersebut.
Dalam konteks ini, Mr. Keating dapat dilihat sebagai gambaran seorang guru yang mencoba menggeser posisi siswa dari sekadar penerima menjadi peserta aktif dalam pembelajaran. Ia tidak mengajarkan bahwa buku tidak penting. Ia justru mengajak siswanya untuk tidak berhenti pada apa yang tertulis di dalam buku.
Sebab, mungkin masalahnya bukan pada buku, tetapi ketika buku menjadi satu-satunya suara yang boleh didengarkan.
Belajar Bukan Sekadar Mengetahui
Pada akhirnya, Dead Poets Society mengajak kita untuk memikirkan kembali makna belajar. Pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak informasi yang dapat dimasukkan ke dalam kepala siswa, tetapi juga tentang bagaimana siswa dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk memahami dirinya dan dunia di sekitarnya.
Melalui perspektif Paulo Freire, cara mengajar Mr. Keating dapat dibaca sebagai kritik terhadap pendidikan yang terlalu menempatkan siswa sebagai penerima pengetahuan. Keating mencoba membuka ruang agar siswa dapat bertanya, berdialog, melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda, dan menemukan suaranya sendiri.
Namun, film ini juga mengingatkan bahwa kebebasan dalam pendidikan tidak pernah berdiri sendiri. Ada keluarga, sekolah, aturan, nilai sosial, dan berbagai bentuk kekuasaan yang ikut memengaruhi proses belajar.
Mungkin karena itu, pertanyaan yang paling penting bukanlah “Apakah siswa sudah belajar?”, tetapi “Apa yang sebenarnya terjadi ketika siswa belajar?”
Apakah mereka hanya menerima apa yang diberikan, atau mereka benar-benar diberi kesempatan untuk berpikir? Sebab pendidikan seharusnya tidak hanya membuat seseorang mampu mengatakan apa jawaban yang benar, tetapi juga memiliki keberanian untuk bertanya mengapa jawaban itu dianggap benar.
