Zaman Hidup, Alam Semesta Mati

(Undergraduate Student of Semarang State University) Mengarungi samudera kata, merajut konservasi alam dalam setiap benang kalimat.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Christine Septianing Ekaputri Prabowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika seseorang bertanya pada dirinya sendiri, “Bagaimana saya ada?’’ dalam kaitannya dengan alam semesta dan menjawab, ‘‘Saya ada entah bagaimana!” Dengan alasan seperti itu, manusia hanya akan menghabiskan hidupnya tanpa memikirkan alam semesta. Namun, dengan mengenal Penciptanya, manusia akan berusaha memahami tujuan untuk apa dirinya “diciptakan”.
Semakin modern dan canggih ilmu pengetahuan, semakin maju siklus waktu dan semakin beragamnya masyarakat. Manusia harus benar-benar memahami apa yang harus dilakukannya dan menggunakan akal sehatnya untuk mencapai kebaikan.
Transformasi hampir seluruh wilayah menjadi kota metropolitan menimbulkan adanya tuntutan akan gaya hidup yang semakin tinggi. Inovasi tak terbatas dilakukan secara membabi buta untuk mengejar kepuasan ego pribadi hingga menghempaskan alam semesta. Manusia tidak hanya merampas haknya sendiri, tetapi juga dengan gegabah mengambil sumber daya alam yang seharusnya menjadi hak juga bagi tumbuhan dan hewan, bukan hanya demi kepentingan duniawi semata.
Sebelum zaman hidup seperti sekarang, hubungan manusia dengan alam semesta lebih harmonis dan berkelanjutan. Alam semesta tersebut berkaitan dengan seluruh makhluk hidup yang tinggal bersama manusia. Manusia hidup dalam keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, bergantung pada alam untuk kebutuhan hidup dengan memahami pentingnya menjaga kelestarian alam, dan memperlakukan tumbuhan serta hewan dengan rasa hormat. Bagaimana ketergantungan manusia yang saling membutuhkan dengan elemen-elemen alam semesta?
Hubungan Manusia dengan Alam
Hubungan interaksi manusia dengan tumbuhan sangat penting dalam menjaga alam semesta ini karena memiliki dampak penting bagi keberlangsungan lingkungan. Tumbuhan tidak hanya memberikan sumber daya vital seperti makanan dan obat-obatan, tetapi juga memainkan peran kunci dalam menjaga ekosistem dan keseimbangan atmosfer melalui fotosintesis. Namun, aktivitas manusia seperti deforestasi dan polusi telah mengancam kelangsungan hidup tumbuhan dan keragaman hayatinya.
Hubungan Manusia dengan Hewan
Hubungan interaksi manusia dengan hewan juga merupakan hubungan kompleks yang tak terpisahkan. Hubungan manusia dan hewan dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utama:
Interaksi: Ini melibatkan pengaruh timbal balik antara manusia dan hewan di lingkungan alami. Contohnya adalah burung liar yang berkunjung ke pekarangan rumah mencari makanan yang diberikan manusia tanpa mengalami perubahan perilaku.
Domestikasi: Proses di mana manusia mengubah sifat dan perilaku hewan liar menjadi jinak sesuai keinginan melalui pembiakan selektif. Contohnya adalah proses domestikasi anjing untuk berbagai tujuan seperti penjagaan, pekerjaan, atau sebagai hewan peliharaan.
Ketergantungan: Kondisi di mana hewan bergantung pada manusia untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan mereka. Contohnya adalah ketergantungan hewan terhadap habitat yang dibagikan dengan manusia; jika habitat tersebut rusak atau diambil, hewan-hewan tersebut mungkin tidak memiliki tempat tinggal yang aman.
Namun, belakangan ini, keegoisan manusia berujung pada pemanfaatan hewan tanpa empati semakin marak terjadi. Kasus-kasus penganiayaan hewan menjadi sebuah urgensi yang sangat membahayakan ekosistem.
Keharusan Manusia dalam Menjaga Alam Semesta
Di tengah kehidupan yang semakin maju, diperlukan adanya kesadaran sebagai manusia untuk memahami bahwa alam semesta merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Alam semesta merupakan elemen yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan begitu pun sebaliknya. Keduanya saling melengkapi dan akan mengalami ketidakseimbangan ketika salah satunya tidak ada. Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup tidak boleh menjadi semakin kecil. Manusia memiliki tanggung jawab yang besar untuk melestarikan alam semesta agar zaman kehidupan terus hidup berdampingan dengan alam yang tetap hidup.
Namun, saat ini, interaksi manusia dengan lingkungan telah mencapai tahap di mana tindakan kita sangat berdampak terhadap ekosistem yang rumit dan rapuh. Perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan bahka polusi adalah tantangan nyata yang kita hadapi. Ketidakseimbangan akan semakin terasa jika tidak adanya kesadaran bahwa kita manusia dan makhluk hidup saling bergantung dalam jaringan kehidupan.
Hubungan manusia dan alam semesta tidak boleh hanya menimbulkan sebuah hubungan parasitisme. Manusia dan alam semesta harus menjadi sebuah hubungan mutualisme sebagaimana keduanya saling membutuhkan. Sebagai manusia yang berakal budi, hendaknya kita dapat menciptakan hubungan yang serasi, selaras, dan seimbang dengan alam. Berikut adalah penjelasan lebih lanjutnya:
Serasi: Manusia harus hidup seiring dengan alam, bukan menguasainya. Contohnya adalah penebangan hutan, Hal itu tentunya tidak boleh dilakukan secara asal untuk kepentingan pribadi saja, tetapi harus dengan penebangan selektif yaitu dengan menebang beberapa pohon tua dengan kayu terbaik saja dan membiarkan pohon yang muda tetap hidup.
Selaras: Keharmonisan dengan alam mencakup tindakan manusia yang mengikuti pola dan ritme alam. Menghormati keseimbangan alam dalam tindakan sehari-hari. Contohnya adalah membuang sampah pada tempatnya. Membuang sampah pada tempatnya merupakan tindakan yang baik untuk lingkungan, tetapi tidak boleh dilakukan dengan semena-mena seperti membuangnya di sungai karena akan merusak keseimbangannya.
Seimbang: Manusia harus hidup secara bertanggung jawab dan berkelanjutan dengan alam. Contohnya adalah penggunaan sumber daya alam, seperti pemanfaatan kayu untuk perabot rumah, harus diimbangi dengan upaya reboisasi untuk memastikan kelestarian sumber daya tersebut.
Meskipun alam memiliki kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri, tindakan manusialah yang membuatnya kehilangan kapabilitas tersebut. Oleh karena itu, di masa kini, kita harus memastikan bahwa alam semesta juga tetap hidup seiring dengan kehidupan manusia yang semakin hidup agar ketidakseimbangan yang fatal seperti kepunahan manusia tidak terjadi.
